Menakar Potensi Ekonomi Jabar: Dari Laut hingga Ekonomi Kreatif

ADHIKARYA PARLEMEN
BANDUNG, elJabar.com – Provinsi Jawa Barat menyimpan segudang potensi ekonomi yang dapat menjadi motor penggerak pembangunan wilayah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mulai dari sektor perdagangan, industri, perikanan, pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Potensi ini menurut Wakil Ketua Komisi 2 DPRD JAwa Barat, Lina Ruslinawati, bisa dipacu jika dikelola secara strategis, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai wakil rakyat dari dapil Kab. Sukabumi – Kota Sukabumi dengan latar belakang pendidikan sarjana dan aktivis partai Gerindra, Lina Ruslinawati mengungkapkan bahwa Jawa Barat memiliki bentang geografis serta sumber daya manusia (SDM) yang kaya.
“Tapi selama ini, banyak potensi masyarakat, infrastruktur, teknologi, organisasi dan system yang belum optimal. Kami ingin itu semua disinergikan,” ujar Lina Ruslinawati, kepada elJabar.com.
Dari sektor kelautan, Jabar memiliki potensi besar dalam perikanan tangkap, budidaya laut, dan pariwisata bahari. Lina menekankan sektor kelautan sebagai sektor strategis.
Namun, sektor ini menghadapi berbagai tantangan dalam hal infrastruktur maritim yang masih minim fasilitas dermaga, SDM pesisir yang belum menguasai teknologi ramah lingkungan, serta peraturan dan zonasi, agar tata ruang pesisir adaptif terhadap perubahan iklim, konservasi ekologis dan kegiatan masyarakat.
“Yang dibutuhkan bukan hanya bantuan infrastruktur, tetapi juga akses pembiayaan, pendampingan teknis, dan jaminan pasar. Tanpa itu, petambak sulit berkembang,” ujarnya.
Kemudian sektor ekonomi kreatif, juga menjadi perhatian Lina dalam sejumlah kunjungan dan sosialisasi Perda Ekonomi Kreatif ke beberapa daerah.
Sektor ini memiliki nilai tambah tinggi, mulai dari produk lokal seperti kuliner, kerajinan tangan, fashion & budaya, bisa menembus pasar nasional maupun internasional.
Kreativitas UMKM yang tinggi dapat menyerap tenaga kerja sekaligus memperkuat identitas budaya daerah. Dan ini bisa dilakukan pemanfaatan teknologi digital dan kolaborasi antara desa, komunitas dan pemerintahan, untuk membuka peluang pasar baru.
“Kami berharap masyarakat mampu mengoptimalkan potensi yang ada di daerah masing-masing, menciptakan produk kreatif, serta memanfaatkan peluang pasar yang lebih luas,” harapnya.
Lalu di sektor pertanian dan ketahanan pangan, juga dibutuhkan inovasi, khususnya tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan ketahanan pangan.
Pelatihan pengelolaan pangan berbasis teknologi untuk petani dan peternak, penghapusan praktik outsourcing yang merugikan pekerja, dan membuka ruang pekerjaan formal sesuai aturan perundang-undangan. Serta penyempurnaan fasilitas pertanian dan peternakan desa agar skala usaha bisa tumbuh dan produksi lebih tahan guncangan ekonomi.
“Berbagai masukan masyarakat akan ditindaklanjuti melalui mitra kerja Komisi 2. Kami juga optimalkan program pelatihan di bidang ekonomi, UMKM, pertanian, peternakan, dan IT,” jelas Lina.
Kemudian factor lain yang tidak kalah penting adalah infrastruktur. Tanpa infrastruktur yang memadai, potensi ekonomi di berbagai sektor tak akan maksimal.
Sehingga pembangunan infrastruktur harus difokuskan pada pembenahan pelabuhan, meliputi dermaga, penyimpanan dingin, dan fasilitas bongkar muat di kawasan pesisir. Lalu konektivitas jalan, yang menghubungkan zona tambak, desa, dan pusat distribusi. Dan berikutnya akses pariwisata, sehingga perbaikan akses jalan ke destinasi wisata serta pengembangan fasilitas pendukung harus menjadi perhatian juga.
“Strategi ini penting agar hasil pertanian, perikanan, dan pariwisata bisa tersalurkan ke pasar dengan harga wajar dan kelayakan usaha yang tinggi,” jelasnya.
Selain itu, perekonomian tak bisa dilepaskan dari pelestarian lingkungan. Lina menegaskan pendekatan ekonomi harus holistic.
Menjaga ekosistem terumbu karang, mangrove, padang lamun yang menjadi area pemijahan ikan. Kemudian mendorong perikanan ramah lingkungan lewat edukasi dan adopsi teknologi, serta menjaga tata ruang pesisir agar tak menimbulkan konflik antara konservasi, pemukiman, dan investasi.
“Kita tidak bisa hanya melihat laut sebagai komoditas. Laut adalah ruang hidup,” tegasnya.
Dengan pendekatan terpadu, Jawa Barat bisa melipatgandakan kontribusi perekonomian rakyat.
“Jika semua berjalan sinergis—dari SDM hingga infrastruktur—potensi laut, pertanian, dan kreativitas masyarakat bisa jadi kekuatan ekonomi baru,” pungkasnya. (muis)







