Persentase Dividen bank bjb Tertinggi Versi Bloomberg

BANDUNG, eljabar.com – Berdasarkan data perusahan multinasional Amerika Serikat – Bloomberg, yang menempatkan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk., dengan kode emiten BJBR sebagai bank dengan persentase dividen tertinggi (dividen yield) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari 10 emiten bank yang terdaftar, BJBR menempati urutan pertama dengan dividen yield sebesar 7,5%, diikuti oleh Bank Jatim (BJTM) yang berada di urutan kedua dengan dividen yield sebesar 6,7%, serta Bank Danamon Indonesia (BDMN) dengan dividen yield sebesar 3,6 % pada urutan ketiga.

Selanjutnya besaran dividen yield secara berurutan untuk posisi keempat sampai dengan kesepuluh yaitu Bank Maybank Indonesia (BNII) 3,5%; Bank Bumi Arta (BNBA) 3,4%; Bank Mandiri (BMRI) 3,1%; Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 3,0%; Bank CIMB Niaga (BNGA) 2,9%; Bank Tabungan Negara (BBTN) 2,6%; dan Bank Maspion (BMAS) sebesar 2,2%.

Di awal tahun penyelenggaraan RUPS Tahunan banyak diselenggarakan oleh para emiten dengan beragendakan penentuan dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham. Dividen yield yang diperoleh dari tiap lembar saham menjadi salah satu indikator untuk menentukan saham dengan potensi investasi terbaik. Industri perbankan menjadi salah satu yang banyak diincar investor di awal tahun.

“bank bjb memiliki dividen yield tertinggi diantara emiten lainnya, dengan kinerja yang masih terjaga, kualitas kredit yang baik, serta captive bisnis yang terjaga, saham ini dapat menjadi salah satu alternatif pilihan investasi yang baik untuk portofolio saham di awal tahun ini.” kata Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb, Widi Hartoto, Kamis (30/01/2020).

Dividen yield bank bjb menunjukkan emiten saham di sektor perbankan diprediksi akan berkinerja positif selama 2020 mengingat kondisi stabilitas politik nasional terus membaik.

Ekonom dari Universitas Pasundan Bandung Acuviarta Kartabi mengatakan instrumen perdagangan saham di sektor perbankan pada tahun ini akan positif dengan disokong kondisi politik yang sudah mendingin pasca periode Pemilihan Presiden tahun lalu.

“Tahun ini sektor perbankan diprediksi bergairah,” ujarnya. Di samping itu, kondisi ekonomi global saat ini memanas dipicu perang di Timur Tengah yang membuat investor luar negeri lari ke Indonesia, sebab kondisi ekonomi di dalam negeri masih terjaga sehingga investor lebih percaya menanamkan modalnya.

“Investor diprediksi bisa melarikan investasinya ke negara berkembang salah satunya Indonesia. Sebab, mereka tidak mau merugi bila menanam modal di Amerika Serikat atau negara maju yang sedang tegang,” paparnya. Oleh karena itu, jelas dia, kondisi ini perlu disambut oleh sektor perbankan dengan berbagai strategi untuk mendapatkan kucuran dana dari luar negeri. “Mau tidak mau investor luar ini masih dominan di Indonesia, dan mereka sering berinvestasi lebih besar di bursa saham,” terangnya.

Kendati demikian, sektor perbankan perlu mewaspadai tekanan ekonomi global yang diprediksi masih akan terjadi pada tahun ini. Salah satu yang perlu dilakukan yakni mengelola risiko keuangan agar tidak salah mengucurkannya. “Safety manajemen risiko perbankan sangat penting. Ini untuk menghindari kepercayaan investor,” ungkapnya.

Ditanya soal sektor perbankan yang bisa mendapatkan kepercayaan lebih besar mendapatkan investasi, kata dia, bank pembangunan daerah (BPD).

Dia menjelaskan, kondisi BPD saat ini sebagian besar mampu bertahan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global yang tertekan. “Salah satunya bank bjb menjadi BPD yang menjadi rujukan dibeli investor,” katanya. Bank bjb diprediksi mampu bertahan, dan merebut pasar yang mana pembiayaannya saat ini fokus ke insfrastruktur dan pemerintah. ***

Categories: Ekonomi