Regional

NU Gelar Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat Pesantren

Sumedang,eljabar.com — Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) mengajak pondok pesantren yang ada di Kabupaten Sumedang untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi penyakit tuberkulosis (TB) yang masih tinggi terjadi di Indonesia.

Itulah maksud dari diadakannya “Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat Pesantren untuk Penanggulangan Tuberkulosis melalui Muslimat NU” yang diikuti oleh perwakilan Pondok Pesantren se-Kabupaten Sumedang.

Pembukaan lokakarya yang digelar di Aula Gedung PCNU, Rabu (22/9), dihadiri oleh Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir, Ketua PP Muslimat Bidang Kesehatan Hj Erna Yulia Soefihara, Ketua PW Muslimat NU Jawa Barat Hj Ela Giri Komala, Ketua PC NU Kabupaten Sumedang H. Idad Isti’dad, Ketua PC Muslimat NU Hj Susi Gantini, dan tokoh masyarakat K H Subki Ma’mun.

Loka Karya yang berlangsung dari tanggal 22-23 September. Diikuti perwakilan Pondok Pesantren yang ada di Kabupaten Sumedang.

Ketua Muslimat NU Kabupaten Sumedang Hj Susi Gantini mengatakan, lokakarya merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya berupa rapat koordinasi dengan pimpinan pusat secara Daring pada tanggal 8 dan 14 September 2021 yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi dengan PC Muslimat NU, Dinkes Sumedang, Puskesmas dan pondok pesantren.

“Hari ini Lokakarya kami laksanakan dua hari dari tanggal 22 sampai 23 September 2021 dengan sasaran locusnya ada empat pesantren di tiga wilayah Puskesmas yaitu Al-Falahiyyah di Ganeas, An-Nur dan Al-hya di Sumedang Utara, serta Al-Ma’mun di Tanjungkerta. Jadi ada empat lokus yang kita pilih berdasarkan pertimbangan jumlah santrinya cukup banyak,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan, dipilihnya pondok pesantren sebagai locus program tersebut karena jumlah penghuninya yang cukup banyak sehingga memiliki potensi tinggi terjadi penularan TB.

“Jumlah penghuni yang banyak dan dilakukannya aktivitas bersama-sama  tentu ini faktor resiko yang sangat tinggi. Jadi sebelum terjadi, kita cegah dan tanggulangi,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah lokakarya akan ada kegiatan lanjutan di lokus pesantren di bawah binaan Dinas Kesehatan dan Puskesmas.

“Kita berharap bisa terus bersinergi dan berkolaborasi bersama-sama untuk mewujudkan bagaimana pesantren yang sehat. Santrinya sehat, lingkungannya sehat,” ujarnya.

Ketua PP Muslimat NU Bidang Kesehatan Hj Erna Yulia Sofihara dalam sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut adalah hasil kerja sama Muslimat NU dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“Kerja sama ini sudah memasuki tahun ke enam setelah dimulai dari Tahun 2016 saat pencanangan pemerintah tentang Germas (Gerakan MasyarakatHidup Sehat). Jadi kami melanjutkan kegiatan ini  setiap tahun dengan topik yang berbeda-beda,” ucapnya.

Dikatakannya, adapun kegiatan Tahun 2021 mengangkat tema “Pesantren Sehat untuk penanggulangan TB”.

“Tentunya kegiatan ini harus disinergikan dengan penanggulangan Covid-19 dan tentunya PHBS yang masih dalam lingkup Germas. Alhamdulillah untuk Kabupaten Sumedang merupakan kabupaten  kedua yang mendapatkan program setelah Kuningan,” katanya.

Dalam waktu dekat ia juga akan melanjutkan kegiatan tersebut ke kabupaten kota lainnya di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Dua lokus di Jawa Tengah yaitu Purbalingga dan Banyumas. Lanjut Jawa Timur di Kabupaten Lamongan, Jombang, dan Malang. Itu sekilas kegiatan kami yang akan dilakukan,” terangnya.

Bupati H Dony Ahmad Munir dalam sambutannya mengatakan, pertemuan tersebut berangkat dari munculnya permasalahan yang harus diatasi.

“Bagaimana strategi, cara dan rencana aksinya sehingga pertemuan ini ada follow upnya sehingga berdaya guna dan berhasil guna,” ucapnya.

Dikatakan Bupati, salah satu masalah yang banyak terjadi dan kompleks di bidang kesehatan yakni penyakit menular, termasuk di dalamnya TB.

“Ada salah satu riset yang menjadikan negara kita ranking keempat di dunia setelah India, China dan Afrika Selatan yaitu penyakit Tuberkulosis”, ktanya

Ia mengungkapkan, penyakit TB tentunya harus dihadapi bersama-sama dan  diatasi bersama-sama.

“Penyakit ini tentunya akan menurunkan produktivitas masyarakat kita. Terlebih banyak yang usia produktif 20 sampai 50 tahun terkena virus ini. Kalau terkena, berarti ia harus berhenti beraktifitas 3 sampai 4 bulan bekerja. Berarti tidak akan mendapatkan pendapatan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, terganggunya kesehatan berdampak pula kepada ekonomi. Bahkan, psikologi penderitanya pun terdampak karena TB biasanya dikucilkan.

“Pemerintah tidak bisa berdiri sendiri dalam menghadapinya, melainkan harus melibatkan komponen masyarakat, termasuk kalangan pondok pesantren. Pesantren adalah modal sosial yang bisa dimobilisasi, diorkestrasi untuk mengatasi masalah TB ini,” ujarnya

Bupati juga sangat mendukung pemberdayaan pesantren untuk ikut bersama-sama mengatasi TB yang ada di Sumedang dengan cara terus melakukan Germas dan mejalankan pola PHBS dalam upaya-upaya promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif.

“Selama ini lebih cernderung menyiapkan kuratifnya, tapi promotif dan preventifnya kita kurang. Jadi dari hulu kita entaskan, insyaallah di hilirnya pun akan berkurang,” ungkapnya.

Terakhir Bupati berharap agar para peserta bisa mempraktikkan di pesantrennya masing-masing apa yang didapat selama lokakarya.

“Saya yakin ada follow up-nya dan mudah-mudahan bisa dipraktekan di pesantrennya masing-masing,” katanya.(abas)

Show More
Back to top button