Pemerintahan

Dari Sampah Menjadi Gizi, Inovasi Bersemi Farm Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah di Bandung

BANDUNG, eljabar.com Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di Kota Bandung, sebuah inovasi berbasis ilmu pengetahuan lahir dari RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Kecamatan Cibeunying Kidul. Melalui Bersemi Farm: Dari Sampah Menjadi Gizi, tumpukan sisa sayuran, kulit buah, dan limbah dapur yang sebelumnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kini diolah menjadi sumber pangan bergizi berupa telur, ayam kampung, ikan, hingga entok.

Inovasi tersebut digagas dosen Program Studi Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Linus Pasasa, melalui konsep Apartemen Ayam Maggot, yakni sistem peternakan terpadu berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengolah sampah organik dalam waktu sekitar 48 jam.

“Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah. Sebagai dosen, saya berpikir bagaimana ilmu yang kami miliki bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Dari situlah lahir Bersemi Farm, dari sampah menjadi gizi,” ujar Linus saat ditemui di Pasirlayung, Selasa (23/06/2026).

Berawal dari Riset, Berakhir Menjadi Solusi Nyata

Bersemi Farm bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan implementasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat yang telah dikembangkan Linus selama bertahun-tahun. Alumni S1 dan S2 ITB serta doktor lulusan Universität Karlsruhe, Jerman, itu memiliki rekam jejak panjang dalam bidang fisika kebumian, mitigasi bencana, kecerdasan buatan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, fokus penelitiannya beralih pada pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Pada 2026, ia memimpin sejumlah program inovasi, di antaranya pemanfaatan maggot BSF dan ayam petelur untuk mendukung penurunan stunting serta Program Makan Bergizi Gratis.

Komitmennya terhadap pengelolaan sampah juga telah dimulai sejak 2024 melalui program pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos dan pupuk organik cair di RW 02 Pasirlayung, yang kemudian berkembang menjadi ekosistem Bersemi Farm.

Sampah Organik Menjadi Protein

Berbeda dengan metode komposter konvensional yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, sistem Bersemi Farm memanfaatkan maggot BSF untuk mengurai sampah organik hanya dalam dua hari. Maggot yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ayam kampung, ikan, dan entok.

Sementara itu, sisa makanan matang dari rumah tangga langsung diberikan sebagai pakan ternak, sedangkan kulit buah dan sayuran menjadi pakan utama maggot. Seluruh proses berlangsung dalam satu siklus tertutup sehingga hampir tidak menghasilkan limbah.

“Kami ingin memperpanjang siklus sampah organik. Jangan berhenti menjadi kompos saja, tetapi bisa menghasilkan protein untuk masyarakat,” jelas Linus.

Apartemen Ayam Maggot juga dirancang secara vertikal agar sesuai diterapkan di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Kotoran ayam dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, sedangkan desain kandang memungkinkan telur menggelinding otomatis ke tempat penampungan sehingga lebih mudah dipanen.

Mampu Olah 300 Kilogram Sampah per Hari

Saat ini fasilitas Bersemi Farm memiliki kapasitas mengolah hingga 300 kilogram sampah organik per hari. Sementara produksi sampah organik warga RW 02 baru berkisar 50 – 75 kilogram per hari, sehingga kapasitas tersebut masih terbuka untuk dimanfaatkan oleh wilayah lain.

“Kami sengaja membuat kapasitas besar. Kalau ada wilayah lain yang belum memiliki pengolahan sampah organik, sampahnya bisa dibawa ke sini sehingga tidak lagi berakhir di TPA,” kata Linus.

Keberhasilan Bersemi Farm ditopang kolaborasi antara Institut Teknologi Bandung (ITB), Pemerintah Kota Bandung, Kelurahan Pasirlayung, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Tim Gaslah, Bank Sampah Bersemi 02, PKK, hingga masyarakat yang disiplin memilah sampah sejak dari rumah.

Mulai Direplikasi Berbagai Wilayah

Model pengelolaan sampah tersebut kini mulai menarik perhatian banyak pihak. Sejumlah kawasan di Kota Bandung seperti Bandung Wetan, Lebak Siliwangi, Tamansari, hingga Cipadung mulai mereplikasi konsep Apartemen Ayam Maggot. Bahkan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman telah melakukan kunjungan untuk mempelajari sistem tersebut sebagai alternatif pengelolaan sampah di kawasan permukiman.

Ketua RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, mengatakan perubahan perilaku masyarakat memang membutuhkan proses. Sejak diperkuat melalui Program Gaslah dan pembangunan Apartemen Ayam Maggot pada 2026, warga mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik sesuai jenis pemanfaatannya.

“Alhamdulillah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah. Bahkan saya sendiri ikut belajar bagaimana mengolah sampah yang benar agar bisa memberikan manfaat,” ujar Rahayu.

Linus berharap konsep Bersemi Farm dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, apabila sampah organik dapat diselesaikan di tingkat lingkungan, persoalan sampah tidak lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi sumber pangan, sumber ekonomi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. *red

Show More
Back to top button