Sampah Menumpuk, FK3I Jabar Kecam BKSDA Jabar Dalam Pengelolaan Kawasan TWA Talaga Bodas Garut

GARUT, elJabar.com – Beberapa hari yang lalu, tumpukan sampah di lokasi Taman Wisata Alam (TWA) Talaga Bodas Kabupaten Garut, mendapat sorotan tajam dari sejumlah organisasi penggiat lingkungan, diantaranya Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat.
Ketua Badan Kehormatan Organisasi FK3I Jabar, Dedi Kurniawan, menilai tumpukan sampah di lokasi Taman Wisata Alam (TWA) Talaga Bodas merupakan bentuk tidak adanya kepedulian dan tanggungjawab dari BKSDA Jawa Barat dalam pengelolaan kawasan konservasi di kawasan TWA.
“BKSDA memiliki tugas pelaksanaan perlindungan dan pengamanan di kawasan Cagar Alam, TWA, Margasatwa dan Taman Buru. Selain itu, juga memiliki tugas mengendalikan dampak kerusakan sumber daya alam hayati,” jelas Dedi Kurniawan, kepada elJabar.com, Jum’at (7/6/2024).
Maka tumpukan sampah yang tersebar di lokasi TWA menurut Dedi Kurniawan, merupakan gagalnya BKSDA dalam menjalankan tugas pokoknya.
Masih banyaknya tumpukan sampah di TWA bukan hanya terjadi di TWA Talaga bodas saja, tapi menurutnya hampir di TWA yang ada di Jawa Barat kondisinya seperti itu.
“Hal tersebut terjadi, salah satunya dikarenakan kurang ketatnya terhadap para pemegang Izin Pengusahaan Parawisata Alam (IPPA) serta pengawasan dan evaluasi yang wajib di jalankan oleh BKSDA terhadap kawasan Taman Wisata Alam,” tandas Dedi.
Pemanfaatan kawasan TWA menurut Dedi Kurniawan, jangan hanya sekedar menarik pendapatan biaya dari pihak pemegang IPPA saja. Dimana pendapatan tersebut seharusnya juga di kembalikan untuk pemulihan serta penguatan fungsi konsevasi sesuai dengan tugas pokoknya.
Melihat kenyataan yang ada, Dedi Kurniawan mempertanyakan tanggung jawab pihak BKSDA Jabar, atas kondisi kawasan yang mengalami kerusakan dari setiap kegiatan wisata alam.
“Karena dampak yang di timbulkan dari kegiatan wisata alam ini berujung buruk terhadap kualitas lingkungan. Hanya mementingkan bisnis semata,” sesalnya.
BKSDA Jawa Barat dinilai Dedi Kurniawan sangat kurang progresif dan tidak mencerminkan sebagai institusi yang harusnya menjadi contoh dalam kelestarian lingkungan. Dari potret sampah yang ada di kawasan TWA akibat aktivitas wisatawan yang tidak mampu dikelola dan diolah, malah sepertinya sengaja disembunyikan.
“Sebagai kader konservasi, saya sangat kecewa dan miris melihat ini. Saya mengindikasikan pemanfaatan Kawasan Talaga Bodas sebagai salah satu objek wisata alam hanya mengejar PNBP, tanpa memperhatikan aspek yang akan berdampak,” sesalnya lagi. SAya sangat mengecam dan menuntut BKSDAJabar untuk melakukan pemulihan kawasan dan merencanakan ulang pemanfaatan wisata alam, agar hal ini tidak terulang kembali,” pungkasnya. (muis)







