You are here: Home » Jawa Barat » Cerita Kang Dedi Mulyadi Ngabuburit Bareng  Warga Sukabumi

Cerita Kang Dedi Mulyadi Ngabuburit Bareng  Warga Sukabumi 

photostudio_1497302183907Sukabumi,eljabar.com — Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi memiliki cara tersendiri 
untuk menunggu waktu berbuka puasa. Hari ini, Senin (12/6), ia tampak
hadir dalam kegiatan “Ngabuburit” di tengah warga Desa Sekarwangi,
Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.
Kegiatan “Ngabuburit” yang sudah menjadi tradisi masyarakat Sunda ini,
diisi oleh lomba hafalan al Qur’an. Uniknya, hanya dua kategori usia
yang berhak mengikuti lomba yang diselenggarakan secara spontan ini,
yakni kategori anak-anak dan janda tua. Para peserta dan warga yang
hadir, tampak antusias menyaksikan lomba tersebut.
Kang Dedi, sapaan akrabnya, tampak haru saat mendengar anak-anak Desa
Sekarwangi melantuntan hafalan surat pendek dari al Qur’an. Keharuan
tersebut membuat dirinya menitikan air mata.
“Luar biasa, anak-anak ini melantukan ayat suci dengan merdu meskipun
usia mereka masih belia. Alhamdulillah,” ungkapnya lirih.
Para janda tua pun turut menambah keharuan dalam kegiatan tersebut. Dedi
tampak memberikan hadiah kepada para peserta yang dinilai mampu
menghafal surat pendek dengan baik.
“Ini hadiahnya, lumayan kan buat lebaran,” singkatnya sambil menyerahkan
uang ratusan ribu kepada para pemenang.
Bagi warga Desa Sekarwangi, sosok Dedi bukanlah orang asing. Sebelumnya,
ia diketahui sempat menghadiri sebuah kegiatan seni tak jauh dari desa
tersebut. Dalam kegiatan yang dimaksud, ia kerap menggandeng pelawak
Sunda, Ohang dan penyanyi berdarah Cirebon, Charly van Houten untuk
memeriahkan acara.
“Kalau Kang Dedi mah kami sudah kenal, pernah datang ke desa tetangga,
ramai sekali waktu itu,” ungkap Asep (35) usai kegiatan lomba hafal
surat pendek.
Usai lomba, Dedi yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta
untuk periode yang kedua sempat menjelaskan makna ibadah puasa. Dalam
pemahaman yang dia miliki, puasa merupakan momentum untuk melakukan
kontemplasi ke dalam diri sendiri.
Hal ini menurut dia, jarang sekali difahami oleh sebagian besar kalangan
yang meributkan soal menu makanan sahur ataupun berbuka.
“Kalau puasa itu, jangan pernah meributkan makanan, suplemen, karena
esensinya bukan itu, puasa itu momentum bagi kita untuk berkontemplasi
dan mentafakuri diri, banyak-banyak beribadah dalam rangka pengendalian
diri,” pungkasnya. (*)

3,200 total views, 1 views today