Jawa Barat Siap Jadi Pusat Industri dan Perdagangan Nasional

ADHIKARYA PARLEMEN
BANDUNG, elJabar.com — Provinsi Jawa Barat terus menunjukkan geliatnya sebagai salah satu pusat ekonomi strategis di Indonesia. Potensi besar di sektor perdagangan dan perindustrian menjadi salah satu kekuatan utama daerah ini.
Wakil Ketua Komisi 2 DPRD Jawa Barat, Lina Ruslinawati, menyatakan bahwa Jawa Barat memiliki modal infrastruktur, sumber daya manusia, dan letak geografis yang sangat mendukung pengembangan sektor ini secara berkelanjutan.
“Jawa Barat tidak hanya sebagai wilayah penyangga Jakarta, tapi punya potensi mandiri sebagai kawasan industri dan perdagangan yang terintegrasi. Kita harus melihat ini sebagai peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Lina Ruslinawati, kepada elJabar.com.
Secara geografis, Jawa Barat memiliki keunggulan yang signifikan. Provinsi ini berbatasan langsung dengan DKI Jakarta dan memiliki akses ke dua pelabuhan utama—Pelabuhan Tanjung Priok di utara dan Pelabuhan Patimban di Subang yang terus berkembang. Selain itu, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dan konektivitas tol Trans-Jawa memperkuat daya saing logistik daerah.
“Patimban dan Kertajati akan menjadi tulang punggung baru ekonomi kawasan. Jika dikelola dengan baik, kita bisa menciptakan kawasan industri terpadu yang terhubung langsung ke pelabuhan dan bandara. Ini adalah mimpi besar yang sedang kita realisasikan,” kata Lina.
Sejumlah kawasan industri di Jawa Barat telah lama dikenal sebagai pusat manufaktur nasional, seperti di Bekasi, Karawang, Purwakarta, hingga Cikarang. Namun, Lina menegaskan bahwa pertumbuhan industri tidak hanya akan terfokus di wilayah utara, melainkan juga merambah ke wilayah tengah dan selatan.
Pengembangan kawasan industri baru di wilayah Priangan Timur tidak hanya membuka lapangan kerja, tapi juga akan mendorong tumbuhnya sektor UMKM dan perdagangan lokal.
“Kita dorong pemerataan pembangunan kawasan industri, seperti di Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Potensi sumber daya manusia dan lahan masih sangat luas di wilayah itu,” jelasnya.
Lina Ruslinawati juga menyoroti pentingnya menciptakan ekosistem industri yang ramah bagi pelaku UMKM. Ia menilai bahwa kemajuan industri besar tidak boleh meninggalkan pelaku usaha mikro dan kecil.
“Kami mendorong adanya kemitraan antara industri besar dan UMKM. Misalnya, dengan menjadikan UMKM sebagai penyedia bahan baku, logistik, atau jasa pendukung. Ini adalah bentuk integrasi ekonomi yang adil,” ujar politisi dari Fraksi Gerindra tersebut.
Dalam menghadapi tantangan industri 4.0 dan digitalisasi perdagangan, Jawa Barat telah mengambil sejumlah langkah penting. Menurut Lina, dukungan terhadap industri berbasis teknologi tinggi, energi terbarukan, serta digitalisasi UMKM harus menjadi agenda prioritas lima tahun ke depan.
Program “Digitalisasi UMKM” dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu langkah konkret dalam mendukung transformasi ekonomi digital di daerah.
“Kita harus berani mendorong industrialisasi modern. Jangan hanya fokus pada industri padat karya, tapi juga industri berbasis teknologi dan inovasi. Kawasan industri digital, inkubator bisnis, dan pendidikan vokasi harus terus dikembangkan,” tegasnya.
Meski potensi begitu besar, sektor perdagangan dan perindustrian di Jawa Barat masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari persoalan perizinan yang berbelit, keterbatasan akses permodalan UMKM, hingga belum optimalnya penyebaran infrastruktur pendukung di wilayah selatan dan tengah Jawa Barat.
“Kita terus mendorong pemerintah provinsi untuk menyederhanakan sistem perizinan. Investasi tidak boleh terhambat oleh birokrasi. Begitu juga dengan akses permodalan, kita dorong BUMD dan perbankan daerah memberi perhatian lebih kepada pelaku usaha lokal,” tutur Lina.
Pentingnya digital marketing dan e-commerce lintas negara sebagai media baru dalam memperluas jaringan dagang pelaku usaha Jawa Barat.
Tidak hanya memfokuskan diri pada pasar dalam negeri, Lina juga menekankan pentingnya ekspansi produk Jawa Barat ke pasar internasional. Produk tekstil, makanan olahan, kerajinan, hingga komponen otomotif dari Jawa Barat telah memiliki pasar ekspor yang luas, terutama ke Jepang, Eropa, dan Timur Tengah.
“Kita minta Dinas Perindustrian dan Perdagangan lebih aktif melakukan promosi produk ke luar negeri. Pameran dagang, business matching, dan fasilitasi sertifikasi halal dan ekspor adalah hal yang wajib terus ditingkatkan,” kata Lina.
Dengan potensi besar yang dimiliki, Lina Ruslinawati optimistis bahwa Jawa Barat dapat menjadi salah satu poros ekonomi nasional. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, DPRD, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat sipil dapat bersinergi untuk mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kita butuh keberanian dan visi jangka panjang. Pembangunan tidak bisa instan, tapi harus terarah. Jawa Barat harus jadi pelopor pembangunan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tapi juga pada pemerataan dan keadilan sosial,” pungkasnya. (muis)







