You are here: Home » Priangan » Kabupaten Bandung » Ini Riwayat Penjualan Tanah Enuk Wawa yang Kini Besengketa

Ini Riwayat Penjualan Tanah Enuk Wawa yang Kini Besengketa 

 Foto diambil saat ahli waris Enuk Wawa merobek Baligo pembangunan Mesjid PT. Alkanz Putra Mahkota di lokasi proyek

Foto diambil saat ahli waris Enuk Wawa merobek Baligo pembangunan Mesjid PT. Alkanz Putra Mahkota di lokasi proyek

Kab.BANDUNG, eljabar.com – Penjelasan Wawan Hermawan selaku menantu dari Alm. Enuk Wawa yang dituding melakukan pemalsuan tanda tangan surat kuasa oleh ahli waris Enuk Wawa atas penjualan tanah yang kini menjadi proyek perumahan PT. Puri Mahkota Residence yang berlokasi di desa Ganjar Sabar, Kec.Nagreg, Kab.Bandung.

“  Kepada kami Wawan Hermawan membeberkan proses penjualan tanah tersebut, pihaknya menuturkan, “ pada awal tahun 1996 saya mendengar dari karyawan saya bahwa lahan yang digunakan untuk memproduksi bata merah tersebut akan dijadikan proyek perumahan, beberapa bulan kemudian saya kedatangan paman dari istri saya ( Alm. Ojak ) beliau menanyakan kepada saya dan istri saya, “ Apa kalian berdua sudah menerima uang dari Ibu Enuk Wawa, Jawab kami, uang apa mang, lalu Ojak mengatakan ,“ itu uang dari hasil penjualan tanah yang Wawan pakai membuat bata hingga kebun jeruk.“ Sebutnya.

Esoknya, menurut Wawan, ibu saya ( Enuk Wawa_red) mengatakan, bahwa tanah tersebut akan dibeli oleh Dadang Sugiatna, untuk dijadikan perumahan dan pada saat itu juga ibu kami memberikan uang kepada istri saya sebesar  225 rb, dan beliau pun mengatakan bahwa beliau telah menerima uang pengikatan jual beli dari Dadang Sugiatna sebesar 5 jt, dan perlu diingat oleh semua ahli waris Enuk Wawa, bahwa tanah kekayaan inu Enuk Wawa sejak Bpk. Darmita meninggal dunia, bahwa tanah tersebut dikuasai oleh kakak ipar saya yang bernama Wawa Kartawa, dan musyawarah jual beli pun terjadi dengan Dadang Sugiatna, yang hadir saat itu, Enuk Wawa, Wawa Kartawa, Tatang Setiawan, Alm. Dadang Sugiatna selaku pembeli.“ Kata Wawan Hermawan, kepada eljabar.com, saat ditemui di Nagreg, Kab.Bandung, Selasa (19/12/2017).

Setelah istri saya menerima uang sebesar  225 ribu, lanjut Wawan, tidak lama ibu saya kembali datang kerumah saya dan memberikan uang sebesar 750 ribu, dan beberapa hari kemudian, kami kedatangan orang yang mengaku sebagai Staf PT. Adi Prawira Gita Persada, Yakni, Narko, Pujo, Syafiar, mereaka pun bertanya, berapa Pak. Wawan kami harus memberikan ganti rugi atas rumah dan perusahaan bata merahnya, lalu saya jawab, Saya meminta 75 jt, akhirnya negosiasi pun jatuh singkat pada harga 25 jt, beberapa hari kemudian saya diundang oleh PT.APGP di Bandung, dan mereka pun membayar lunas untuk pembayaran ganti rugi rumah dan bangunan perusahaan milik saya. dan mereka menyapaikan akan segera menurunkan Bulldozer ditanah tersebut, setelah Bulldozer beroperasi, adik saya yang bernama Deden Suhartono mengamuk sambil mengacungkan golok dan mengancam kepada operator untuk menghentikan Bulldozer, setelah itu Deden mendatangi kakak ipar saya yang bernama Wawa Kartawa, ia pun mengamuk, memukul dan menendang Wawa Kartawa, dia merasa dibohongi oleh Wawa Kartawa, menurut keterangan Deden kepada saya bahwa dia tidak diajak bermusyawarah penjualan tanah tersebut, setelah terjadi kreributan, akhirnya Enuk Wawa kembali membagikan uang kepada seluruh anaknya termasuk istri saya, masing masing 2.5 Jt.“ Ujarnya

