You are here: Home » tajuk » Independen dan Perseorangan

Independen dan Perseorangan 

12885864_10206317091901509_422247640540626093_o_1Oleh : Fajar Budhi Wibowo, M.Si.
BILA kita lihat seperti halnya daerah daerah lain, 2017 bagi Kota Cimahi merupakan Pemilukada kali kedua yang akan diramaikan dengan keberadaan calon independen/perseorangan dan merupakan fenomena yang menarik dalam melihat perkembangan demokrasi di Kota Cimahi.
Jalur independen atau perseorangan ini adalah calon yang maju di luar usungan partai politik (parpol).
Pada dasarnya keberadaan calon independen/perseorangan di Kota Cimahi adalah sebagai bentuk peningkatan kualitas demokrasi dan kualitas Pilkada, sebagai sarana sirkulasi elit dalam pemerintahan lokal di Kota Cimahi.
Namun orang-orang yang menjadi kandidat kepala daerah dari jalur luar parpol itu, pantasnya disebut calon INDEPENDEN atau PERSEORANGAN ?
Penulis berfikir, artikulasi dan makna kata independen dan perseorangan ini, perlu mendapat ketegasan dan kejelasan, mengingat makna filosofis keberadaannya.
Pemakaian kata INDEPENDEN ini bisa memiliki makna istimewa dan special, jika calon-calon yang diusung dengan label independen ini, dengan sebenar-benarnya merupakan representasi kepentingan publik yang dimunculkan. Benar-benar kemunculannya diusung dan didasari oleh keinginan masyarakat.
Tentunya masyarakat memilih para figur calonnya berdasarkan kajian komperhensif, baik dinilai dari segi ketokohan, kepribadian maupun kepercayaan serta lain sebagainya oleh publik terhadap figur-figur yang ada dan terjaring. Barulah di sebut kandidat Jalur Independen, karena bebas dan merdeka dari kepentingan pribadi.
Bila figur yang mengaku maju dijalur independen ini tidak memenuhi kriteria yang penulis sebutkan diatas, dan majunya itu atas keinginan dan kepentingan pribadi, misal karena dia merasa memiliki populatitas dan finansial cukup atau calonnya adalah kader kader partai yang kalah bersaing dalam partainya untuk menjadi kandidat yang diusung oleh partai yang bersangkutan, maka cukup diberi label sebagai “KANDIDAT/CALON DARI JALUR PERSEORANGAN” saja, sebagaimana istilah formal yang disebutkan dan diatur dalam undang-undang pilkada yang ada di Indonesia. JALUR PERSEORANGAN jangan dikatakan JALUR INDEPENDEN.
Dan menyikapi tentang parpol, ada beberapa kadernya yang merasa memiliki pandangan dan pensikapan yang khusus kepada jalur independen atau jalur perseorangan ini. Ada yang menganggap ancaman yang membahayakan atau bahkan ada juga yang menganggap sebagai lelucon dan terkesan direndahkan, serta tidak diperhitungkan keberadaan.
Sebenarnya menurut penulis, para loyalis partai tidak perlu risi apalagi ketakutan dengan keberadaan calon independen/perseorangan ini. Bahkan kalau bisa, jangan merendahkan keberadaan mereka.
Apalagi ketika kita lihat di sisi lain adalah Pilkada ini merupakan ajang kompetisi antar parpol untuk berebut kekuasaan. Ditambah dengan adanya jalur independen/perseorangan, menurut penulis, sama saja.
Mengenai pergerakan calon independen atau perseorangan ini dalam Pilkada, tidak jarang jalur independen/perseorangan bisa memenangkan pertarungan dalam Pilkada.
Sehingga menurut hemat penulis, keberadaan jalur independen/perseorangan ini perlu diperhitungkan dan jadikan motivasi agar partai-partai lebih lebih solid, lebih mempercantik diri, lebih tebar pesona. Baik itu yang melakukakan pengusungam calon dari satu partai, ataupun koalisi partai.
Dengan adanya calon kepala daerah yang maju dari jalur independen ataupun diusung parpol, yang akan bersaing (semoga persaingannya sehat) masing-masing akan melakukan pencitraan secara masif. Apalagi para calon yang diusung partai, mereka akan menginginkan agar masyarakat bisa tetap memilih dan mempercayai kandidat dari parpol, dibanding independen/ perseorangan.
Namun demikian, penulis ingin memberikan motivasi pada para kandidat yang maju di jalur independen/perseorangan, untuk tidak berkecil hati. Bila memang memiliki kapasitas, kualitas dan popularitas yang mumpuni, percaya dirilah. Masyarakat akan menilai dan tidak menutup kemungkinan jalur perseorangan/independen akan memenangi pertarungan.
Mengenai kepentingan pencalonan, seperti yang telah kita ketahui bersama dan sering didengar oleh kita semua (meskipun terkadang ada kesan artifisial) bahwa “KATANYA” Pilkada merupakan jalan untuk memenangkan kepentingan rakyat. Semoga saja benar.
Bila orang orang parpol yang bicara seperti itu, apakah mereka bisa mengedepankan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan partai politik tersebut? Atau para calon independen/perseorangan dapat melepaskan ambisi dan kepentingan pribadinya, bila nanti dia menang? Penulis berharap, semoga bisa.
(Penulis, Pengamat Politik)

467 total views, 1 views today