Bendungan Bendo Siap Penuhi Kebutuhan Irigasi di Kabupaten Ponorogo – El Jabar

Bendungan Bendo Siap Penuhi Kebutuhan Irigasi di Kabupaten Ponorogo

PONOROGO, eljabar.com — Bendungan Bendo yang sedang digenangi sejak akhir Juli 2021, hingga saat ini masih terus menyelesaikan pekerjaan yang tersisa. Penggenangan ini diperkirakan berlangsung selama 3 hingga 4 bulan.

Meskipun memakan waktu berbulan-bulan, menurut Kepala BBWS Bengawan Solo Agus Rudyanto, proses pengisian bendungan tersebut akan dilakukan dengan cara bertahap. Hal ini dimaksudkan agar perubahan perilaku bendungan selama pengisian bisa terpantau.

Akan tetapi, dengan pertimbangan agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi, maka selama pengisian tahap pertama tersebut, pihak BBWS Bengawan Solo memastikan bahwa air tetap dialirkan hingga ke wilayah hilir.

“Untuk tahap pertama, penggenangan akan dilaksanakan selama 91 hari, selama penggenangan air tetap dialirkan untuk menjaga kebutuhan masyarakat di hilir, tetap terpenuhi,” tegas Agus, saat impounding Bendungan Bendo diresmikan oleh Bupati Ponorogo, Sugiri Sukoco. Sabtu, (31/07/201), pekan lalu.

Pembangunan bendungan yang berada di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, dimulai sejak tahun 2013 silam dan baru bisa diselesaikan pada tahun 2021.

Proses pembangunan yang memakan waktu sewindu itu, kata Agus dalam sambutannya, disebabkan harus melalui beberapa tahapan.

Tahapan tersebut di antaranya adalah sertifikasi persetujuan desain dan izin pelaksanaan konstruksi. Bahkan, pengadaan tanah yang menjadi bagian dari izin pelaksanaan konstruksi, juga memakan waktu cukup lama. Selain itu, tahapan lain yang tak kalah penting adalah sertifikasi impounding.

Dihubungi terpisah, Direktur Bendungan Kementerian PUPR, Airlangga Mardjono, melalui aplikasi pesan mengatakan bahwa ada sejumlah sidang yang harus dilalui sebelum sidang pleno Komisi Keamanan Bendungan (KKB).

“Ada beberapa kali sidang teknik sebelum ke tahapan sidang pleno KKB. Sertifikasi impounding ditentukan oleh hasil sidang-sidang ini,” kata Airlangga, yang pernah menjadi Kepala SNVT Pembangunan Waduk Jati Gede di Kabupaten Sumedang, melalui pesan whatsapp.

“Kalau unsur di KKB ada pemerintah dan non pemerintah,” tulisnya di aplikasi pesan yang diterima eljabar.com, pekan lalu.

Namun perjalanan panjang tersebut terbayar sudah. Sebuah prasasti yang dibubuhi tandatangan Bupati Ponorogo Sugiri Sukoco, menjadi titik awal Bendungan Bendo menyejahterakan masyarakat Ponorogo.

Sebelum sirine peresmian impounding menggema di area Bendungan Bendo, Sugiri menyampaikan terimakasih kepada warga Desa Ngindeng dan Desa Temon yang telah merelakan tanah, budaya dan peradaban mereka dirubah menjadi bendungan dengan berlatarbelakang gunung Kaki Sebayang tersebut.

“Ke depan keberadaan Bendungan Bendo akan merubah peradaban Ponorogo menjadi lebih baik,” ujar Sukoco.

Sementara, pihak BBWS Bengawan Solo memastikan bendungan yang mempunyai daya tampung sebesar 43,1 juta meter kubik serta area genangan seluas 169,6 hektare tersebut, tak lama lagi akan memenuhi kebutuhan irigasi di Kabupaten Ponorogo seluas 7.800 hektare.

Selain itu, Bendungan Bendo juga akan memiliki kapasitas penyediaan air baku sebesar 370 liter per detik dan dapat mereduksi banjir sebesar 130 meter kubik per detik.

“Manfaat lain Bendungan Bendo adalah kawasan wisata dan konservasi sumber daya air,” kata Agus dalam sambutannya.

Agus juga menjelaskan bahwa pembangunan Bendungan Bendo menelan biaya sebesar Rp 1,07 triliun dari APBN dan kini telah memasuki akhir pekerjaan konstruksi, setara dengan 96 persen dari progres pekerjaan.

Hingga seminggu impounding, pantauan eljabar.com melihat genangan air perlahan meninggi. Sejumlah tegakan pohon hanya terlihat bagian pucuknya saja. Bahkan, sebuah rumah bekas milik warga terdampak, hanya terlihat bagian atapnya saja di genangan Bendungan Bendo. (*wn)

Categories: Nasional