Lalu, menurut Wawan, Enuk Wawa mengatakan keada saya bahwa masi ada tagihan sebesar 57 Jt di PT. APGP, saat itu saya tidak berani menanyakan tentang harga penjualan tanah tersebut, karena kapasitas saya hanya sebagi menantu, Selanjutnya, Enuk Waw kembali memberikan kepada seluruh anaknya sebesar 2.5 Jt, hingga Bulldozer kembali beroperasi, kemudian saya didatangi oleh Wawa Kartawa dan Dadang Sugiatna, mereka mengatakan bahwa kita masih ada tagihan di PT. APGP sebesar 57 Jt, lalu Dadang Sugiatna mengatakan lagi bahwa Kang Wawa punya hutang kepada orang lain 10 Jt., mereka meminta tolong kepada saya untuk menyampaikan kepada saudara ipar lainnya, jadi sisa uang sebesar 47 Jt, karena telah dipotong hutang kang Wawa, beberapa menit kemudian datang Tatang Setiawan bertanya kepada Dadang Sugiatna, Dadang pun bertanya, Kang Wawan bagaimana kalau uang sisa supaya tidak habis akan dibelikan truk sebanyak 2 unit sebesar 40 Jt, jawab saya “ Terserah Dadang, namun akan saya musyawarahkan kepada ipar ipar saya.“ Tandasnya

Selanjutnya, saya sampaikan rencana mereka bertiga kepada ipar saya yang lainnya, akhirnya terus terang saya dan ipar saya merasa ragu, tetapi keraguan Itu terhapus dengan rasa takut, akhirnya kami pun menyetujuinya, selanjutnya pada tahun 1996 kami datang kerumahnya bersama seluruh ipar kami dan dirumah Dadang sudah ada tiga orang dari PT. APGP, pada saat itu uang sebesar 57 Jt dibayar lunas kepada kami oleh yang bernama Syafiar, pada saat pembayaran tersebut dan penanda tanganan dilakukan oleh saya dan disaksikan oleh Enuk Wawa, dan ipar saya, yakni,  Dede Kodariah, Wiwi Kartiwi,     Ai Kurnia, Entin Kartini, Neneng Rokayah, Zaenal Mahdar, Dana Harja, Asep Iskandar, Pupun Punasih, Deden Suhartono, Dadang Sugiatna, Teli Dorotea,

Setelah pihak ADGP pulang, Dadang mengajak kami kerumahnya, lalu dia menanyakan uang tersebut, mana kang Wan uangnya, uangnya pun saya berikan kepada Dadang dihadapan seluruh adik dan kakak ipar saya, uang sebesar 57 Jt tersebut diambil kang Wawa untuk bayar hutang 10 Jt, yang 40 Jt oleh Dadang, itupun atas kesepakatan seluruh ahli waris., 7 jt dibgikan sama saya kepada seluruh ahli waris, masing masing sebesar 500 Ribu, yang 2 Jt yang merupakan jatah Tatang dan Wawa pada saat itu diberikan kepada Enuk Wawa, selanjutnya Dede Kodariah mengajukan permohonan kepada saya, “ Kang Wan, Dede mah jangan segitu atuh, karena Dede mah banyak anak “, saya pun menjawab “ Sudah terima saja karena yang lain pun sama“, setelah itu apa yang dijanjikan Dadang akan memberikan keuntungan sebesar 15 Ribu setiap harinya kepada Enuk Wawa, dan malamnya, Dadang bersama istrinya yang bernama Teli Dorotea datang kerumah saya menunjukan uang yang saya berikan kepada dia dan dia pun menawarkan kepada saya,“ Ini Kang Wan uang silahkan kalau mau ngambil, jawab saya, “ kan buat membeli truk Dang, lalu dia menjawab,“ Oh Ya, bukan apa apa Kang Wan, uang yang milik Neneng Rokayah tadi sudah diambil dari Dadang untuk kepentingan Khitanan anaknya, Hingga Dadang Sugiatna meninggal dunia, uang tersebut tidak pernah kembali lagi dan truk yang dijanjikan pun tidak pernah nampak.“ Ungkapnya.

Ditambahkan Wawan, yang menanda tangani jual Enuk Wawa dan pembeli Dadang Sugiatna, Darmita dan Narko, sedangkan saksinya, yakni Wawa Kartawa, Tatang Setiawan, E. Rusmana dan saya sendiri, dan transakasi tersebut pun dibuat pernyataan dibawah tangan.“ Bebernya. ( Kiki Andriana)

803 total views, 2 views today