Dedi Mulyadi : Pengobatan Tradisional Harus Setara Pengobatan Modern  

photostudio_1518856323972KARAWANG,eljabar.com — Suryana (57) merupakan seorang ahli tulang asal Kampung Poponcol, Desa Puseur, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.

Ahli tulang dengan metode pijat tradisional itu sudah terkenal khususnya di daerah Karawang, Purwakarta dan Subang. Akan tetapi, kondisi tersebut dia peroleh bukan karena promosi yang massif, melainkan karena testimoni dari mulut ke mulut.

Atas kemampuannya yang sudah berhasil menyembuhkan banyak pasien, Suryana pernah dikunjungi oleh dokter ortopedi dari London, Jepang dan Korea. Mereka tertarik untuk mempelajari metode pengobatan yang diterapkannya kepada pasien.

“Iya pernah juga dari luar negeri datang kesini. Jadinya, berbagi ilmu saja, saling diskusi. Kata mereka, metode saya ilmiah, hanya saja saya kurang paham bahasa medisnya,” katanya sambil berseloroh di kediamannya, Sabtu, (17/2).

Sambil merendah, Suryana mengaku hanya bermodalkan metode pijat biasa. Terkait kesembuhan yang diperoleh pasien, ia mengatakan itu merupakan anugerah dari Allah swt. Kuncinya, kata dia, cukup dengan keikhlasan hati saat mengobati dan tidak memasang target bayaran kepada pasien.

“Ini amanah dari Allah swt, kuncinya ikhlas saja. Jadi, tidak boleh pasang tarif, beberapa pasien yang kebetulan tidak memiliki ongkos pulang pun kita bantu ongkosnya,” ucap dia.

Dalam kunjungannya ke tempat praktik Suryana, calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai ahli pijat tradisional harus diberikan perhatian. Selama ini, kata dia, mereka kurang dilirik oleh pemerintah.

Padahal, para pelaku pijat tradisional juga menggunakan kaidah medis meski tradisional dalam upayanya menyembuhkan pasien.

“Potensi mereka ini besar, tapi kurang perhatian. Bayangkan saja, Pak Suryana sehari menangani 50 pasien, bahkan sekarang sudah punya asisten,” jelas Dedi.

Seharusnya, lanjut dia, pijat tradisional menjadi salah satu opsi pengobatan medis di rumah sakit. Cara ini sudah dilakukan di seluruh rumah sakit di negeri Cina. Pasien diberikan dua opsi pengobatan yakni jenis pengobatan modern atau pengobatan tradisional.

“Cina itu besar karena menghargai hal-hal yang bersifat tradisi. Kita tahu sendiri, pengobatan herbal dan tradisional ala Cina itu murajabnya seperti apa. Saya yakin, Indonesia memiliki kearifan yang lebih dari itu dalam menerapkannya,” tegasnya.

Para ahli pengobatan tradisional di Indonesia, khususnya di Jawa Barat menurut Dedi, harus diberikan akses fasilitas yang sama dengan klinik modern. Ini dilakukan dalam rangka menunjang kenyamanan pasien yang menggunakan jasa mereka untuk berobat.

“Mereka harus difasilitasi, harus setara dengan klinik modern agar mereka bisa berkembang hingga mancanegara,” katanya. (*)

Categories: Kabupaten Karawang,Megapolitan