Uncategorized

Lahan Berangkal Disulap Jadi Kebun Produktif, SMPN 50 Bandung Kembangkan Buruan Saé untuk Ketahanan Pangan

BANDUNG, eljabar.com — Lahan berbatu yang semula terbengkalai di Kompleks SMPN 50 Bandung kini berubah menjadi kebun produktif. Melalui kolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, lahan yang sebelumnya hanya menjadi tumpukan berangkal tersebut kini dimanfaatkan sebagai Buruan Saé yang dikelola bersama oleh siswa dan guru.

Pemanfaatan lahan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran siswa mengenai lingkungan, budidaya pertanian, ketahanan pangan, hingga pemanfaatan hasil panen.

Kisah transformasi lahan itu terungkap dalam podcast Basa Basi PWI Kota Bandung bertema “Optimalisasi Pekarangan Sekolah Melalui Buruan Saé, Siswa Mandiri Pangan (SMP): Menanam Hari Ini, Memanen Masa Depan”, yang digelar Kamis (01/10/2026) di Studio Basa Basi Podcast, Kompleks Stadion Persib (Sidolig) Lantai 2, Jalan Ahmad Yani Nomor 262, Kota Bandung.

Podcast tersebut menghadirkan Kepala SMPN 50 Bandung Asep Ramdani, S.S., M.Hum. dan Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Asep Tristian, S.P., M.P., dengan Danny Djatnika sebagai host.

 

Dari Tumpukan Berangkal Menjadi Kebun Produktif

Asep Ramdani menuturkan, gagasan memanfaatkan lahan tersebut muncul ketika dirinya mulai bertugas di SMPN 50 Bandung sekitar Juni 2025.

Saat melihat kondisi lingkungan sekolah, ia menemukan lahan yang sebelumnya hanya dipenuhi tumpukan berangkal. Kondisi itu kemudian memunculkan gagasan untuk mengubah lahan tidak produktif tersebut menjadi sesuatu yang memberikan manfaat bagi sekolah.

“Lahan awalnya itu tumpukan berangkal. Saya berpikir bagaimana kalau lahan yang tadinya tidak efektif dan tidak berguna kita jadikan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Asep Ramdani.

Menurutnya, pengembangan Buruan Saé sejalan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah yang mencakup kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler.

Salah satu tema kegiatan kokurikuler adalah ketahanan pangan. Tema tersebut kemudian memiliki keterkaitan dengan program Buruan Saé yang dikembangkan Pemerintah Kota Bandung.

Untuk merealisasikan program tersebut, pihak sekolah melakukan koordinasi dengan unsur kewilayahan, mulai dari lurah hingga camat. Dari koordinasi itu, sekolah memperoleh informasi mengenai adanya penyuluh pertanian di Kecamatan Ujungberung, yakni Asep Tristian.

“Beliau sangat mendukung. Kami diminta mengajukan sarana pertanian, bibit, dan sebagainya melalui surat. Tidak lama, permohonan itu mendapat jawaban,” kenang Asep Ramdani.

Dukungan tersebut kemudian membuat kegiatan budidaya di lingkungan sekolah mulai berjalan. Hingga kini, SMPN 50 Bandung telah tiga kali melakukan panen.

Sejumlah komoditas ditanam, antara lain pakcoy, kangkung, berbagai jenis sayuran, serta tanaman obat keluarga atau Toga.

Selain tanaman, sekolah juga memperoleh bantuan berupa 250 ekor ikan, termasuk nila dan lele, serta ayam petelur yang dilengkapi kandang dan pakan.

Hasil produksi yang masih terbatas membuat hasil panen untuk sementara dimanfaatkan bagi kebutuhan warga sekolah.

“Karena produksinya masih sedikit, hasil panen sementara ini untuk memenuhi kebutuhan warga sekolah. Ke depan, kami ingin masuk ke pengolahan hasil panen,” imbuhnya.

 

Rencanakan Pengolahan Hasil Panen

Asep Ramdani mengatakan, tahap selanjutnya yang ingin dikembangkan adalah mengolah hasil kebun menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Sejumlah ide telah disiapkan, antara lain mengolah pakcoy menjadi jus, jahe menjadi minuman instan, hingga lidah buaya yang diolah menyerupai nata de coco.

“Saya sedang berdiskusi dengan Pak PPL. Beliau siap, bahkan punya ahlinya,” ujarnya.

Gagasan tersebut bukan pengalaman pertama bagi Asep Ramdani. Ketika sebelumnya bertugas di SMPN 43 Bandung, ia juga pernah mengembangkan pengolahan tanaman menjadi produk minuman.

Serai dan jeruk nipis diolah menjadi minuman bernama Serpis, yang merupakan singkatan dari serai dan jeruk nipis. Sementara jahe diolah menjadi ekstrak wedang jahe.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu referensi dalam pengembangan Buruan Saé di SMPN 50 Bandung agar hasil kebun dapat dimanfaatkan lebih luas sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran siswa.

