Normalisasi Kali Semajid Tunggu Giliran Alat Berat, Penanganan DAS Belum Maksimal

PAMEKASAN, eljabar.com – Fenomena hidrometeorologi yang melanda Jawa Timur dalam sepekan terakhir, hsrus menjadi perhatian serius. Fenomena yang bisa menyebabkan bencana banjir dan daya rusak ini seharusnya bukan lagi sebagai peristiwa biasa-biasa saja dan disertai dengan seremoni tim atau satuan tugas (Satgss) banjir. Menghadapi fenomena yang rutin terjadi tersebut memerlukan cara-cara yang tidak lagi bersifat struktural saja.
Berdasarkan data waspada cuaca ekstrim yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, hanya berfungsi tak lebih sebagai peringatan dini.
Data-data BMKG tersebut menginformasikan perkiraan potensi cuaca ekstrim di wilayah Jawa Timur, sehingga dampak dan resiko yang akan dialami masyarakat bisa dimitigasi.
“Mitigasi risiko bencana itu penganan yang bersifat struktural, dan ada di wilayah pencegahan bencana berfungsi untuk mengurangi dan menanggulangi risiko bencana,” ujar Safik Mulyadi, relawan bencana dan aktivis lingkungan, Jumat, 11 November 2022.
Safik menambahkan, penanganan secara kultural juga perlu diperhatikan sehingga mengubah paradigma dan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Pada akhirnya, kepedulian terhadap lingkungan terbangun secara kolektif.
“Kepedulian lingkungan itu akan meminimalkan potensi terjadinya bencana,” sambungnya.
Sementara itu, peristiwa banjir besar yang melanda Pamekasan pada awal tahun ini, meninggalkan trauma bagi masyarakat setempat. Mereka khawatir bencana banjir yang dialami pada awal tahun, terjadi lagi. Mereka berharap agar potensi banjir bisa dilakukan pada saat sedang tidak terjadi bencana.
Kepala UPT PUSDA WS Kepulauan Madura, Anton Daniswara mengatakan, pihaknya masih menunggu alat berat dari Kabupaten Sampang mengingat sejumlah daerah di Jatim sudah masuk pada zona bencana alam.
“Alat masih di sampang dan Bangkalan, alat itu rencananya di mMdura sampai akhir tahun,” ujarnya yang disampaikan tertulis kepada eljabar.com, pada Selasa, 8 November 2022, jam 10.14 WIB.
Selanjutnya Anton menyebut, setelah selesai menangani di Sampang baru alat tersebut bisa digeser ke tempat lain yang memerlukan.
“Alat kita terbatas dan Jatim banyak bencana, jadi alat jalan semua,” jelasnya.
Diwawancara terpisah, Wakil Bupati Pamekasan Fattah Jasin M.S mengatakan, Pemkab Pamekasan akan terus melakukan langkah-langkah antisipasi adanya bencana alam. Kegiatan antisipasi bencana dilaksanakan dengan beberapa cara, serta melibatkan masyarakat seperti aksi bersih-bersih kali yang ada di Pamekasan.
“Kami meminta kepada Kepala OPD, Camat serta Lurah, Kepala Desa dan pimpinan organisasi masyarakat untuk mengaktifkan Satgas penanggulangan bencana,” kata Fattah.
Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Pemprov Jatim. Campur tangan Pemprov tersebut berupa kegiatan normalisasi sungai pada sepanjang daerah aliran sungai.
“Ini penting dilakukan sehingga bencana banjir sehingga banjir pada musim hujan tahun 2022 tidak terjadi lagi,” tegas Wabup. (idrus)







