Hadiri Pengukuhan MC.BDG, Farhan Dorong MC Bangun Karakter dan Manfaatkan AI

BANDUNG, eljabar.com — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai profesi Master of Ceremony (MC) memiliki peran penting dalam menentukan ritme dan keberhasilan sebuah acara. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Pengukuhan Pengurus MC.BDG periode 2026 – 2029 sekaligus perayaan Hari Jadi ke-9 Komunitas MC.BDG bertajuk “Nawawarna: Satu Panggung, Sejuta Cerita” di Gedung Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Kota Bandung, Kamis (11/06/2026).
Di hadapan para pembawa acara profesional dari berbagai daerah di Jawa Barat, Farhan mengibaratkan profesi MC seperti air minum yang keberadaannya sering dianggap biasa, namun akan sangat terasa ketika tidak ada.
“Sebagai MC, kita ini nilainya sama dengan air minum. Saat ada sering dianggap biasa saja, tetapi ketika tidak ada, semua orang akan bertanya, ‘MC-nya mana? Acara ini bagaimana jalannya?’,” ujarnya disambut tawa peserta.
Menurut Farhan, seorang MC bukanlah bintang utama dalam sebuah acara. Dalam konser musik, perhatian audiens tertuju kepada penyanyi atau grup musik yang tampil. Dalam acara kenegaraan, perhatian publik tertuju kepada tokoh yang berpidato. Namun, seluruh rangkaian acara tidak akan berjalan tanpa peran seorang pembawa acara.
“Siapa pun yang tampil di atas panggung tidak akan mulai berbicara sebelum dipersilakan oleh MC. Di situlah peran penting seorang pembawa acara, yaitu mengatur irama dan alur sebuah kegiatan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Farhan juga membagikan perjalanan kariernya di dunia media yang menjadi fondasi profesinya saat ini. Ia mengenang ketika pertama kali melamar pekerjaan di sebuah stasiun radio di Bandung pada 1993 dengan harapan menjadi penyiar. Namun, ia justru diterima sebagai penulis naskah atau scriptwriter karena dianggap belum memiliki kualitas vokal yang cukup untuk menjadi penyiar.
“Saya melamar jadi penyiar, diterima jadi penulis naskah. Artinya suara saya dianggap tidak cukup bagus untuk siaran,” ujarnya berseloroh.
Meski demikian, pengalaman tersebut memberinya banyak pelajaran tentang komunikasi, teknik penyampaian pesan, serta pentingnya membangun karakter personal. Ia juga mengenang era keemasan radio di Bandung yang melahirkan banyak penyiar dan presenter ternama.
Menurut Farhan, perubahan besar terjadi ketika industri media berkembang pesat pada pertengahan 1990-an. Kehadiran televisi swasta nasional membuka peluang bagi talenta dari Bandung untuk berkiprah di berbagai daerah di Indonesia.
“Yang dicari bukan hanya suara bagus, tetapi karakter. Karakter itulah yang akhirnya menjadi pembeda dan memenuhi kebutuhan pasar,” ujarnya.
Farhan menilai lanskap media saat ini telah berubah drastis dibandingkan era radio dan televisi konvensional. Meski demikian, ia meminta para MC tetap mempelajari dasar-dasar ilmu penyiaran radio karena menjadi fondasi penting dalam membangun kemampuan komunikasi.
“Dari radio kita belajar intonasi, ekspresi, dan bagaimana mengatur flow atau alur komunikasi,” katanya.
Ia juga berpendapat bahwa era digital telah mengubah standar seorang pembawa acara. Jika dahulu penampilan fisik dan kualitas suara menjadi faktor dominan, kini audiens lebih menghargai kejujuran dan ekspresi yang autentik.
Farhan mencontohkan gaya komunikasi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dinilainya mampu menunjukkan kedekatan dengan masyarakat melalui ekspresi yang apa adanya.
“Sekarang yang dicari publik adalah kejujuran. Ekspresi yang tidak dibuat-buat. Orang ingin melihat sosok yang berbicara seperti dirinya sendiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Farhan mengingatkan para anggota MC.BDG untuk tidak terjebak menjadi imitasi figur yang sudah terkenal. Menurutnya, setiap pembawa acara harus berani membangun identitas dan ciri khas masing-masing.
“Kalau ada MC yang hebat, jangan berpikir untuk menjadi seperti dia. Karena kalau saya punya anggaran, saya akan langsung mengundang yang asli, bukan yang mirip,” katanya.
Menurut Farhan, tidak ada rumus instan untuk menemukan karakter diri. Satu-satunya cara adalah terus belajar, mencoba, dan tidak pernah berhenti mengembangkan kemampuan.
“Karakter itu tidak bisa dibuat instan. Harus dicari dan terus diasah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa fokus utama seorang MC bukanlah para tamu yang berada di atas panggung, melainkan audiens yang hadir menyaksikan acara.
“Yang harus diperhatikan bukan orang yang ada di atas panggung. Yang harus mendapat perhatian adalah audiens. Bayangkan diri kita duduk di kursi penonton, lalu pikirkan apa yang ingin mereka dengar dan rasakan,” katanya.
Farhan menambahkan, tugas utama seorang MC adalah memastikan seluruh pihak mendapatkan porsi yang tepat untuk tampil dan memperoleh perhatian yang seimbang selama acara berlangsung.
Menutup sambutannya, Farhan mengajak para MC untuk memanfaatkan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), sebagai sarana pengembangan profesi. Menurutnya, teknologi bukan ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas kerja dan kreativitas.
“Artificial Intelligence harus dimanfaatkan dengan baik. Jangan digunakan untuk memalsukan sesuatu, tetapi jadikan sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas,” ujarnya.
Farhan berharap kepengurusan baru MC.BDG dapat menjadi wadah bagi para pembawa acara untuk terus belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan diri menghadapi perubahan dunia komunikasi yang semakin cepat.
“Menjadi MC adalah profesi yang mulia. Siapa tahu dari pembawa acara bisa menjadi wali kota,” ucapnya yang disambut tepuk tangan meriah para peserta. *red







