LIPI Berikan Solusi Pengolahan Limbah Tahu Sumedang

Kiki Andriana

SUMEDANG, eljabar.com — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) dengan dukungan dari Nanyang Technological University  Singapura menyerahkan unit dan pengolahan limbah limbah cair kepada pengrajin Tahu Sumedang, tepatnya kepada warga Dusun Giriharja, Desa Kebon Jati, kabupaten Sumedang, Jawa Barat, di Gedung Negara Sumedang, Rabu (26/9/2018).

Pantauan kami di lokasi, penyerahan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Anaerobik tersebut dihadiri oleh Gubeenur Jawa Barat Ridwan Kamil dan penyerahan IPAL Anaerobik tersebut lantaran industri kuliner Tahu Sumedang dianggap telah menghadapi masalah dalam pengelolaan limbah cair yang berbahaya terhadap lingkungan

Sementara itu, Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI, Sri Priatni mengatakan, Tahu telah menjadi ikon wisata kuliner di kabupaten Sumedang, Jawa Barat sejak 100 tahun lalu, dan juga Industri tahu merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah organik berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berasal dari proses penyaringan dan penggumpalan, sedangkan limbah cair dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pemadatan, hingga pencetakan tahu yang membuat volume limbah cair menjadi lebih tinggi.

Limbah cair tahu mempunyai pH rendah, berkisar di angka 4-5 di bawah ambang batas normal 7, dan mempunyai senyawa-senyawa terlarut yang apabila langsung dibuang dapat mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar.  Selain itu, limbah cair tahu mempunyai bau busuk yang menyengat. “Kondisi ini membuat limbah tahu berbahaya karena dapat merusak kualitas air sungai serta mengganggu warga sekitar,” kata dia kepada sejumlah wartawan saat ditemui di Gedung Negara Sumedang.

Oleh karena itu, menurut Sri Priatni, memacu inisiatif LIPI untuk memberikan solusi alternatif pengolahan limbah tahu secara anaerobic yang mampu menghasilkan energi alternatif berupa biogas.” Giriharja dipilih karena dukungan yang tinggi dari masyarakat setempat yang beprofesi sebagai pengrajin tahu. “Masyarakat setempat mendukung dengan menyediakan lahan dan sekaligus ikut aktif berperan dalam pengelolaan IPAL,” tambah dia.

Senada dikatakan, peneliti bidang pengolahan limbah dan pencemaran lingkungan LPTB LIPI, Neni Sintawardani, pengolahan limbah cair tahu dilakukan dengan mekanisme anaerobik. “Limbah diproses dengan mekanisme anaerobik di mana mikroba tidak bisa hidup bila ada udara sehingga harus tertutup. Limbah tahu yang punya kandungan organik tinggi akan diuraikan oleh mikroba menjadi metana dan karbon dioksida atau yang dikenal sebagai energi biogas,” kata dia.

“Kami juga membenahi sistem pengaliran air limbah di pabrik tahu sehingga dapat memisahkan limbah cair pekat dengan limbah cair encer,” terang Neni.

Keseluruhan limbah cair dari 9 pabrik tahu skala kecil-menengah di dusun Giriharja disalurkan ke IPAL anaerobik. Teknologi yang dikembangkan tim LIPI ini bisa mengantisipasi fluktuasi limbah yang umum terjadi di industri tahu skala pengrajin.

Dengan kapasitas produksi tahu mencapai 3 ton kedelai per hari dari 9 pengrajin tahu, IPAL Anaerobik ini mampu memproses limbah cair pekat sebanyak 24 meter kubik per hari. “Dari situ dapat dihasilkan biogas 300 meter kubik per hari yang disalurkan ke 89 rumah tangga di Giriharja untuk kebutuhan memasak harian,” cetusnya.

Pengelolaan IPAL Anaerobik ini nantinya akan dijalankan secara mandiri oleh warga yang sudah membentuk Kelompok Pengrajin Tahu Giriharja yg diharapkan bisa menambah nilai guna dari unit tersebut. “Inisiasi IPAL Anaerobik ini awalnya berasal dari masyarakat Giriharja yang peduli kelangsungan kelestarian lingkungan. Kedepannya, sebagian produks biogas ini akan disalurkan ke sistem pembangkit listrik sederhana untuk memenuhi kebutuhan listrik untuk operasional IPAL Anaerobik,” pungkasnya. (*)

Categories: Nasional