Bupati Dony Ahmad Munir Sambut Baik Penulisan Buku berjudul “Guru Urang Sadayana” – El Jabar

Bupati Dony Ahmad Munir Sambut Baik Penulisan Buku berjudul “Guru Urang Sadayana”

Sumedang, eljabar. Com — Bupati Dony Ahmad Munir menyambut baik penulisan buku biografi K H Moch. Syatibi atau Mama Syatibi, seorang kiayi  kharismatik Sumedang yang berjudul “Guru Urang Sadayana”.

Dukungan tersebut disampaikan Bupati Dony di hadapan tim penyusun buku dalam audiensi  yang digelar Rabu sore (20/10/2021).

“Tentunya kami mendukung dan menyambut baik penulisan buku tentang tokoh sekaligus ulama Sumedang ini,” kata Bupati Dony.

Ia mengharapkan dengan catatan sejarah yang terdokumentasikan dalam buku dapat dibaca dan menginspirasi para pembacanya khususnya generasi muda Sumedang.
“Para pembaca bisa mengenal lebih dalam sepak terjang dan perjuangan pendahulunya sehingga bisa diteladani dan jadi sumber inspirasi,” ujarnya.

Menurut Ketua Tim Penyusun “Guru Urang Sadayana” Ayi Subhan Hafas, penulisan buku tersebut merupakan hasil kerja sama antara Mediacenter PWNU Jawa Barat dan Yayasan As-Syatibi’iyyah.

“Kami sedang mengumpulkan biografi tokoh-tokoh dan Kiyai-Kiayi NU se-Jawa Barat. Kebetulan yang digarap adalah biografi Mama Syatib, ulama Sumedang yang berkhidmat di NU dan juga salah satu pendiri NU di Sumedang,” ucapnya

Dikatakannya, dengan diterbitkannnya  biografi tersebut bisa membukakan sejarah kepada masyarakat, khususnya kepada masyarakat NU terkait pendirian NU di Sumedang dan di daerahnya masing-masing.

“Isinya mengungkapkan perjalanan sosok K H Moch. Syatibi sejak masa kecil, silsilah leluhur, riwayat menjadi santri ke berbagai pesantren, guru-guru dan silsilah keilmuannya, sampai aktivitasnya di Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Sementara itu, Abdullah Alwi selaku Tim Penulis mengatakan, buku yang berisi sekitar 200 halaman lebih tersebut rencananya akan diluncurkan pada peringatan Harlah NU.

“Rencananya dibedah besar-besaran pada Harlah NU sekitar bulan Januari. Kebetulan Januari itu hari lahirnya Mama Syatibi. Jadi tiga bulanan lagi,” ucapnya.
Dikatakan, buku tersebut menceritakan bagaimana K H. Moch. Syatibi mengabdikan dirinya di masyarakat dan pemerintahan setelah mendapatkan ilmu dari berbagai Pondok Pesantren.

“Beliau mengabdikan dirinya di masyarakat dengan menjadi Imam Masjid Agung Sumedang dan Penghulu sebelum Indonesia merdeka. Setelah memasuki Indonesia merdeka, pengabdiannya ditunjukkan dengan bekerja di Pengadilan Agama,” ucap Alwi.

Dalam buku tersebut disebutkan, selama bekerja di Pengadilan Agama beliau sering bersilaturahmi dan berdakwah ke berbagai kecamatan di Kabupaten Sumedang.

“Di luar aktivitasnya sebagai pegawai, beliau dakwah ke berbagai tempat dengan mengumpulkan para kiayi. Ada juga momentum seminggu sekali para kiayi tersebut datang ke rumahnya sehingga momentum silaturahmi tetap terjaga,” kata Alwi.

Mama Syatibi juga berperan dalam pendidikan formal dengan mendirikan Madrasah Islamiyah Sumedang (MIS) di pusat kota Sumedang yang menjadi cikal bakal SMP NU.

“Kalau ulama lain lebih mengembangkan ke Pesantren, Mama Syatibi lebih kepada pendidikan formal. Nah ini yang dalam buku saya tulis bahwa salah satu ciri khas NU pada kepemimpinan Mama Syatibi ialah mengembangkan pendidikan formal,” ujar Alwi.

Salah satu pesan yang terdapat di dalam buku tersebut ialah kewajiban berdakwah bisa dilakukan oleh berbagai profesi.

“Meski dalam posisi sebagai pegawai negeri, dakwah tetap bisa dilakukan dengan berbagai cara,” katanya.(abas)

Categories: Regional