You are here: Home » Priangan Timur » Kabupaten Pangandaran » Sosialisasi Kampanye Bahaya HIV-AIDS, Wakil Bupati Pangandaran Jalani Tes Darah

Sosialisasi Kampanye Bahaya HIV-AIDS, Wakil Bupati Pangandaran Jalani Tes Darah 

wakil bupati pangandaran cek darahPANGANDARAN, eljabar.com — Tes HIV adalah suatu tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibody HIV di dalam sample darahnya.

Hal ini perlu dilakukan setidaknya agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status kesehatan dirinya, terutama menyangkut resiko dari perilakunya selama ini.

Untuk mendiagnosis HIV, Wakil Bupati Pangandaran Adang Hadari menjalani Tes “Point of care”. Pada tes ini, setetes darah dari jarinya diambil, dan hasilnya keluar hanya dalam beberapa menit.

Hal itu dilakukan dalam sosialisasi kampanye bahaya HIV-AIDS, Selasa (14/2) siang tadi. Upaya tersebut dengan melakukan pemeriksaan VCT kepada 1000 masyarakat secara gratis. “Biasa saja, nggak degdegan. Diambil darah sudah biasa dan saya yakin negatif,” kata Adang Hadari usai diambil sampel darahnya.

Adang juga menjelaskan, saat ini di Kabupaten Pangandaran sedikitnya ada 20 yang teridentifikasi positif HIV-AIDS. Tiga diantaranya ibu rumah tangga dan diketahui saat sedang hamil. Artinya suami berikut bayinya juga positif. “Keberadaan HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, artinya dipermukaan sangat sedikit kelihatan atau terdata penderita HIV, namun sebenarnya di lingkungan masyarakat kemungkinan lebih banyak,” kata Adang.

Sebagai daerah wisata, lanjutnya, Pangandaran perlu waspada dan kegiatan tes HIV ini perlu diapresiasi. Sebelum seseorang diberikan diagnosis yang pasti, perlu dilakukan beberapa kali tes untuk memastikannya.

Hal ini dikarenakan masa jendela HIV cukup lama. Jadi, hasil tes pertama yang dilakukan belum tentu bisa dipercaya. Tes perlu dilakukan beberapa kali untuk mereka merasa berisiko terinfeksi HIV. “Jika dinyatakan positif HIV, beberapa tes harus dilakukan untuk memerhatikan perkembangan infeksi. Setelah itu, barulah bisa diketahui kapan harus memulai pengobatan terhadap HIV,” ujarnya.

Adang mengharapkan, dengan sosialisasi ini masyarakat akan terbuka wawasannya dan sadar pentingnya upaya pencegahan dan penanggulangan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV AIDS akibat hubungan seksual beresiko seperti pada praktek prostitusi yang berganti-ganti pasangan,”pungkasnya. (Jaja, ST)

4,108 total views, 1 views today