DP3AKB Jabar Bunyikan Alarm: Perkawinan Anak dan Pornografi Ancam Masa Depan Generasi

Bandung,eljabar.com — Kepala DP3AKB Jawa Barat Siska Gerfianti membunyikan alarm serius terkait ancaman perkawinan anak dan perilaku berisiko remaja di Jawa Barat. Dalam webinar kesehatan reproduksi yang diikuti ratusan peserta, ia menegaskan bahwa kekuatan keluarga menjadi benteng utama menjaga kualitas generasi menuju Jawa Barat Istimewa.
Hal itu disampaikan Siska saat membuka webinar “Ngobrol Sehat Reproduksi” bertema Keluarga Berkualitas Jawa Barat Istimewa: Kenali, Pahami, dan Jaga Masa Depan Keluarga, Rabu (20/5/2026), yang diikuti sekitar 900 peserta secara daring.
“Kalau keluarga-keluarga di Jawa Barat kuat, maka Jawa Barat akan istimewa,” ujar Siska.
Ia menyebut jumlah penduduk Jawa Barat yang hampir mencapai 51 juta jiwa harus diimbangi dengan peningkatan kualitas masyarakat secara menyeluruh. Salah satu perhatian utama, kata dia, adalah masih rendahnya kesadaran dan literasi masyarakat terkait kesehatan reproduksi.
Siska memaparkan sedikitnya empat persoalan besar yang masih dihadapi Jawa Barat, yakni kehamilan yang tidak diinginkan, perkawinan anak, perilaku berisiko di kalangan remaja, serta minimnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan reproduksi.
Menurutnya, persoalan perkawinan anak masih menjadi ancaman serius meski angka dispensasi kawin berhasil ditekan hingga tersisa sekitar 3.000 kasus pada tahun 2024. Ia mengingatkan, praktik perkawinan anak yang tidak tercatat secara resmi masih banyak terjadi di lapangan dan berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan maupun sosial dalam jangka panjang.
“Kalau perkawinan anak terjadi, maka organ reproduksinya belum matang. Dampaknya bisa memicu kehamilan berisiko, komplikasi persalinan, perdarahan hingga kematian ibu melahirkan,” katanya.
Tak hanya itu, Siska juga menyoroti keterkaitan antara perkawinan anak dengan tingginya risiko stunting. Bayi yang lahir dari pasangan usia anak disebut memiliki potensi lebih besar mengalami gangguan tumbuh kembang dibanding pasangan yang telah matang secara usia dan fisik.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengungkap keprihatinannya terhadap meningkatnya perilaku berisiko di kalangan remaja. Menurutnya, kemudahan akses terhadap konten pornografi melalui telepon genggam menjadi salah satu pemicu utama.
“Kalau menengok ke Lapas Anak, dari ratusan anak binaan, sebagian besar kasusnya terkait tindakan asusila. Ini menjadi alarm serius bagi kita semua,” ungkapnya.
Siska menegaskan, program keluarga berencana saat ini tidak lagi hanya berbicara soal pengendalian jumlah penduduk. Lebih dari itu, program tersebut diarahkan pada peningkatan kualitas keluarga melalui edukasi kesehatan reproduksi, penguatan peran orang tua, dan pencegahan perilaku berisiko pada generasi muda.
Ia juga meluruskan stigma yang berkembang di masyarakat terkait edukasi kesehatan reproduksi.
Menurutnya, pemahaman mengenai organ reproduksi bukanlah semata pendidikan seks, melainkan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan dan masa depan anak-anak.
“Pengetahuan kesehatan reproduksi adalah kebutuhan dasar keluarga agar generasi penerus tumbuh sehat dan berkualitas,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Siska mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi untuk membangun keluarga berkualitas sejalan dengan visi Panca Waluya yang digaungkan Dedi Mulyadi.
“Dengan keluarga yang kuat dan sehat, kita optimistis SDM Jawa Barat akan menjadi generasi yang cageur, bageur, bener, pinter, tur singer,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga DP3AKB Jawa Barat Iin Indasari menjelaskan webinar menghadirkan dokter spesialis obgyn Yassin Yanuar Muhammad serta Ketua Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia Julie Rostina. Acara dipandu Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana sekaligus Founder Family Journalism Najip Hendra SP.
Menurut Iin, peserta webinar berasal dari kader lini lapangan seperti Teladan KB, Motekar, kader PKK, hingga kader Posyandu yang selama ini menjadi ujung tombak pendampingan kesehatan keluarga di masyarakat.
“Peran kader sangat penting dalam edukasi dan sosialisasi kesehatan keluarga hingga tingkat akar rumput,” ujarnya.







