Jalan Rusak Akibat Diterjang Ombak di Batumarmar Ditangani, Break Water Akan Dibangun Tahun 2022

PAMEKASAN, eljabar.com – Jalan Raya Tamberu, Batumarmar, Kabupaten Pamekasan yang rusak diterjang ombak, telah ditangani sementara. Lobang jalan di kilometer 100+000, tak jauh dari jembatan Tamberu Alet sudah ditutup dengan campuran cor.
PPK 3.1 dari Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah III Provinsi Jawa Timur, Chandra Hervin Subandriyo mengungkap, kerusakan jalan di Tamberu Alet tersebut adalah penanganan yang bersifat sementara. Akan tetapi, penanganan tersebut tetap memperhatikan standar kelaikan.
“Mudah-mudahan pada tahun 2022 bisa dibangun breakwater,” ujar Chandra, yang dihubungi eljabar.com melalui pesan singkat, Sabtu (18/12/2021) siang.
Ia mengaku sudah mengajukan bangunan breakwater atau pemecah gelombang di lokasi tersebut agar dampak gelombang yang besar bisa direduksi dan tidak memengaruhi struktur dan konstruksi tembok pengaman pantai yang sudah ada.
Hal itu, dimaksudkan agar bangunan tembok penahan di lokasi tersebut stabil, sehingga lapisan tanah di bawah konstruksi jalan di pinggir pantai utara Pulau Madura itu tidak mengalami pergeseran. Sedangkan pekerjaan pengaspalan lapisan, Chandra mengatakan akan dilaksanakan minggu depan.
“Untuk lapisan aspalnya akan dikerjakan minggu depan, menunggu umur cornya matang,” kata Chandra.
Sebelumnya, pihaknya telah menurunkan tim untuk menangani kerusakan jalan tersebut tersebut pada Selasa, (07/12/2021).
Respon cepat itu dilakukan setelah menerima sejumlah laporan dari masyarakat yang menyebutkan bahwa di Jalan Raya Tamberu mengalami kerusakan akibat dihantam ombak besar yang dipicu.
Penanganan cepat yang dilakukan pihaknya itu dimaksudkan untuk menjaga faktor keselamatan masyarakat ketika melintasi jalan tersebut.
Pantauan eljabar.com juga melihat kondisi pantai di lokasi tersebut telah rusak. Menurut sejumlah warga setempat, hal itu disebabkan oleh aktivitas penambangan pasir laut yang tidak terkendali dan berlangsung sangat lama.
Energi gelombang yang besar tidak dapat diredam sehingga mengikis konstruksi tembok penahan jalan. Akibatnya, tanah dasar (sub grade) yang menjadi bagian dari struktur jalan di lokasi tersebut menjadi tidak stabil dan menyebabkan lapisan-lapisan jalan terjadi deformasi.
Peneliti dari Surabaya Institute Governance Studies (Sign’S), Rizkita Bethari menilai, jalan yang tepat berada di dekat pantai yang telah rusak perlu penanganan yang lebih komprehensif. Bangunan pengaman pantai, menurut Bethari, tidak akan cukup mampu menahan terjangan gelombang.
“Energi gelombang dan potensi terjadinya erosi harus menjadi pertimbangan agar konstruksi jalan yang ada di dekat pantai tidak mudah rusak,” katanya, Sabtu (18/12/2021).
Ia menambahkan, usulan untuk dibangun pemecah gelombang di ruas Jalan Raya Tamberu itu rasional.
“Secara teknis itu rasional dan dapat meminimalisir potensi kerusakan jalan,” pungkas alumni Universitas Brawijaya Malang ini.
Sementara itu, dilansir dari laman bmkg.go.id menyebutkan, la nina diperkirakan terjadi hingga bulan Februari 2022. Fenomena perubahan iklim akibat perubahan suhu muka air laut di Samudera Pasifik itu dapat memicu terjadinya curah hujan yang tinggi, angin puting beliung dan gelombang laut yang tinggi. (*wn/idr)







