Fenomena La Nina Menjadi Penyebab Normalisasi 2 Sungai Dihentikan – El Jabar

Fenomena La Nina Menjadi Penyebab Normalisasi 2 Sungai Dihentikan

PAMEKASAN, eljabar.com —  Normalisasi dua sungai di pusat kota, yaitu Kali Jombang di Jalan Trunojoyo dan Kali Semajid di Kelurahan Patemon, yang dihentikan Dinas PUPR Kabupaten Pamekasan bukan tanpa sebab.

Fenomena La Nina yang diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2022 oleh BMKG, menjadi alasan kuat untuk menghentikan kegiatan tersebut.

Menurut BMKG, fenomena ini akan menyebabkan cuaca ekstrim yang akan memicu bencana hidrometereologi, seperti banjir dan tanah lonsor akibat intensitas curah hujan yang tinggi.

Hal ini akan meningkatkan volume debit aliran sungai meningkat secara tiba-tiba sehingga berisiko terhadap pekerja dan peralatan yang diturunkan pada kehiatan tersebut.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPKo) kegiatan pemeliharaan sungai DPUPR Kabupaten Pamekasan, Agus Priambodo, menjelaskan, fenomena La Nina yang memicu curah hujan tinggi itu, akan menaikkan air permukaan sungai secara tiba-tiba. Kondisi ini, selain membahayakan pekerja, debit dan volume air sungai, berpotensi dapat menyebabkan alat berat dan truk pengangkut hasil galian sedimen sungai  rusak.

“Pengerjaannya kami hentikan karena faktor alam yang tidak menentu, sehingga kondisi yang tidak bisa diprediksi itu dapat menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi,” terang Agus pada media ini, Senin (15/11/2021).

Paling tidak, menurut Agus, dari pelaksanaan kegiatan pemeliharaan yang sudah berlangsung kemarin, minimal dapat mencegah daya rusak akibat banjir yang dipicu oleh fenomena La Nina.

Ia menambahkan, pada tahun 2020 lalu sungai yang membelah jantung kota Pamekasan tersebut sempat mengalami peningkatan debit volume air dari arah utara dan selatan, sehingga terjadilah peristiwa banjir yang memakan korban jiwa.

Hal ini tentunya dapat dicegah dengan beberapa upaya ekstra dari pemerintah melalui dinas terkait. Selain itu, peran masyarakat menjadi hal yang tidak kalah penting untuk mencegah terjadinya banjir.

“Contohnya dengan tidak membuang sampah ke sungai dan merawat tangkapan air yang ada di daerah hulu,” pungkas Agus.

Sementara itu, dilansir dari laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, mengingatkan agar pemerintah daerah menanggapi peringatan dini La Nina dari BMKG.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Rakornas untuk mengantisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi La Nina dan potensi bencana hidrometeorologi akhir Oktober lalu.

Rakornas yang diselenggarakan secara virtual tersebut, Dwikorita mengatakan bahwa fenomena La Nina berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, banjir bandang dan angin puting beliung. (idrus)

Categories: Regional