Pertanian Jagung di Cicalengka Terancam Punah, Ini Ceritanya

Laporan : Kiki Andriana

KAB. BANDUNG, eljabar.com — Pertanian jagung di Desa Marga Asih, Kecamatan Cicalengka. Kabupaten Bandung terancam punah. Pasalnya, lahan pertanian seluas puluhan hektare tersebut kini sudah mulai akan beralih fungsi untuk dijadikan permukiman.

Sementara itu, Didin (50) seorang anggota Kelompok Tani (Nurkam) yang juga seorang warga asal Kp. Camtel, Desa Marga asih, Kecamatan Cicalengka mengatakan lahan yang kami garap seluas 25 hektare. Namun saat ini luasnya terus berkurang karena pemilik tanahnya menjualnya untuk dijadikan permukiman.

“Kelompok tani Nurkam, biasanya menggarap lahan seluas 25 hektare yang di tanami komoditas jagung kikil. Sejak munculnya program pembangunan perumahan yang digalakan pemerintah. Lahan pertanian kini banyak yang di jual untuk proyek perumahan. Masyarakat lebih memilih menjual tanahnya ketimbang menanaminya,” kata dia kepada eljabar.com saat ditemui di lokasi, Sabtu (1/9/2018).

Masalah lahan pertanian jagung yang dialami Kelompok Tani Nurkam yang berlokasi di Kampung Cantel, Kampung Garogol, blok gempur. Blok 9, memang sudah berlangsung lama. Sebagian besar tanah-tanah di kampung tersebut sudah menjadi hak milik orang lain. “Kebanyakan tanah warga sudah di jual ke orang Bandung, dan masyarakat jadi penggarap saja,” sebutnya.

Kendala lainnya pun, menurut Didin, terkait dengan produktifitas jagung adalah saat musim kemarau seperti saat inu. Pada musim ini, petani jagung tidak dapat berbuat banyak. “Kalau musim kemarau kita berhenti bertanam jagung,” pungkasnya.

Kendati bantuan dari pemerintah untuk bibit dan lainnya sudah ada. Namun, lanjut Didin, belum dapat ditanami, karena kondisi lahan pertanian yang kering. Akibatnya, petani hanya diam dan menunggu hujan turun.

“Kita nunggu musim penghujan saja, untuk mulai menanam jagung, bibit pun belum diberikan kepada anggota kelompok tani,” katanya.

Kendati demikian, ditambahkan Didin, ada sedikit harapan dari kelompok taninya untuk tetap bertahan. Sebab, ada sumber mata air yang tak pernah surut kalau musim kemarau tiba. “Di lahan kita ada sumber mata air yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian,” katanya.

Namun, sumber mata air tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Baru sebagian lahan persawahan saja yang dapat memanfaatkannya. “Kalau untuk sawah-sawah masih dapat terairi dengan sumber mata air tersebut. Kalau untuk perkebunan air perlu ditarik keatas karena posisinya di bawah,” kata dia. (*)

Categories: Ekonomi