PHK Menghantui Ribuan Karyawan Pabrik Tekstil di Majalaya

Laporan : Kiki Andriana

KAB. BANDUNG, eljabar.com — Menguatnya dollar AS terhadap rupiah dirasakan berat oleh sektor tekstil. Imbasnya, ratusan ribu karyawan tekstil di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat terancam di PHK secara massal.

“Saat ini industri pemintalan benang (spinning) tengah lesu. Hal ini disebabkan oleh daya beli pasar yang rendah dan diakibatkan juga dengan tingginya harga bahan baku seperti benang,” kata salah satu pengusaha tenun (PT. Hamijar Texindo), Aef Hendar Cahyad (54) kepada eljabar.com saat ditemui di kediamannya, di Jl. Sukamanah, Kec. Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (9/9/2018).

Aef Hendar Cahyad (54), pemilik PT. Hamijar Texindo.
Aef Hendar Cahyad (54), pemilik PT. Hamijar Texindo.

Selain itu, menurut Aef, lesunya produksi tekstil khususnya di Majalaya diakibatkan juga oleh menguatnya dollar terhadap rupiah, Menurut dia, Setelah Idul Fitri kemarin harga bahan baku seperti benang sudah mengalami dua kali kenaikan. Sebelumnya harga benang hanya Rp 25 ribu per kilo gramnya. Namun, setelah lebaran hingga detik ini harga benang telah mencapai Rp 35 ribu per kilo gramnya, bahkan kemungkinan besar kenaikan harga pun akan mencapai Rp. 40 ribu per kilo gramnya,” bebernya.

Saya hanya memiliki 100 mesin tenun, dalam satu bulan, kebutuhan benangnya hanya 10 Ton hingga 15 Ton. Jadi, lanjut Aef, jika dikalkulasikan setiap kali saya belanja bahan baku saya harus menambah modal Rp 100 juta rupiah, bayangkan saja disisi lain harus menambah modal, namun hasil kerja kita terus nyusut.

“Kita nambah modal, namum dengan kenaikan itu pasar tidak menerima. Jika harga pasar bisa mengikuti, kita juga akan bisa eksis. Namun jika pasar tidak bisa menerima, ya pasti kita terpaksa berhenti produksi dan karyawan pun dirumahkan,” kata dia.

Terkecuali, menurut Aef, hasil produksi kita tahan dulu dan di pasar dikosongkan dulu, tetapi kuat tidak kitanya, kekuatan kita itu terbatas.

“Sekarang bahan baku dibeli dengan mahal sedangkan penjualan tidak layak. Ya otomatis kita akan makan daging. Kini, Lanjut Aef, Pasar sudah titik klimak, mungkin minggu depan atau dua minggu lagi para pengusaha textile di Majalayaakan merumahkan karyawannya,” terangnya.

Hal senada dikatakan Agus Ruslan (50) pengusaha tekstil di Kecamatan Majalaya lainnya mengatakan dengan menguatnya dollar terhadap rupiah telah berdampak kepada harga bahan baku seperti benang. “Bila bahan bahan baku terus meroket, kami pun tidak bisa membelinya,” kata dia.

“Saat ini estimasi jumlah karyawan pabrik tekstil di Majalaya kurang lebih dikisaran ribuan jiwa, bahkan masyarakat yang terlibat di dunia tekstil pun banyak. Bila pemerintah tidak segera turun tangan menangani permasalahan ini, Maka akan berpotensi PHK massal dan otomatis efek dominonya akan lebih banyak,” cetusnya. (*)

Categories: Ekonomi