Jadi Wadah Pembinaan Sepatu Roda di Kota Bandung, B-Blade Konsisten Cetak Atlet Berprestasi

BANDUNG, eljabar.com — Di tengah berkembangnya berbagai cabang olahraga modern, komunitas sepatu roda B-Blade tetap eksis menjadi wadah pembinaan atlet sekaligus ruang positif bagi anak-anak dan remaja di Kota Bandung. Berdiri sejak sekitar tahun 1994, komunitas ini telah melahirkan banyak atlet berprestasi yang mengharumkan nama Kota Bandung hingga Jawa Barat.
Head Coach B-Blade, Erik Nurmansyah, mengungkapkan B-Blade berawal dari komunitas yang rutin berlatih di kawasan Balai Kota Bandung. Dari lokasi tersebut lahir nama B-Blade yang diyakini merupakan singkatan dari Balai Kota Blade atau Bandung Blade.
“Awalnya kami komunitas yang berlatih di Balai Kota Bandung. Dari situlah nama B-Blade muncul. Sampai sekarang kami terus berkembang dan fokus pada pembinaan atlet sepatu roda,” kata Erik saat ditemui di Lapangan Sepatu Roda Saparua, Kota Bandung, Kamis (25/06/2026).
B-Blade tidak hanya menjadi komunitas olahraga rekreasi, tetapi juga memiliki rekam jejak panjang dalam mencetak atlet berprestasi. Klub ini pernah menjadi salah satu kekuatan utama cabang olahraga sepatu roda Kota Bandung dan Jawa Barat pada berbagai ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) hingga seleksi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON).
Menurut Erik, atlet-atlet binaan B-Blade pernah mengantarkan Kota Bandung meraih gelar juara umum di sejumlah kejuaraan daerah. Bahkan, lintasan sepatu roda di Taman Saparua yang kini menjadi pusat latihan pernah dimanfaatkan sebagai tempat pemusatan latihan atlet nasional.
“Alhamdulillah dulu kami bisa meraih juara umum. Trek yang ada sekarang juga pernah digunakan atlet pelatnas untuk berlatih,” ujarnya.
Saat ini, B-Blade memiliki sekitar 80 atlet dan anggota yang mayoritas berasal dari Kota Bandung. Namun, sejumlah anggota juga datang dari daerah sekitar, seperti Cimahi dan Sumedang.
Pembinaan dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan peserta. Anak-anak mulai usia empat tahun sudah dapat mengikuti latihan, selama kondisi fisik dan kekuatan pergelangan kaki mereka dinilai siap menggunakan sepatu roda.
Program latihan dimulai dari pengenalan teknik dasar, seperti cara berdiri, menjaga keseimbangan, berjalan, hingga meluncur. Setelah menguasai dasar-dasar tersebut, peserta akan memasuki tahap lanjutan yang berfokus pada peningkatan teknik, kecepatan, dan daya tahan.
“Kami mengajarkan dari nol. Anak-anak belajar berdiri, berjalan, menjaga keseimbangan lalu masuk ke teknik dasar dan kecepatan. Untuk atlet yang sudah mahir fokusnya pada speed dan endurance karena nomor lomba ada yang sampai maraton,” jelas Erik.
Sebagai cabang olahraga yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi, sepatu roda membutuhkan perhatian serius terhadap aspek keselamatan. Oleh karena itu, seluruh latihan dilaksanakan secara terstruktur dengan pendampingan lima pelatih yang menangani berbagai kelompok usia dan tingkat kemampuan.
Di balik tantangan tersebut, B-Blade terus menjadi pilihan banyak orang tua yang ingin anak-anaknya aktif berolahraga dan memiliki kegiatan positif. Tidak sedikit peserta yang awalnya bergabung hanya untuk berolahraga rekreasi, kemudian berkembang menjadi atlet berprestasi.
Ke depan, B-Blade menargetkan semakin banyak atlet binaannya mampu mewakili Kota Bandung, Jawa Barat, hingga Indonesia pada berbagai kejuaraan.
“Target kami jelas, yaitu prestasi. Kami ingin anak-anak yang berlatih di sini bisa menjadi atlet Kota Bandung, atlet Jawa Barat, bahkan atlet Indonesia,” tutur Erik.
Dalam waktu dekat, B-Blade akan mengirimkan atlet-atlet terbaiknya untuk mengikuti sejumlah kejuaraan di Semarang, Malang, dan Bekasi sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi prestasi yang telah dibangun selama lebih dari tiga dekade.
Bagi masyarakat yang ingin bergabung, B-Blade membuka pendaftaran dengan biaya sebesar Rp300.000. Biaya tersebut sudah termasuk tiga jersey resmi B-Blade sebagai perlengkapan latihan. *red







