Ini Keluh Kesah Pelaku Industri Tekstil di Majalaya yang Babak Belur

Laporan : Kiki Andriana

KAB. BANDUNG, eljabar.com — Kenaikan harga bahan baku tekstil seperti bemang sebesar 40 % yang diakibatkan menguatnya dollar terhadap rupiah dikeluhkan oleh sejumlah pengusaha Industri tekstil di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sejumlah pebisnis tekstil di Majalaya kini terancam gulung tikar.

photostudio_1536493998554Dalam keterangannya kepada eljabar.com, pemilik PT. Hamijar Texindo, Aef Hendat Cahyad (54) mengatakan lesunya industri tekstil di Kecamatan Majalaya terlepas dari adanya monopoli dari Asosiasi Produsen Benang, bahkan pemerintah pun cenderung menutup mata.

“Jujur saja pengusaha tekstil di Majalaya itu bisa dikatakan lebih dari mandiri, kami tanpa pengawalan dari pihak pemerintah, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” ujar Aef kepada eljabar.com saat ditemui di kediamannya, di Jl. Sukamanah, Kec. Majalaya, Kabupaten Bandung, Minggu (9/9/2018).

Aef menerangkan, Selama saya berkecimpung dalam bisnis tekstil belum pernah mengalami separah saat ini. Kalau dipaksakan terus seperti ini kita pasti merugi terus, terkecuali jika harga bahan baku stabil kita pun bisa menyimpan hasil produksi, kita bisa bertahan selama empat bulan lamanya.

Saat ini, lanjut Aef, perlu adanya tindakan yang nyata dari pemerintah, “Jika pemerintah mau care kepada pelaku UKM seperti kami ini, pemerintah membeli produk kami atau memberikan subsidi kepada kami. Tentunya agar bisa menyelamatkan pengusaha dari kebangkrutan yang tentunya akan berdampak terjadinya pengangguran massal,” terangnya.

“Selama ini keluhan kami hanya di dengarkan saja oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat, pemerintah hanya meminta keluhan dari kami saja, tetapi tidak ada solusi,” bebernya.

Selain itu, mengenai harga bahan baku seperti benang, kami telah dimonopoli oleh Asosiasi Produsen Benang, “Harga bahan baku dikendalikan sekali oleh produsen benang. Selama ini tidak ada pengawasan dari pemerintahan terhadap para produsen benang, tidak ada kontroling harga, tidak ada standar harga bahan baku yang dikeluarkan oleh pemerintah,” katanya.

Kami berharap kondisi menguatnya dollar terhadap rupiah saat ini jangan dijadikan azas manfaat oleh Asosiasi Produsen Benang, Penjualan mereka sudah seenaknya saja, “Jika dollar menguat mereka menjualnya ke luar negeri, tetapi jika nilai dollar melemah, mereka menjualnya di dalam negeri. Ya kalau Asosiasi mah untung, tetapi yang rugi kita sebagai konsumen mereka. Kendati demikian, kami berharap adanya pengawasan harga bahan baku oleh pemerintah,” harapnya.

Sementara itu, Agus Ruslan (50) salah satu pengusaha tekstil lainnya di Majalaya, menuturkan dalam dua tahun kebelakang, jumlah pelaku UKM di Majalaya yang terdaftar sebanyak 56 UKM, yang meliputi produsen sarung sekitar 80 % dan sisanya adalah produsen kain putihan.

Saat ini, menurut Agus, “Bagi kami sebagai pelaku UKM, meroketnya harga benang sangat dilematis, kami cendering telah kesulitan membeli bahan baku seperti benang, apalagi kondisi sekarang dollar menguat terhadap rupiah, oleh mereka bahan bakunya di eksport semua, kalaupun ada harganya tinggi,” bebernya.

Ditambahkan Agus, pada tahun 1998 juga pernah terjadi kondisi seperti ini, namun saat itu masih ada solusi dari pemerintah, makanya masih ada kestabilan harga jual. “Yang kami rasakan, pemerintah sekarang hanya memberikan ruang kepada kami hanya disarankan untuk mengikuti seminar saja, perintah melalui dinas terkait hanya mendata permasalahan kepada kami. Namun saat ini pemerintah tanpa memberikan solusi kepada kami. Tentunya, kami berharap kepada pemerintah untuk segera turun tangan kepada permasalahan ini, bahkan harus ada regulasi khusus tentang aturan penjualan bahan baku,” harapnya. (*)

Categories: Ekonomi