Pemerintahan

Diskominfo Kota Sukabumi Imbau Masyarakat Berhati-hati dalam Menerima dan Menyebarkan Informasi

SUKABUMI, eljabar.com — Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Sukabumi mencatat telah melakukan klarifikasi terhadap 16 konten hoaks sepanjang triwulan pertama tahun 2026. Upaya ini dilakukan untuk menekan penyebaran informasi palsu sekaligus memperkuat literasi digital masyarakat di ruang siber.

Berdasarkan data Diskominfo Kota Sukabumi, klarifikasi hoaks tersebut tersebar selama tiga bulan, yakni Januari sebanyak tujuh konten, Februari lima konten, dan Maret empat konten. Selain itu, Diskominfo juga menerbitkan dua konten edukasi terkait cara menghindari hoaks.

Pranata Humas Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kota Sukabumi, Riksan Satya Prawira, mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi.

“Periksa terlebih dahulu kebenaran informasi sebelum menyebarkannya,” ujarnya, Senin (13/04/2026).

Ia menjelaskan, salah satu hoaks yang sempat beredar di masyarakat adalah kasus pemesanan catering yang mengatasnamakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi. Dalam modus tersebut, pelaku mengaku sebagai pegawai DLH dan mengirimkan surat pemesanan palsu kepada penyedia jasa.

“Kami bersama DLH segera melakukan koordinasi dan menerbitkan klarifikasi melalui media sosial resmi masing-masing agar tidak menimbulkan kerugian lebih lanjut,” tambahnya.

Selain itu, aku Riksan, Diskominfo juga menangani kasus penipuan yang mengatasnamakan program pemerintah, seperti penyaluran Bantuan Subsidi Upah.

“Modus yang digunakan pelaku adalah upaya pencurian data pribadi korban, termasuk permintaan akses akun Telegram,” katanya.

Pemkot Sukabumi melalui Diskominfo menilai praktik penipuan digital masih sering terjadi, sehingga peningkatan literasi digital, khususnya terkait keamanan data pribadi, menjadi hal yang penting bagi masyarakat.

Pihaknya berharap, masyarakat semakin kritis dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial dan aplikasi pesan instan.

“Melalui berbagai konten klarifikasi dan edukasi yang kami publikasikan, kami berharap masyarakat semakin waspada dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya,” pungkas Riksan. (Anne)

 

Show More
Back to top button