Bangunan SDN Lapuk dan Kekurangan Ruang Kelas tak Diperhatikan Pemerintah?

KAB. BANDUNG, eljabar.com,- Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 17 tahun 2017, di antaranya Pasal 24 berbunyi, jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar SD dalam satu kelas berjumlah paling sedikit 20 peserta didik dan paling banyak 28 peserta didik. Namun, kenyataanya sekolah laksana gerbong kereta api, diisi 35, 40 hingga 45 orang per ruang kelas, sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak nyaman.

Ironisnya, mendikbud mengeluarkan Permendikbud Nomor 17 tahun 2017 Pasal 24 itu tidak dibarengi bantuan sarana RKB. Tak ayal, hal itu dikeluhkan kepala sekolah di Kab.Bandung.

Salah seorang kepala SDN yang meminta tidak disebutkan namanya mengaku, memiliki 7 ruang kelas, namun harus melayani 700 orang lebih peserta didik, sehingga KBM dilakukan tiga shif, yaiti pagi, siang dan sore hingga jam 17.00 wib seperti pabrik.

“Padahal, kami sudah mengajukan permohonan RKB melalui proposal, namun tidak ditanggapi oleh pemerintah. Saya juga pernah menanyakan ke pegawai sarana Disdik Kab. Bandung, dia menjawab SDN ini harus dibangun RKB melalui dana dari pusat,” papar sumber setengah menirukan ucapan pegawai sarana Kab. Bandung.

Di tempat berbeda, kepala SDN lainnya saat ditemui Senin (7/5/2018) mengaku kekurangan ruang kelas karena hanya memiliki 4 lokal. Itu pun sudah lapuk dimakan usia. Plapon keropos dan bocor. Sedangkan wajib melayani 260 siswa. Akibatnya, sekolah terpaksa melaksanakan KBM pada pagi dan siang.

“Dengan demikan, tentunya sekolah kami kekurangan ruang kelas dan perlu melakukan rehabilitasi,” ujarnya. (A56)

Categories: Uncategorized