Peran Sang Dalang dalam Satu Warsa Sumedang Simpati

SUMEDANG,– Dewasa ini, perkembangan berbagai bidang di Kabupaten Sumedang begitu pesat. Di Kota Tahu, dalam beberapa tahun terakhir wujud pembangunan terus menggeliat. Mulai dari projek nasional Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) hingga keberadaan kampus baru Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jatinangor.

Tentunya, kemajuan tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan dan pemanfaatan optimal oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang agar asset ini benar-benar dirasakan masyarakat.

Sejauh ini, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mampu mengimbangi dan membawa perubahan di Sumedang dengan apik. Dony juga dinilai sukses memanfaatkan otoritasnya dalam melakukan pembangunan.

Sejak dia mencalonkan diri sebagai Bupati Sumedang, Dony sudah paham betul kultur Kabupaten Sumedang, sehingga dia melahirkan program Sumedang Simpati. Dengan program ini, Dony sanggup mengawal dan membawa Sumedang ke arah yang lebih baik. Bahkan Sumedang Simpati juga diyakini bisa membentengi probabilitas yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu di Sumedang.

Lantas, dalam satu warsa atau satu tahun program Sumedang Simpati, kesuksesan Dony sebagai Sang Dalang dari program tersebut menuai acungan jempol. Salah satunya dari Dandim 0610 Sumedang Letkol Arh Novianto Firmansyah S.E.,M.Tr (Han). Dia memberikan apresiasi terhadap kinerja Bupati dan Wakil Bupati Sumedang.

“Sesuai surat tugas yang saya emban, saya sudah satu tahun menjabat di Kodim 0610/Sumedang, sehingga saya tahun betul perjalan satu tahun pemerintahan Kabupaten Sumedang. Saya sudah mengetahui hasil yang dicapai bupati dan wakil bupati. Ini luar biasa,” puji Novianto, usai acara Coffee Morning Refleksi Satu Tahun Sumedang Simpati di di Aula Gedung Negara Jl. Prabu Geusan Ulun No. 36 Kel. Regol Wetan Kec. Sumedang Selatan, Jumat (20/09/2019).

Ambisi Bupati

Pada momen refleksi satu tahun Sumedang Simpati, Dony juga nampak berambisi meraih kembali masa kejayaan Sumedang seperti masa kerajaan Sumedang Larang pimpinan Pangeran Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578.

“Pilihan-pilihan kebijakan yang mendasar, yang diperlukan atau tantangan yang kritis yang harus dihadapi untuk menuju kondisi terbaik yang diinginkan sudah kita antisipasi di Sumedang Simpati. Beberapa hal yang harus kita benahi di antaranya, laju pertumbuhan ekonomi meningkat, namun kemiskinan dan pengangguran bertambah, dan menyempitnya lahan pertanian sebagai sektor utama penyumbang PDRB,” ungkap Dony didampingi Wakil Bupati Sumedang H. Erwan Setiawan dan Sekretaris Daerah Herman Suryatman saat melaksanakan Jumpa Pers di hadapan para awak media di Gedung Negara, Jumat (20/09/2019).

Dony Ahmad Munir juga menyampaikan rasa syukurnya selama satu tahun menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Sumedang mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Kendati demikian, Dony mengakui bahwa evaluasi dan introspeksi merupakan inti dari refleksi perjalanan satu tahun dirinya memimpin Sumedang. “Testimoni, kritik dan saran senantiasa menjadi bahan bagi kami mengambil kebijakan dalam rangka mewujudkan Sumedang Simpati,” ujarnya.

Bupati juga memaparkan beberapa program unggulan Sumedang Simpati seperti Sumedang Agamis yang digerakkan seluruh desa, kecamatan dan semua stakeholders melalui Magrib Mengaji dan Suhuh Berjamaah dan program-program lainnya.

“Kita mencanangkan gerakan Generasi Cerdas EKSOTIK (Ekspresif, ShOleh, bereTIKa), yang isinya siswa yang beragama Islam sebelum masuk sekolah harus mempunyai wudlu, one day one sheet (mengaji 1 hari 1 halaman), bertutur kata sopan dan bersikap santun. Semoga ini akan menjadi kebiasaan di setiap sekolah, di samping Wajib Belajar Diniyah 4 tahun,” paparnya.

Upaya tersebut menandakan bahwa Dony tidak lupa dengan misi Sumedang Simpati yang salah satunya ingin membenahi berbagai problema pendidikan. Seperti masih tingginya beban biaya pendidikan bagi masyarakat dan belum optimal dan sistemiknya sistem pendidikan agama dan keagamaan.

Usai refleksi satu tahun Sumedang Simpati, secara umum, melalui Sumedang Simpati Sang Dalang akan terus bekerja mencari solusi untuk permasalah lainnya. Missal, pengingkatan investor, namun tidak diimbangi dengan penyerapan tenagga kerja daerah, masih lemahnya fungsi layanan publik sebagai sasaran sekaligus subjek pembangunan dan belum optimalnya pengelolaan sumber-sumber pemasukan dan pendapatan asli daerah.

Kemudian, rendahnya kinerja pemerintah (EKPPD maupun EKPOD) dan ASN (SAKIP maupun LAKIP), tidak jelasnya arah dan orientasi pengembangan wilayah diantara megaproyek infrastruktur nasional maupun regional (Cisumdawu, Cipali, BIJB dan Jalur Kereta Api Cepat), semakin menipisnya nilai-nilai gotong royong sebagai daya ungkit pembangunan dan masih lemahnya pengembangan sistem pembinaan dan pengembangan keunikan budaya dan keunggulan lokal serta lemahnya pengembangan dan pertumbuhan pembangunan pada kawasan perbatasan. (abas)

Editor: Boni Hermawan

Categories: Pemerintahan