Gereget Debat Kedua Pilpres 2019

KEMBALI kita telah menyaksikan salah satu segmen dalam prosesi Pemilihan Presiden/Wakil Presiden RI Tahun 2019, yaitu Debat Edisi Kedua dimana kedua kandidat Presiden yang tampil di panggung perhelatan tersebut.

Secara keseluruhan, debat seri kedua dari lima seri yang dicanangkan KPU-RI ini dapat dikatakan lebih baik dari debat seri pertama lalu. Dari format konstruksi debat, elaborasi pertanyaan para panelis, termasuk penampilan dari kedua kandidat presiden itu sendiri, tampak lebih atraktif serta terpola secara sistemik.

Dari amatan saya, ada beberapa catatan yang akan coba disajikan sebagai hal yang menjadi “gereget´ selama agenda debat tersebut berlangsung, diantaranya adalah:

Gereget Pertama; Konstruksi Acara & Materi Pertanyaan

Konstruksi acara dimana terdapat format dengan salah satu sessi yang mempola debat secara argumentative tanpa limitasi waktu (dengan moderator sebagai timekeeper), cukup memberikan ruang kepada kedua kandidat untuk menyampaikan pemikirannya dengan tuntas. Hanya kritisi teknis, moderator baiknya memberi tanda 10-15 detik sebelum waktu yang diberikan berakhir, bukan setelah waktu habis, agar kandidat dapat persiapkan kalimat akhir penyampaian.

Pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh tim panelis pun pada debat kedua ini terasa cukup elaborative dan dalam, sehingga dapat menyentuh substansi permasalahan tema besar debat. Plus kita ketahui bersama pada debat kedua ini KPU-RI tidak memberikan kisi-kisi pertanyaan. Kiranya KPU-RI cukup belajar dari banyaknya komentar public pasca debat seri pertama lalu.

Giri M. Qudrat (1)Gereget Kedua; Flow (Aliran) Interaksi Kedua Kandidat

Selama proses debat kedua berlangsung, kita Rakyat Indonesia disajikan suatu interaksi yang berpondasi pada masing-masing topic secara berututan. Topic-topik terebut diturunkan menjadi pertanyaan baik dari panelis ataupun di sessi lain pertanyaan dari kandidat itu sendiri, yang menjadi perdebatan menjadi lebih mengkerucut pada permasalahan.

Gereget yang muncul pada konteks interaksi ini adalah tampak terjadi flow stuck atau kebuntuan aliran debat (komunikasi) ketika kesempatan ada di kandidat petahana atau Capres 01. Pada kesempatan dimana kandidat 01 berdasrkan format yang diatur KPU-RI seharusnya menanggapi program/gagasan dari kandidat 02, tetapi yang keluar dari kandidat 01 adalah kalimat-kalimat statement/pernyataan tentang keberhasilan kandidat 01 sebagai petahana selama menjabat dalam 4 (empat) tahun ke belakang. Entah disadari atau tidak, kandidat 02 pun terbawa flow yang terjadi, sehingga seringkali interaksi pada beberapa sessi ini tidak menyentuh substansi topic, bahkan beberapa kali kandidat 02 menyampaikan apresiasi pada apa-apa yang telah berhasil dijalankan kandidat petahana selama ini, walau ada sedikit penetralisir yang juga beberapa kali disampaikan bahwa kandidat 02 mempunyai strategi yang berbeda.

Gereget Ketiga; Inner Character & Gesture Kandidat

Pada agenda debat edisi kedua yang hanya menampilkan kandidat presiden minus kandidat wakil presiden ini, sedikit banyaknya secara psikologis mendorong munculnya basic personality dari kedua kandidat yang tampil. Hal ini bisa jadi karena ketidakhadiran mitranya (cawapres), yang tanpa disadari mengurangi fungsi control dari masing-masing kandidat. Sebagai contoh, dalam debat edisi pertama kita menyaksikan kandidat cawapres 02 “memijat” kandidat capresnya. Begitu pula kandidat capres 01 yang selalu memberi kalimat apresiasi bahkan hingga tepukan kepada kandidat cawapresnya, walau penyampaian dari cawapresnya belum usai. Hal ini jelas bermaksud membuat ketenangan dan support psikis untuk pasangan masing-masing.