 

Guru Mendapat Pelatihan Budidaya Tanaman

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Asep Tristian mengatakan, pihaknya memberikan dukungan terhadap program Buruan Saé di SMPN 50 Bandung.

Menurutnya, keberhasilan program pemanfaatan lahan sekolah sangat bergantung pada konsistensi pengelolaan. Ia melihat komitmen kepala sekolah menjadi salah satu faktor yang membuat program tersebut terus berjalan.

“Kadang kalau masuk ke sekolah, lahannya ada tetapi semangatnya hanya sehari. Habis itu diam. Di SMPN 50 ini berbeda, Pak Kepala Sekolahnya sangat konsen,” katanya.

Asep Tristian menjelaskan, penyuluh pertanian di Kota Bandung memiliki program pelatihan bernama Nawadahan (Ngabina Wargi Bandung Ngahadean Buruan).

Melalui program tersebut, para guru mendapatkan pelatihan mengenai budidaya tanaman, mulai dari pembibitan hingga pascapanen.

Pelatihan dilakukan secara bertahap dan tidak hanya dalam satu kali pertemuan. Hal tersebut dilakukan agar guru dapat mengikuti perkembangan tanaman sekaligus melakukan pengamatan secara langsung.

“Pelatihannya bukan sehari dua hari, tetapi lima kali pertemuan, seminggu sekali, menyesuaikan pengamatan tanaman,” jelasnya.

Menurut Asep Tristian, program pembinaan Buruan Saé juga telah dikembangkan di berbagai satuan pendidikan. Tidak hanya sekolah negeri, sejumlah sekolah swasta dan SLB turut memanfaatkan pekarangan sekolah.

Salah satu contohnya terdapat di kawasan Cinambo. SLB di wilayah tersebut bahkan telah mengembangkan produk minuman dari tanaman rosella yang dibudidayakan di lingkungan sekolah.

 

Orang Tua Dukung Siswa Berkebun

Dukungan terhadap program Buruan Saé di SMPN 50 Bandung juga datang dari orang tua siswa dan komite sekolah.

Asep Ramdani mengatakan, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan sosialisasi program kepada orang tua melalui komite sekolah sebelum kegiatan dilaksanakan.

Respons orang tua cukup positif. Bahkan, beberapa orang tua berinisiatif membawa bibit tanaman dari rumah untuk mendukung kegiatan sekolah.

“Ada orang tua yang menawarkan membawa bibit dari rumah. Kami juga meminta orang tua membiarkan anak-anak kotor saat berkegiatan di kebun,” tuturnya.

Menurut Asep Ramdani, kegiatan berkebun memberikan suasana belajar yang berbeda bagi siswa. Mereka tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara teori di dalam kelas, tetapi juga dapat melihat dan mempraktikkan langsung materi yang dipelajari.

Dalam kegiatan tersebut, siswa mengerjakan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD), mencari informasi, serta mendapatkan materi dari ahli yang dihadirkan sebagai narasumber.

“Guru membimbing langsung. Anak-anak senang karena lebih bebas, tidak dikurung di kelas,” ujarnya.

Dengan demikian, lahan Buruan Saé menjadi ruang pembelajaran terbuka yang menggabungkan pendidikan, lingkungan dan praktik ketahanan pangan.

 

Ketahanan Pangan Tak Hanya Soal Padi

Dalam diskusi tersebut, Asep Tristian menegaskan bahwa pemahaman mengenai ketahanan pangan tidak semestinya hanya dikaitkan dengan tanaman padi.

Menurutnya, pemanfaatan pekarangan untuk menanam sayuran, tanaman obat keluarga hingga mengembangkan perikanan juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan keluarga.

“Pangan itu bukan hanya padi. Pemanfaatan lahan pekarangan bisa dikembangkan sebagai ketahanan pangan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan lahan harus diawali dengan pemetaan kondisi lingkungan. Setiap tanaman memiliki kebutuhan yang berbeda, terutama terkait dengan paparan sinar matahari.

Karena itu, jenis tanaman harus disesuaikan dengan karakteristik lahan yang tersedia.

“Tanaman tidak mungkin ditanam di tempat yang tidak ada matahari. Harus dipilih komoditas yang cocok,” tuturnya.

Transformasi lahan berbatu dan penuh berangkal di SMPN 50 Bandung menjadi kebun produktif menunjukkan bahwa pekarangan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai ruang edukasi sekaligus mendukung ketahanan pangan.

Melalui Buruan Saé, siswa tidak hanya belajar menanam dan memanen, tetapi juga mengenal proses budidaya, pemanfaatan hasil pertanian, pengolahan pangan, serta pentingnya menjaga lingkungan.

Dari lahan yang sebelumnya tidak produktif, SMPN 50 Bandung kini memiliki ruang belajar yang hidup dan produktif—tempat siswa menanam hari ini untuk memanen pengalaman dan pengetahuan di masa depan. (*)

Show More
Back to top button