You are here: Home » Seni » Setelah Menghilang Puluhan Tahun kini Awi Gelo Membuming

Setelah Menghilang Puluhan Tahun kini Awi Gelo Membuming 

photostudio_1494240779531Sumedang,eljabar.com — satu lagi seni budaya sunda yang kini mulai membuming si tatar sunda khususnya di kabupaten Sumedang , kesenian itu dinamakan Awi Gelo ( Bambu Gila ).

Konon Atraksi tersebut dinamakan Awi Gelo (Bambu Gila) karena konon, roh makhluk halus dimasukkan ke batang bambu itu oleh malimnya ( Pawang ) Sehingga gerakannya liar tak terarah, bagaikqn orang gila yang lagi mengamuk Para pemegang bambu yang tak kuasa menahan gerakan liar bambu itu pun ada yang terbanting lepas dari pegangannya dan ada pula yang terombang ambing mengikuti alur bambu gila tersebut.

Jenis Seni dan Budaya Awi Gelo ini memang baru muncul lagi di Sumedang , setelah Seni tersebut sempat hilang puluhan tahun lamanya Baru pada awal  Tahun 2016, Awi Gelo mulai dimunculkan kembali oleh para tokoh pelaku seni di kaabupaten sumedang ,  seperti paguyuban Gumelar Putra Pasundan yang berada di Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor yang mulai melestarikan kesenian itu kembali.

Dikatakan Pimpinan Paguyuban  Gumelar Putra Pasundan .Kurnia ”  Kesenian Awi Gelo ini memang sebenarnya salah satu budaya sunda juga Tapi sempat hilang selama puluhan tahun, Akhirnya kami mulai melestarikannya kembali pada tahun 2017,” ujar Kurnia

Lanjut dia ” seni dan Budaya Awi Gila ini memang unik. Selain menampilkan sisi kesenian dan budaya khas sunda akan tetapi ada keunikan lain di kesenian ini

Atraksi Awi Gelo ini tidak bisa dipegang oleh satu atau dua orang. Pasalnya, kekuatan magis yang kuat di dalam batang bambu tersebut tidak akan tertahan. Setidaknya butuh lima orang atau bahkan lebih yang bisa memainkan atraksi ini. Itu juga tergantung oleh panjang bambunya. Jika lebih dari empat meter, maka diperlukan lebih banyak orang lagi untuk memegang bambu tersebut ujar dia seusai melaksanakan pagelaran di saung Budaya Sunda ( Sabusu ) minggu 07/05 /2017.

Dikatakannya lagi ” Untuk menyudahi atraksi ini, malim / Pawang , harus memegang batang bambu yang kemudian didoakan lagi. Sehingga unsur magis yang ada menjadi ternetralisir. Untuk mengetahui seperti apa kekuatan magisnya, sejumlah Wartawan mencoba untuk memainkannya

Awalnya, bambu yang dipegang nampak ringan karena kami kami  memegangi bambu tersebut didampingi Pawang nya dan  dibarengi oleh enam orang lainnya. Namun, saat malim / pawang mendoakan dan seperti memasukkan roh ke dalam bambu, tiba-tiba bambu menjadi berat.

Saat aba-aba mulai dan malim / pawang itu melepas tanggannya dari bambu tersebut tiba-tiba badan langsung terdorong kesana kemari. Liar dan tidak terarah. Bahkan untuk menahan bambu agar diam pun sangat sulit. Saat mencoba berusaha untuk melepaskan pegangan, tangan justru semakin memegang erat.

“Memang kalau dilawan atau mau melepaskan, bambu semakin liar. Dan ada juga yang malah enggak bisa melepaskan tangannya. Karena roh yang dimasukkan merasa ada yang melawan. Ini tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak ahli.

Sementara “Pembina Paguyuban Seniman dan Budayawan Sumedang yang juga Ketua DPRD Sumedang, Irwansyah Putra mengatakan, acara pelestarian seni dan budaya Sumedang tersebut memang ditujukan untuk mengenalkan dan menghadirkan kembali seni dan budaya khas Sunda dan Sumedang.

“Kita semua mengetetahui, bahwa seni dan budaya asli Sunda sudah mulai tergeser oleh budaya modern dan asing. Bahkan eksistensi keberadaan seni dan budaya asli Sunda sudah mulai menghilang ,Maka kami  berupaya untuk munculkan kembali agar masyarakat kembali mengenal seni dan budaya Sunda yang sarat makna sekaligus adiluhung,” katanya.

Irwansyah menambahkan, seni dan budaya yang dipertunjukkan tersebut memang sebagian besar sudah tak lagi muncul dan dikenal masyarakat. Salah satunya yang sudah benar-benar hilang adalah seni dan budaya penyambutan tamu besar khas Sumedang.

“Tadi ada proses penyambutan tamu beaar atau agung. Itu prosesi asli Sumedang untuk menyanbut raja, patih atau mengantarkan raja perang dan menyambut kembali saat pulang,” kata dia.

Menurut dia, budaya penyambutan tamu besar atau agung tersbut bahkan sudah hilang dan sebagian besar sudah tidak mengetahuinya. Maka dari itu, kata dia, dihadirkan dan dikenalkan kembali kepada mayarakat meski tahapannya sudah tidak utuh .

Lanjut dia, acara-acara seperti inilah yang memang harus terus diadakan untuk mengenalkan kembali seni dan budaya Sunda yang sarat makna sekaligus adiluhung. Pihaknya juga mengapresiasi para seniman Sumedang yang sudah berusaha melestarikan kembali beberapa seni dan budaya yang sudah hampir hilang itu.

“Niat kami baik disini, hanya ingin menghembuskan kembali nafas seni dan budaya asli lembur. Sekaligus mengajak masyrakat untuk melestarikannya. Apresiasi sekali juga kepada para seniman Sumedang. Ikon Sumedang Puseur Budaya Sunda ini akan benar-benar semakin menggema,” katanya.(arip)

3,274 total views, 3 views today