Pada konteks ini mau tidak mau kita akui ada gereget yang cukup tidak “dewasa” yang terekspresi dari kandidat 01 (petahana). Sejumlah kali ketika kandidat 02 menyampaikan gagasan atau bahkan memang harus bertanya, kandidat 01 mendengarkan dengan ekspresi serta gesture (bahasa tubuh) yang kurang bijak dengan menggelengkan kepala, mengangkat bahu sambil mengkerenyitkan dahi, hingga senyum-senyum kecil penuh arti.

Gereget Keempat; Siasat & Trick Kandidat

Suatu keluguan jika menghadapi agenda Debat Pilpres tanpa suatu strategi, yang mana didalamnya terdapat aspek siasat bahkan hingga trick-trick yang akan digunakan. Saya meyakini bahwa kedua kandidat dengan tim suksenya telah menyusun siasat serta trick tersebut secara matang menurut persepsi dan standarisasi masing-masing, dan itu adalah sah-sah saja. Yang perlu diingat adalah siasat serta trick tersebut janganlah melanggar aturan yang telah ditetapkan KPU-RI, tidak perlu membuka aib-aib, dan janganlah melibas etika berkehidupan serta kemanusiaan secara universal.

Untuk kandidat 02, saya cermati siasat serta trick yang digunakan berkesan “datar” saja. Tidak ada unsur kejutan, keunikan, atau ketajaman yang cukup untuk menjadi “peluru” berharga mengambil simpati public.

Sementara untuk kandidat 01, mohon maaf untuk menyampaikan ini, tetapi saya pribadi merasa “tidak nyaman” dengan siasat serta trick yang digunakan. Yang antara lain :

  1. Pertama, ada kesan Timses 01 ingin mengulang situasi pada Pilpres 2014, dimana kandidat lawan diposisikan tidak menguasai bahan dengan diajukan pertanyaan yang bersifat sangat teknis. Sementara setahu saya, pada penyusunan aturan main di pra-debat dahulu, disepakati oleh kedua pihak dan disetujui KPU-RI sebagai penyelenggara bahwa dihindari pertanyaan yang bersifat remeh atau sangat teknis. Hal ini tersampaikan ketika kandidat 01 bertanya pada kandidat 02 tentang konteks infrastruktur unicon.
  2. Kedua, mungkin ini mengulang sedikit point Gereget Ketiga, yaitu menampilkan ekspresi yang berkesan “sindiran ketidaksetujuan” ketika kandidat 02 menyampaikan sesuatu. Disamping itu juga selalu membelokkan flow debat sehingga walau dalam kesempatan kandidat 02 yang menyampaikan gagasan tetapi pada akhirnya yang dibahas adalah kinerja yang telah dilakukan petahana.
  3. Ketiga, pada point ini yang paling fatal saya kira, dimana kandidat 01 keluar konteks, melanggar aturan, dan kurang beretika dengan menyerang secara personal kandidat 02. Hal ini terjadi ketika kandidat 01 diluar dari substansi yang dipertanyakan kandidat 02, malah memberi jawaban dengan pernyataan informasi bahwa kandidat 02 memiliki lahan yang jumlahnya sangat besar. Dan ternyata informasi yang menjatuhkan tersebut ternyata tidak pas terminologinya, karena lahan tersebut bukan dimiliki kandidat 02, tapi bersifat HGU (Hak Guna Usaha).

Secara umum amatan saya memang sangat sederhana, tetapi yang perlu kita semua sadari justru yang sederhana itulah yang “terasa” di masyarakat sebagai pemegang hak pilih dan mandate mayoritas. Kita harus akui bahwa kandidat 01 sebagai petahana dalam debat kedua ini terlihat lebih menguasai bahan, karena kepemimpinannya selama 4 (empat) tahun ke belakang secara pasti telah melatihnya. Sementara kandidat 02 kita pun harus mengakui sikap patriotisme dan “apa adanya”, yang tercermin dari gagasan-gagasan berbeda yang sarat nasionalisme sementara tetap mau mau mengapresiasi keberhasilan kompetitornya. Hal ini utamanya menunjukkan karakter kejujuran.

Untuk itu harapan kita semua Rakyat Indonesia pastinya adalah, prosesi Pilpres 2019 yang sedang berlangsung ini dapat  terus berjalan dengan penuh kebaikan. Demikian pula kedua kandidat beserta timsesnya yang sedang berikhtiar demi bangsa yang kita cintai ini, dapat menunjukkan itikad tulusnya dalam mewakafkan dirinya demi bangsa Indonesia dengan berikhtiar secara elok, beretika, serta penuh keikhlasan.

KITA SEMUA BERSAUDARA…

— Giri M. Qudrat —

Pengamat Sosial

Categories: Politik

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com