Empat Karung Duit Korupsi RTH Kota Bandung untuk Tomtom dan Herry? - El Jabar

Empat Karung Duit Korupsi RTH Kota Bandung untuk Tomtom dan Herry?

BANDUNG, eljabar.com — RABU pagi ini (26/8/2020) sidang lanjutan dugaan korupsi Pengadaan Lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Bandung TA 2012-2013, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung Kelas 1A Khusus, Jalan LL RE Martadinata.

Rencananya, sidang dengan terdakwa Herry Nurhayat, Kadar Slamet dan Tomtom Dabul Qomar tersebut, akan menghadirkan beberapa orang saksi dari pemilik tanah. Diantaranya, Dedi Setiadi, Ronah Limbong, Roy B Tular, Michael Tular, Pramod Kelly, Sri Mulyani, Sri Mulyati dan Yaya Mulyana.

Pada persidangan sebelumnya, Senin (24/8/2020) Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan enam orang saksi dari pihak makelar tanah. Masing-masing, Thomas Hendrik Sambuaga, Asep Suteja, Defi Arisandi, Deden Juhara, Mulyadi dan Robby Irawan.

Dalam keterangannya di depan majelis hakim yang diketuai T Benny Eko Supriadi, saksi Deden Juhara mengaku mengenal terdakwa Kadar Slamet dan Tomtom. Deden mengenal Kadar Slamet sejak tahun 2006 sebelum yang bersangkutan menjadi anggota DPRD Kota Bandung.

Rabu Pagi ini (26/8/2020) Lanjutan Sidang Dugaan Korupsi RTH Kota Bandung TA 2012-213, kembali akan digelar di PN Tipikor Jln LL RE Martadinata. (Foto: DRY)

Dijelaskan Deden, dirinya mengetahui adanya proyek RTH karena sering main ke rumah Kadar Slamet. Dari situ, tetangga Deden yang bernama Hadad Iskandar, mengajaknya menjadi kuasa jual untuk lima objek tanah yang berlokasi di Kelurahan Cisurupan Kecamatan Cibiru.

“Semua data telah disiapkan oleh Hadad Iskandar dan Akta Kuasa Jual dibuat oleh Notaris/PPAT Mauludin,” ujarnya.

Menurut Deden, dirinya sempat mengikuti dua kali musyawarah penentuan harga yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) kala itu, Herry Nurhayat.

“Pencairan pada Agustus 2012. Uang yang dicairkan Rp 2 miliar langsung saya serahkan kepada Hadad,” imbuhnya.

Diceritakan Deden, setelah pencairan uang tersebut, dia pulang ke rumah Kadar Slamet dan disuruh menghitung uang bersama Dodo. Sesuai dengan catatan yang ada pada Kadar Slamet, uang lalu dibagi, masing-masing untuk Tomtom Rp 2,5 miliar dan untuk Herry Nurhayat Rp 1,2 miliar.

Menurutnya, saat itu uang ditaruh dalam empat karung putih ukuran 25 kilogram. Deden mengaku hanya menghitung uang, sedangkan yang mengangkut dan memasukkan karung berisi uang ke dalam mobil Herry Nurhayat dan Jahidin (utusan Tomtom) adalah Agus Setiawan.

“Saya tahu yang mengangkut uang itu Agus Setiawan, karena waktu diangkut sempat kena pintu. Katanya uang itu untuk Pak Tomtom dan Herry,” ungkap Deden.

Dilanjutkan Deden, kedua kalinya dia menghitung uang hasil pencairan proyek RTH pada Desember 2012. Caranya sama dengan bulan Agustus 2012, sesuai catatan dari Kadar Slamet, Deden dipercaya untuk menghitung uang. Sebanyak Rp 600 juta diberikan ke Tomtom dan Rp 1,7 miliar ke Herry Nurhayat. Uang ditaruh di dalam karung.

“Informasi dari Agus dan Dodo, uang tersebut akan diserahkan ke Herry Nurhayat di DPKAD,” ujar Deden.

Kesaksian Deden tersebut dibantah oleh terdakwa Herry Nurhayat. Disebutkan, dirinya selaku kepala dinas belum pernah memimpin rapat musyawarah.

“Keterangan saksi ini bohong semua,” tandas Herry.

Senada dengan Herry, terdakwa Tomtom juga membantah keras kesaksian Deden yang menyebut dirinya menerima uang Rp 2,5 miliar melalui Jahidin yang datang mengendarai mobil.

“Jahidin itu penjaga rumah kos mertua saya. Seumur-umur Jahidin itu tidak bisa menyetir mobil,” tandas Tomtom. *rie

Categories: Hukum