Pengembangan Wawasan, ITB Berikan Penyuluhan Kepada Petani Kopi

SUMEDANG, eljabar.com — Guna mengembangkan wawasan para petani Kopi, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat ITB melakukan penyuluhan kepada para petani Kopi di sekretariat Komunitas Petani Gugel Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor, Rabu (26:09/2018).

Ketua Tim Program Pengabdian kepada masyarakat ITB, Yayat Hidayat mengatakan tahun ini ITB memiliki penyuluhan untuk pengembangan petani kopi di lahan konservasi yang ada di Gunung Geulis.

Sebagaimana diketahui kopi merupakan barang komoditi yang laku dipasaran. Namun karena minimnya pengetahuan Petani sehingga banyak petani kopi yang malah rugi.

“Nah berangkat dari itu kita bantu para petani khususnya petani kopi untuk bisa mengembangkan kopi dari mulai pembibitan, tanam hingga panen. Bahkan kita bantu promosinya dan pemasarannya,” kata Yayat.

ITB, kata dia ingin memberdayakan masyarakat petani kopi secara benar. Tidak hanya orientasi ekonomi tapi ekologi. Jadi meskipun secara ekonomi menanam kopi sangat menjanjikan tapi dari segi ekologi (lingkungan) masyarakat harus memperhatikan dampak lingkungan nya.

“Kalau ekologinya diperhatikan tidak mungkin merusak lingkungan. Sebagai contoh daerah tebing tidak cocok ditanami umbi-umbian karena ketika panen tanah akan terangkat dan terbawa hujan sehingga terjadi longsoran atau lumpur tanah,” katanya.

Berbeda dengan kopi, cengkeh, lada ketika memanen tidak mengganggu tanah sehingga baik untuk lingkungan.

Menurut dia, kendala para petani kopi yakni sari perawatan dan pengelolaannya. Semisal tanaman kopi kurang baik ditanam di tanah kering atau tersinari langsung matahari. Sehingga di lahan perkebunan kopi harus ada pohon peneduh agar tanaman kopi tidak tersinari terus matahari.

“Selain itu dari segi pengelolaan, misalnya penggilingan kopi, penjemuran, hingga menjadi bubuk kopi ada tata caranya. Jangan sampai aroma kopi khas Jatinangor nya hilang karena pengolahannya kurang baik,” bebernya.

Kopi yang baik, lanjut dia, memiliki kekhasan atau indeks geografis. Sehingga akan memiliki aroma dan citarasa yang khas. Termasuk pemilihan bibit kopi.

Dan disini bibit kopinya masih dari daerah lain, sehingga sulit membedakan mana kopi Gunung Geulis mana bukan. Insyaallah kedepannya kita akan akomodir kopi yang benar-benar dari Gunung Geulis.

ITB sendiri, lanjut dia diberikan kewenangan oleh Pemprov Jabar untuk mengelola lahan seluas 338 ha. Terbagi 200 Ha lahan kopi dan sisanya lahan tegalan.

“Lahan tegalan sendiri meliputi 8 desa, yakni Jatiroke, Jatimukti, Cisempur, Cinanjung, Sawahdadap, Raharja, Cikahuripan dan Mangunarga,” katanya.

Sementara itu Ketua Forum Komunikasi Gunung Geulis sekaligus ketua Komunitas Petani Gugel Saepudin menambahkan banyak potensi yang bisa digali oleh para petani. Namun kurangnya wawasan akan ilmu tani menyebabkan petani kesulitan mencari penghasilan.

“Jadi komoditi petani di Gunung Geulis selain kopi, tembakau juga ada buah buahan seperti Nangka, Alpukat, Mangga. Yang terpenting petani bisa menerapkan Pola agroporestri sehingga ada nilai ekonomi dan ekologinya,” katanya.

Disebut Ekologi ekonomi sosial berbasis konservasi. Sehingga membawa petani dan lingkungan ke arah keseimbangan lingkungan. Saat ini, kata Saepudin ada 33 anggota komunitas petani Gugel dan sudah mendapatkan pembinaan sejak 2012.

“Dari tanaman kopi saja sekali panen sampai 8 ton. Belum lagi kalau pemeliharaan dan perawatannya baik, akan menghasilkan panen melimpah,” katanya.

Selain tanaman produktif, kerjasama antara ITB dan Komunitas Petani Gugel sudah menyebar sekitar 6000 bibit pohon dan sudah ditanam. Karena lahan konservasi sehingga petani di Gunung Geulis sangat menjaga ekosistemnya. (Abas)

Categories: Ekonomi