Terobosan Baru Dalam Pengelolaan Sampah
ADIKARYA PARLEMEN
BANDUNG, elJabar.com – Saat kita melewati tumpukan sampah yang menggunung dan sudah membusuk, dengan reflek tangan kita menutup hidung, karena bau busuk sampah yang menyengat.
Namun tanpa kita sadari bahwa sampah itu, merupakan hasil yang di produksi dari kegiatan kita sehari-hari. Dimana tanpa kita sadari, bahwa kita sudah menyumbangkan bau busuk tersebut terhadap lingkungan dan mengancam kesehatan.
Bahkan bukan hanya bau busuk saja, tapi dengan menumpuknya sampah sampai bergunung-gunung di TPA, merupakan bom waktu yang dapat merenggut nyawa setiap manusia.
Mungkin kita masih ingat dengan tragedi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cireundeu-Leuwigajah Kota Cimahi, pada 21 Februari 2005 silam. Saat itu dua kampung tertimpa longsoran sampah dari TPA Cireundeu-Leuwigajah, yang merenggut 157 orang meninggal dunia.
Sebagai bahan renungan terhadap tragedi tersebut, menurut Anggota Komisi 4 DPRD Jawa Barat, Ir. Prasetyawati, sebaiknya mulai dari sekarang agar ada kesadaran terhadap pengelolaan sampah.
“Karena itu pengelolaan sampah yang tepat, mendesak untuk dilakukan. Tanpa langkah yang tepat, segudang masalah terkait pengelolaan sampah berpotensi terus membebani kita,” ujar Prasetyawati, kepada elJabar.com.

Pengelolaan sampah dengan berbasis pemberdayaan masyarakat, merupakan salah satu terobosan dalam upaya meminimalisir agar sampah tidak banyak masuk dan menumpuk di TPA. Karena pola tersebut merupakan bentuk lama yang jauh dari kepedulian terhadap lingkungan.
Saat Komisi 4 DPRD Jawa Barat melakukan kunjungan kerja beberapa waktu lalu ke Tempat Pengelolaan Sampah di RW 7 Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, Prasetyawati, mengapresiasi kelompok masyarakat yang sudah mampu mengelola sampah secara terpadu dengan cukup baik, bahkan memiliki nilai ekonomis.
Masyarakat di Kelurahan Melong, sudah melakukan pengelolaan sampah dengan cari memilah. Mulai dari sampah organik dan sampah an-organik. Dari hasil pemilahan dan pengolahan yang baik, maka sangat sedikit bahkan hampir tidak ada lagi sampah yang harus dikirim ke TPA.
“Banyak kelompok masyarakat yang menyadari dan mampu mengelola sampah secara swadaya dengan baik. Seperti di RW 7 Melong ini, bisa dicontoh oleh sejumlah kelompok masyarakat lain,” ungkapnya.
Volume sampah yang masuk setiap bulannya di RW 7 tersebut sekitar 4 ton. Dilokasi tersebut menurut Prasetyawati, pengelolaannya ada 4 macam. Menjadikan kompos/pupuk dari sampah organic, menjadikan pakan maggot dari sampah organic, mengolah biodigester, yang menghasilkan gas mettana dari sampah organik.
Kemudian pembakaran residu oleh mesin insenarasi berteknologi stungta dengan hasil akhir berupa abu. Mesin tersebut merupakan bantuan hibah dari Pemprov Jabar.
“Sedangkan untuk proses recycle dilakukan dilokasi terpisah, dengan memanfaatkan ibu-ibu PKK dan Karang Taruna. Ini sangat positif dan perlu ditiru,” pujinya.
Pemerintah dan masyarakat menurut Prasetyawati, harus berpikir bagaimana memulai upaya tersebut. Memulai bertanggungjawab terhadap sampah sendiri, yang diproduksi sehari-hari dalam rumah tangga.
“Mulai mengedukasi diri sendiri, untuk bertanggungjawab terhadap sampah yang dihasilkannya sendiri. Karena selama masih banyak sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir, ini bentuk kemandegan dan jauh dari perubahan,” jelasnya.
Untuk sebagai gambaran saja, misalkan apabila sebanyak 2,5 juta warga Kota Bandung menghasilkan 1.500 ton sampah per hari. Namun yang terangkut ke TPA Sarimukti Kab. Bandung Barat, hanya 1.000 ton.
Ada sebanyak 150-250 ton sampah memang sudah diolah oleh warga. Namun juga ada sekitar 250 ton sampah, kemungkinan menumpuk di tempat pembuangan sampah liar atau di bantaran sungai.
“Maka terjadi penumpukan sampah di TPA dan di tempat liar, diluar TPA. Inilah problem kita dalam pengelolaan sampah. Itu baru skala kota,” paparnya.
Jika dalam skala provinsi, jumlah sampah tentu lebih menggunung lagi, dan entah berceceran dimana. Dapat dibayangkan, dengan laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat sebesar 1,48 %. Dan saat ini, jumlah penduduk Jawa barat 18,37% dari total penduduk Indonesia.
Maka dengan jumlah populasi sebanyak itu, untuk skala provinsi ada sekitar 25 ribu ton sampai dengan 27 ribu ton sampah yang dihasilkan setiap harinya.
Inilah menurut Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jawa Barat, Prasetyawati, perlunya terobosan baru, dalam penanganan sampah untuk jangka panjang. Selain pemerintah mempersiapkan sarana infrastruktur pengelolaan sampah di TPA, juga perlu mengedukasi masyarakat, agar mulai meminimalisir pengiriman sampah ke TPA.
Yakni dengan cara mengurangi pemakaian barang yang berpotensi jadi sampah, serta mulai memproses sendiri sampah yang dihasilkannya, dengan cara memilah dan mana yang bisa dihancurkan sendiri, tanpa harus dikirim ke TPA.
“Perlu ada terobosan pengurangan dan pengelolaan sampah dengan parameter sederhana, supaya sampah yang masuk TPA berkurang,” pungkasnya. (muis)







