Nunggu Pembangunan, Siswa-siswi SDN Cijolang Belajar di Sekolah Terdekat….!

SUMEDANG, eljabar.com — Dalam waktu dekat siswa-siswi SDN Cijolang Desa Margaluyu Kecamatan Tanjungsari yang terkepung proyek Tol Cisumdawu segera direlokasi ke sekolah terdekat selama menunggu pembangunan sekolah yang baru.

Hal tersebut terungkap dalam Jumpa Pers dengan Bupati Sumedang di Ruang Media Centre Bagian Humas dan Protokol Setda, Selasa (17/09/2019) yang diikuti oleh Pokja wartawan Sumedang, baik cetak, on line, maupun televisi.

Bupati H. Dony Ahmad Munir dalam keterangannya kepada Pers menyatakan kesiapannya untuk merelokasi siswa sesegera mungkin. “Lama pembangunan sekolah yang baru sekitar tiga bulanan. Selama menunggu, para siswa untuk sementara akan dititipkan di sekolah terdekat,” ucapnya.

Dijelaskan Bupati, sebelumnya para siswa sudah disarankan untuk segera pindah namun orang tua mereka memutuskan untuk bertahan sampai dengan sekolah yang baru dibangun. “Ada tiga sekolah alternatif (untuk) relokasi sementara yakni SD Sukasari, SD Margaluyu, dan SD Tanjungsari 1. Namun awalnya mereka menolak pindah dengan alasan jauh dan belum tentu betah,” terangnya.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat akan ada pertemuan dengan Komite Sekolah dan pihak Satker untuk proses pindah sementara siswa. “Besok Rabu, orang tua siswa semua akan diundang musyawarah dengan pihak Satker Tol berkaitan dengan rencana relokasi, kendalanya, termasuk bagaimana mobilisasi siswa ke sekolah,” ucap bupati.

Kabid Pertanahan pada Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Agah Mustika Nugraha dalam keterangannya menyebutkan, tanah yang disiapkan untuk relokasi sekolah berada 50 m di sisi kiri bangunan sekolah yang sudah ada. “Penentuan lokasi sekolah yang baru sudah ditentukan oleh Komite Sekolah. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari sekolah yang sekarang,” ujarnya.

Ditambahkan, luas seluruh lahan 2.671 m² yang terdiri atas 6 bidang milik warga. “Dari keenam pemilik lahan, empat diantaranya sudah akan menandatangani Surat Pelepasan Hak yang luasnya berjumlah kurang lebih 1.500 m². Ditambah satu orang akan menyusul seluas 571 m². Jadi seluruhnya 2.100 m² lebih,” tuturnya.

Adapun yang satu bidang, lanjut Agah, masih berkeberatan soal harga ganti rugi tanah. “Satu bidang di belakang itu yang masih keberatan soal harga (sehingga tidak dijual). Harga tanah yang di depan dihargai Rp. 5.250.000,-/m² sedangkan yang di belakang Rp. 3.094.000,-/m²,” ujarnya.

Menurut Plt. Kadisdik Dian Sukmara, lahan 2.100 m² cukup luas untuk membangun 1 unit sekolah baru (USB) apalagi dibandingkan dengan luas sekolah yang ada sekarang. “Standar luas sekolah (yang representatif) adalah 3.000 m². Namun 2.100 m² sudah cukup luas untuk menampung 250 orang siswa,” katanya.

Dikatakan, pihaknya juga sedang mengkaji rencana merger beberapa sekolah baik yang terdampak oleh pembangunan tol atau alasan-alasan lainnya. “Semuanya sedang dikaji karena harus mempertimbangkan hal-hal seperti pemerataan guru, rasio murid, dan jumlah jam mengajar. Proses merger juga tidak bisa dilakukan di tengah-tengah kegiatan pembelajaran, tetapi di awal tahun ajaran atau sesudah libur semester,” terangnya.

Walaupun sebelumnya pihak Komite Sekolah bersikukuh untuk bertahan di sekolah yang sekarang, namun setelah mempertimbangkan faktor keselamatan siswa akhirnya luluh juga. “Asalnya jajaran Komite bersikeras bertahan, tapi akhirnya mau (menerima) relokasi. Apalagi sebentar lagi musim hujan. Dikhawatirkan akan mengancam keselamatan, jika tanah yang di bawah tergerus longsor,” masih kata Dian. (Abas)

Categories: Pendidikan