BMKG: Gempa di Zona Selatan Jawa Barat Memicu Tsunami

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menganalisa terkait gempa yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menganalisa terkait gempa yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

SUMEDANG, eljabar.com  — Kepala Stasiun Geofisika Klas 1 BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya menuturkan Menurut catatan BMKG Bandung, zona di selatan Jawa Barat sudah beberapa kali terjadi gempa bumi kuat, merusak dan memicu tsunami,  beberapa Gempa bumi seperti di wilayah Banten M=8,1 pada 27 Pebruari 1903 diperkirakan menimbulkan kerusakan di wilayah Banten dan Jawa Barat. Kemudian, Gempa bumi kuat M=7,8 pada 17 Juli 2006 memicu terjadinya tsunami Pangandaran, lalu gempabumi Tasikmalaya M=7,0 pada 2 September 2009 menimbulkan kerusakan banyak bangunan rumah dan korban jiwa.

“Satu hal yang menarik bahwa pusat gempa bumi, yang terjadi tadi malam lokasinya berjarak sekitar 50 km arah utara dari pusat gempa merusak yang sempat terjadi pada tahun 2009,” ungkap Tony kepada eljabar.com melalui sambungan selularnya, Sabtu ( 16/12/2017 ).

Tony menjelaskan, Banyak pertanyan yang dilontarkan oleh warga, mengapa gempa bumi berkekuatan 6,9 SR dengan kedalaman 107 km dapat berdampak kerusakan. Menurutnya, zona gempabumi di Tasikmalaya dan Pangandaran khususnya yang di kawasan pesisir, lahannya tersusun oleh material tanah lunak.

“Karakteristik tanah lunak semacam ini dapat menimbulkan resonansi gelombang seismik hingga memicu amplifikasi guncangan gempabumi, ditambah lagi kondisi bangunan yang ada banyak yang tidak memiliki standar aman gempabumi, maka dengan mudah terjadi kerusakan saat diguncang gempa,” ujarnya.

Selain itu, Tony menerangkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tidak hanya disebabkan oleh kekuatan/magnitudo dan jaraknya dari pusat gempa namun terkandung dari kondisi tanah setempat dan kualitas bangunan sangat menentukan tingkat kerusakan.

Selanjutnya, Tony menjelaskan dari Hasil monitoring BMKG hingga Sabtu pagi pukul 7.00 WIB menunjukkan sudah terjadi gempabumi susulan sebanyak 13 kali. Seluruh gempabumi susulan belum ada yang dirasakan, karena kekuatannya kurang dari 5 SR Berdasarkan kecenderungan magnitudo gempabumi susulan yang terus mengecil menunjukkan kondisi tektonik di zona gempa semakin stabil.

“Sangat kecil peluang akan terjadi gempabumi susulan yang lebih besar dari gempabumi utamanya (main shock). Untuk itu warga masyarakat, pihaknya menghimbau agar tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” tegasnya. (Kiki Andriana)

Categories: Nasional