Sejumlah Permasalahan Dan Penyebab Menjamurnya Gepeng - El Jabar

Sejumlah Permasalahan Dan Penyebab Menjamurnya Gepeng

ADIKARYA PARLEMEN

BANDUNG, elJabar.com — Masalah kemiskinan merupakan problema yang selalu dihadapi oleh negara-negara berkembang. Banyak negara-negara yang terkesan tidak dapat menanggulangi kemiskinan yang terjadi di negara tersebut. Sehingga tidak jarang pula penyelesaian kemiskinan di suatu Negara, melibatkan campur tangan dari negara lain bahkan oleh perserikatan yang dibangun antar negara.

Secara teoritis, kemiskinan dapat digolongkan dalam dua model sesuai dengan faktor penyebab dari kemiskinan. Yaitu kemiskinan strukturan dan kemiskinan kultural.

Kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh perencanaan atau dampak dari suatu kebijakan yang diturunkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat miskin tidak berdaya untuk mengubah kehidupan mereka.

Sementara kemiskinan kultural merupakan kemiskinan yang hadir karena faktor internal dari masyarakat miskin, yang menjadikan suatu kebiasaan untuk tidak senantiasa melakukan aktualisasi diri.

Kemiskinan kultural merupakan kemiskinan yang mengacu kepada sikap seseorang atau masyarakat yang tidak mau berusaha untuk memperbaiki diri dan kehidupan, karena adanya budaya atau kebiasaan yang telah berlangsung secara terus menerus.

 “Sehingga banyak program dan model pemberdayaan yang dilayangkan, tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan masyarakat tersebut,” ujar Dadang Kurniawan, Ketua Komisi 5 DPRD Jawa Barat, kepada eljabar.com.

Mereka merasa cukup dan tidak perlu melakukan perubahan dalam tatanan kehidupan, meskipun banyak usaha dari pihak luar yang ikut membantu. Kemiskinan kultural dikategorikan sebagai kemiskinan yang memerlukan upaya komprehensif dalam pemberantasannya. Karena kemiskinan ini sangat berhubungan erat dengan model kehidupan yang telah menjadi rutinitas bahkan dipercayai sebagai aturan dari nenek moyang.

Namun berbeda halnya dengan kemiskinan kultural yang dihadirkan oleh sikap malas dan pasrah untuk menerima nasib, seperti yang banyak terjadi pada kaum gelandangan dan pengemis (gepeng).

“Kemiskinan yang terus melanda gepeng, merupakan suatu tradisi yang kurang baik untuk diteruskan pada anak-anak mereka nantinya,” kata Dadang.

Namun dengan alasan keterbatasan ekonomi keluarga, pengemis dan gelandangan rela melakukan upaya apapun demi mendapatkan keuntungan, meskipun dengan cara yang tidak tepat dan menghadirkan keresahan bagi warga sekitar.

Kemunculan gepeng di tengah-tengah masyarakat tentunya didukung oleh beberapa faktor. Faktor-faktor kemunculan gepeng merupakan suatu bekal pemerintah untuk melakukan kajian yang kuat terhadap penanggulangan gepeng.

“Sehingga dapat dihasilkan sebuah strategi atau model dalam penanganan yang tepat. Yakni suatu model pencerahan untuk menanggulangi bertambahnya gepeng dalam jangka panjang,” jelasnya.

Dijelaskan Dadang Kurnaiwan, banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya gelandangan dan pengemis di kehidupan masyarakat. Mulai dari masalah kemiskinan, pendidikan, keterampilan kerja, sosial budaya, harga diri, kebebasan dan kesenangan.

Dan harus diakui memang, bahwa kemiskinan memberi kontribusi yang cukup besar dalam munculnya gelandangan dan pengemis. Seseorang atau kelompok tertentu hidup menggelandang dengan alasan menutupi kebutuhan keluarga, sehingga berbagai macam cara dapat dilakukan tanpa melihat efek dari perbuatannya tersebut.

“Kemiskinan membuat seseorang lupa diri akan aturan yang melekat pada masyarakat, gelandangan tidak peduli dengan norma maupun ketetapan yang telah disepakati,” terangnya.

Masalah pendidikan yang rendah, juga menyebabkan seseorang berbuat hanya mengandalkan ego priadi tanpa mempedulikan dampak yang akan diterima oleh orang lain.

Gepeng turun ke jalan dan meminta-minta dikarenakan tidak adanya kemampuan dalam menganalisa. Apakah kegiatan tersebut telah sesuai dengan aturan-aturan selama ini yang dijalankan dalam kehidupan masayarakat.

“Maka dari itu gelandangan dan pengemis biasanya berasal dari anak-anak yang putus sekolah, atau bahkan tidak pernah mencicipi pendidikan sama sekali. Ini tanggungjawab kita semua,” jelasnya.

Kemudian perpindahan dan urbanisasi, juga merupakan langkah awal bagi kemunculan gelandangan dan pengemis. Perpindahan dari desa ke kota menuntut para pencari kerja memiliki keterampilan yang memadai, sehingga dapat diserap di lapangan kerja.

Namun persaingan yang ketat ditambah dengan kurangnya pengalaman serta keterampilan para urban, menjadikan mereka tidak terserap di lapangan kerja. Sehingga akhirnya memutuskan untuk menggelandang dengan jalan meminta-minta.

“Hal-hal yang memungkinkan dapat meresahkan masyarakat dengan aktivitas yang dilakukan oleh gepeng serta untuk menjamin kesejahteraan dari gepeng itu sendiri, penanganan gepeng merupakan program yang semestinya segera dilaksanakan dengan cepat,” pungkasnya. (muis)

Categories: Adikarya Parlemen,Politik