ASPIKOM : Atasi Hoax Dengan Mencerdaskan Literasi Media

photostudio_1512979009168
Ketua Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (Aspikom) Jawa Barat, Dr. Sutrisno, MSI ( kanan ), bersama wakil ketua Aspikom pusat , Hadi Suprapto Arifin  (kiri), eljabar.com : Kiki Andriana

SUMEDANG, eljabar.com – Ketua Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (Aspikom) Jawa Barat, Dr. Sutrisno, MSI menuturkan menjadi sebuah tantangan bagi pihaknya selaku penggiat pendidikan ilmu komunikasi untuk meluruskan setiap imbas dari informasi – informasi negatif yang tersebar di dunia maya, maka dari itu, Rekonstruksi Komunikasi di Indonesia pada Era Digital merupakan hal yang sangat penting terutama dalam menghadapi arus komunikasi global lewat media sosial. Tutur Sutrisno , kepada sejumlah wartawan saat di temui usai pelantikan Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) Korwil Jawa Barat , di Gedung Fikom UNPAD Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin (11/12/2017).

Dijelaskan Sutrisno , ” Kita berusaha menjawab tantangan yang realistis di jaman ini, media digital menjadi persoalan bagi bangsa dimana, media sosial maupun online menjadi sebuah ketakutan bagi kelompok tertentu sehingga muncul efek negatif, oleh sebab itu, menurutnya masyarakat perlu mencermati setiap informasi hoax yang nantinya akan memicu  permasalahan baru, ” Inilah yang ditengarai, bagaimana masyarakat bisa lebih dewasa dalam menggunakan tekhnologi dan berkomunikasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Hadi Suprapto Arifin, wakil ketua umum Aspikom pusat mengatakan berbagai cara dilakukan guna mengatasi masalah hoax di media sosial salah satunya dengan mencerdaskan literasi media, ” maksudnya disini, semua pengguna medsos sudah diperkenalkan dengan hukum yaitu UU ITE sehingga hendaknya para pengguna medsos dan dunia Maya akan lebih berhati – hati karena salah memencet jari maka akan berhadapan dengan hukum pidana,” Tandasnya

Ditambahkan Hadi , pihaknya juga sudah berulangkali mengimbau baik di dalam lingkungan pendidikan maupun masyarakat agar merespon pesan – pesan sensitif dengan cermat, “Cerna dulu, apakah informasi itu sungguh faktual atau hanya kabar burung.” Pungkasnya. (*)

Categories: Uncategorized