Perlu Upaya Serius Dalam Penanganan Masalah Anak Terlantar - El Jabar

Perlu Upaya Serius Dalam Penanganan Masalah Anak Terlantar

ADIKARYA PARLEMEN

BANDUNG, elJabar.com — Menghadapi masalah sosial seperti anak jalanan yang semakin banyak di sejumlah kota, maka perlu keseriusan pemerintah dalam melakukan pembinaan anak jalanan, anak gelandangan dan anak terlantar. Sehingga di harapkan mampu meminimalisir masalah sosial, khususnya anak terlantar.

Mengatasi masalah yang di hadapi anak-anak tersebut, merupakan tugas sebagaimana yang dikembangkan oleh pemerintah daerah terhadap kesejahteraan anak dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik jasmani, rohani maupun sosialnya.

Pembinaan yang dilakukan pun bervariasi, diantaranya melalui proses pendidikan yang berkualitas dengan segala aspek. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pencegahan dan penanganan yang di lakukan oleh pemerintah atau masyarakat menurut Ketua Komisi 5 DPRD Jawa Barat, Dadang Kurniawan,  yakni untuk mencegah meluasnya jumlah penyebaran permasalahan anak terlantar, meskipun usaha yang di lakukan selama ini belum cukup maksimal.

“Selama ini masih lebih pada upaya melakukan pendataan, pemantauan, pengawasan sosialisasi dan penyuluhan,” ujar Dadang Kurniawan, kepada elJabar.com.

Fenomena anak terlantar jalanan di kota-kota besar di Indonesia, tidak ada henti-hentinya. Himpitan ekonomi atau kemiskinan yang menjadi alasan klasik, bahwa warga merasa tidak mampu menyekolahkan anaknya, meskipun saat ini pemerintah sudah banyak meluncurkan program pendidikan gratis.

Namun keluarga yang di bawah garis kemiskinan, kebanyakan orang tua masih tetap saja menuntut anak  untuk membantu ekonomi keluarga.

“Padahal keberadaan anak terlantar dengan kehidupannya dijalanan, cukup berdampak bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara,” jelasnya.

Dampak bagi dirinya sendiri seperti anak terlantar yang berada di jalanan, sering mengalami eksploitasi. Baik oleh preman maupun orang tua anak jalanan tersebut.

Anak terlantar yang berada dijalanan, rawan terhadap tindak kekerasan, terhadap pemerasan, dan terhadap kecelakaan lalu lintas. Dan ini yang mengakibatkan tumbuh kembang anak tidak bisa berlangsung dengan wajar, baik fisik maupun psikis.

Sementara itu dampak bagi masyarakat, seperti mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat dan juga merusak keindahan kota. Kemudian dampak bagi bangsa dan Negara, puluhan tahun kedepan merupakan generasi muda saat ini, serta tingginya tingkat ekonomi yang di gunakan untuk anggaran pembinaan rehabilitasi sosial bagi anak jalanan.

“Keberadaan anak penyandang masalah sosial ini harus mendapatkan perhatian serius, baik dari pemerintah maupun non pemerintah. Karena masa depan mereka, juga merupakan bagian dari masa depan bangsa, sebagai penerus bangsa,” terang Dadang Kurniawan, yang juga merupakan Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jabar.

Masalah anak terlantar merupakan masalah sosial bersama yang sulit terpecahkan, dan menjadi problem klasik di negara berkembang. Banyak sisi negative terkait dengan keberadaan anak terlantar.

Disisi lain anak terlantar sendiri mungkin memiliki masalah yang berat dan membuat miris. Tak jarang anak- anak dari keluarga tidak mampu sering dipaksa untuk secepatnya menjadi dewasa, dengan beban tanggung jawab ekonomi keluarga secara berlebihan.

“Sehingga mereka tidak sempat menikmati masa-masa kecilnya yang menyenangkan,” katanya.

Pelayanan rehabilitasi sosial di dalam pembangunan sosial, khususnya dalam dimensi pelayanan kesejahteraan sosial, memiliki kedudukan yang cukup penting. Karena kegiatan rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan kemampuan-kemampuan seseorang, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara optimal, memberikan kontribusi yang besar dan cukup berarti dalam mewujudkan tujuan pembangunan sosial.

Usaha rehabilitas sosial ini merupakan proses refungsional dalam tata kehidupan bermasyarakat dan peningkatan taraf kesejahteraan sosial terhadap anak jalanan, gelandangan dan anak terlantar, yang dilakukan melalui system panti atau luar panti.

Tujuan rehabilitas sosial itu sendiri, yaitu memulihkan kondisi psikologis dan kondisi sosial serta fungsi sosial seseorang sehingga dapat hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar di masyarakat, serta menjadi sumber daya manusia yang berguna, produktif dan berahlak mulia.

“Rehabilitas sosial merupakan pelayanan sosial yang utuh dan terpadu, agar seseorang dapat melaksanakan fungsi sosial secara optimal dalam hidup bermasyarakat,” jelasnya.

Hidup menjadi anak terlantar memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang masa depannya tidak jelas. Dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi masalah bagi banyak pihak, baik itu keluarga, masyarakat, maupun negara.

Menjadi anak terlantar bukan hidup yang diinginkan seseorang, melainkan keterpaksaan yang di sebabkan oleh suatu alasan tertentu.

Secara psikologis mereka adalah anak-anak yang belum mempunyai bentukan mental emosional yang kokoh. Sementara pada saat yang bersamaan mereka harus bergulat dengan dunia jalanan yang keras dan cendurung berpengaruh negatif bagi perkembangan dan pembentukan kepribadiannya.

Anak terlantar dilihat dari sebab dan intensitas mereka di jalanan memang tidak dapat disamaratakan.

“Tidak semua anak terlantar berada dijalan karena tekanan ekonomi. Boleh jadi karena pergaulan, pelarian, tekanan orang tua atau atas dasar pilihan mereka sendiri. Perlu upaya serius untuk menyelamatkan mereka,” pungkasnya. (muis)

Categories: Adikarya Parlemen,Politik