Regional

Cimanggung, Tanjungsari dan Sukasari Disebut Cocok Untuk Menjemur Tembakau

SUMEDANG, eljabar.com — Kabupaten Sumedang dikenal dengan daerah penghasil tembakau terbanyak setelah Garut. Memasuki musim kemarau, para petani Sumedang memulai kembali menanam tembakau.

Meski dikenal sebagai penghasil tembakau, namun tak semua wilayah di Sumedang cocok untuk ditanami tembakau. Demikian juga dengan proses penjemuran, ada beberapa wilayah yang dianggap paling cocok menjemur tembakau.

Wilayah tersebut antara lain Kecamatan Cimanggung, Tanjungsari dan Sukasari. Alasannya, tiga wilayah ini selain menerima terik matahari yang baik, juga didukung kelembaban udara yang mumpuni.

“Kelembapan tersebut merupakan kunci dalam penjemuran tembakau. Jadi selain panas, harus punya suhu lembab juga. Cimanggung, Tanjungsari dan Sukasari adalah wilayah yang paling cocok untuk menjemur tembakau,” kata Staf Unit Pelayanan Teknis Terpadu (UPTD) Agrobisnis Tembakau Tanjungsari, Gilar, kepada wartawan, belum lama ini.

Ia mengibaratkan, di wilayah timur Sumedang, semisal Kecamatan Paseh dan Tomo, meskipun tanaman tembakaunya bagus, namun kurang cocok untuk penjemuran tembakau.

“Paseh dan Tomo hanya punya panas, namun tidak lembab. Sedangkan kelembaban ini dapat menjadikan tekstur tembakau kering tetapi liat (alot, red),” jelas Gilar.

Menurutnya, jika tekstur tembakau hanya kering, akan membuat rapuh saat dilinting.

“Dalam pengolahan tembakau, saat ini para petani sudah beralih dari manual, itu akan menjadi lebih efektif,” tandasnya.

Sementara itu, petani sekaligus penjual tembakau asal Dusun Pagaden, Desa Margajaya, Haryanto (43) mengatakan, dua tahun belakangan ini penjemuran tembakau terkendala cuaca atau musim penghujan.

“Saat ini saya kembali fokus pada usaha tembakau. Sebelumnya sempat beralih ke sayuran. Itu karena pengolahan tembakau terkendala musim hujan. Sedangkan pengolahan tembakau butuh musim kemarau,” kata Yanto, saat ditemui di Pasar Tembakau Tanjungsari, Senin (22/5/2023).

Yanto mengatakan, beberapa pelanggannya sempat mengeluhkan rasa tembakau darinya yang tak biasa. Ia pun hanya bisa menjelaskan bahwa pengolahan tembakau masih terkendala cuaca.

“Biasanya pelanggan saya ada yang datang ke rumah. Mereka membeli tembakau lempengan. Semisal kawak (tahunan), mereka mengeluh karena rasanya tak seenak seperti biasa, ya saya hanya bisa menjelaskan bahwa masih terbentur cuaca. Insha Allah kini mulai mengolah lagi, dan rasanya bisa kembali nikmat,” tandas Yanto. (abas)

 

Show More
Back to top button