Nasional

Survei Setahun Pemerintahan Jabar: Popularitas Dedi Mulyadi Tinggi, Tapi Tantangan Ekonomi Masih Jadi PR

BANDUNG, eljabar.com — Hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berada pada angka yang sangat tinggi, mencapai 95,5 persen. Temuan ini dipaparkan dalam rilis survei evaluasi satu tahun kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bandung, Februari 2026.

Angka tersebut menjadi salah satu approval rating tertinggi kepala daerah di Indonesia saat ini. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyebut dominasi tingkat kepuasan tersebut bukan hanya karena faktor kinerja pemerintahan, tetapi juga kuatnya komunikasi publik dan kedekatan personal Dedi Mulyadi dengan masyarakat.

Meski demikian, survei juga memperlihatkan ketimpangan persepsi publik terhadap pemerintahan secara keseluruhan. Kepuasan terhadap Pemprov Jawa Barat berada di kisaran 71 persen, jauh di bawah tingkat kepuasan terhadap figur gubernurnya. Gap ini menunjukkan personalisasi politik masih sangat kuat di Jawa Barat.

Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia Djayadi Hanan menilai tingginya kepuasan dipengaruhi kombinasi antara popularitas dan program yang mudah dirasakan masyarakat. Namun ia mengingatkan sejumlah sektor masih membutuhkan pembenahan serius, terutama ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan akses permodalan usaha kecil.

Data survei juga menunjukkan sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan mendapat penilaian relatif baik, sementara isu kesejahteraan ekonomi belum memberikan dampak merata. Disparitas ekonomi antarwilayah di Jawa Barat masih menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah.

Burhanuddin menilai tingginya dukungan publik justru bisa menjadi ujian berikutnya. Ia mengingatkan agar popularitas tidak berubah menjadi kultus individu, melainkan tetap dijaga dalam kerangka evaluasi rasional terhadap kebijakan publik.

Dengan tingkat kepuasan setinggi itu, posisi politik Dedi Mulyadi dinilai sangat kuat untuk kontestasi lokal. Namun perhatian publik mulai bergerak melampaui Jawa Barat, membuka kemungkinan wacana peran di tingkat nasional apabila tren elektabilitas terus meningkat.**

 Penulis : Firman Perkasa Yudha

Show More
Back to top button