BPW Building Engineers Association (BEA) Jawa Barat Resmi Dikukuhkan

BANDUNG, eljabar.com — Pengurus dan anggota Badan Pengurus Wilayah (BPW) Building Engineers Assosiation (BEA) Provinsi Jawa Barat telah resmi dikukuhkan oleh Ketua Umum BEA, Mardi Utomo dalam rangka membentuk kepengurusan daerah di Arion Swiss-Belhotel Bandung, Jl. Otto Iskandar Dinata No. 16, Pasir Kaliki, Bandung, Sabtu (11/07/2020).

Building Engineers Association Indonesia (BEA) adalah organisasi profesi non profit yang dibentuk sebagai wadah profesi dan forum silaturahim serta komunikasi antar sesama pelaku teknis pengelola bangunan gedung. BEA memiliki azas dan landasan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang memiliki riel kegiatan sosial dengan titik tolak pengembangan sumber daya manusia.

“Malam ini menjadi sejarah bagi engineer yang ada di Indonesia khususnya di Jawa Barat, diluar memang banyak asosiasi dibidang enginering hal tersebut membuat kami tidak sendiri dan BEA akan berkolaborasi dengan mereka. BEA tidak men-judge yang terbaik, tapi BEA akan berusaha menjadi yang terbaik,” kata Mardi Utomo, Ketua Umum BEA.

Indonesia memiliki wilayah yang luasnya sangat luar biasa sekali, mulai dari ujung barat hingga ujung timur dari utara hingga selatan memiliki 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Gedung yang ada di Indonesia dari data tahun 2015-2018, jumlah gedung disektor komersil dari mulai perkantoran, hotel, apartemen, mall, rumah sakit, sekolah dan industri total berjumlah 51.000 gedung.

Luar biasanya, lanjut Mardi, bila pada 1 gedung saja ada 1 orang engineer maka ada ada 51 ribu orang lebih yang bekerja di sektor komersiil ini. Padahal didalam 1 gedung besar terdapat pekerja sekitar 20 orang, sehingga potensi tenaga kerja dibidang pemeliharaan gedung ini sangat luar biasa.

Kita mengetahui, tambah Mardi, pada proses dalam mendirikan gedung terdapat proses atau siklus yang harus dilalui yakni proses perencanaan, kontruksi, testing komisioning, operasional dan maintenance selanjutnya renovasi. Dan BEA akan memposisikan pada proses operasional dan maintenance ini, karena ada permen PUPR yang mengatur pekerja disektor pemeliharaan bangunan gedung dibidang operasional dan maintenance ini.

“Menurut UU No. 28 tahun 2002 terkait dengan bangunan gedung, selanjutnya ada turunan undang-undang tersebut menjadi PP atau hal teknis lainnya, sedangkan BEA tetap memposisikan pada sektor operasional dan maintenance sesuai arah kebijakan pemerintah pada tahun 2020-2024 yakni pengembangan sumber daya manusia yang akan dikejar 5 tahun kedepan, salah satunya adalah pendidikan vokasi, sehingga BEA akan lebih fokus dalam program tersebut dengan SDM yang dimiliki untuk mengejar program tersebut,” papar Mardi.

Pada UU RI No. 2 tahun 2017 tentang Jasa Kontruksi, pada pasal 71 pembentukan lembaga sertifikasi dibentuk oleh asosiasi profesi terakreditasi atau lembaga pendidikan dan pelatihan yang mendapatkan rekomendasi dari Menteri. Sehingga BEA akan mensupport program pemerintah dengan sumber daya manusia yang BEA miliki dan berbagai cara menyiapkan programnya untuk mencapai jumlah anggota, pemberdayaan anggota, pemiliham pengurus secara demokratis, memiliki cabang. Sehingga kenapa hari ini BEA membuka cabang salah satunya adalah sebagai bentuk komplain terhadap peraturan ini.

BEA hadir pada tahun 2008 sebelumnya bernama Asosiasi Ahli Teknik Hotel Indonesia, teman-teman yang ada diluar sektor hotel merasa tidak terwadahi oleh asosiasi seakan-akan asosiasi ini exclusivity, sehingga kita harus menjawab teman-teman seprofesi yang dari mall, rumah sakit, lembaga pendidikan dan gedung-gedung lain yang diluar hotel sehingga kita rubah menjadi Asosiasi Ahli Tehnik Bangunan Gedung atau Building Engineer Assosiation (BEA). Dideklarasikan pada 22 Januari 2009 yang awalnya memang tidak membuka cabang hingga 10 tahun ini, karena proses akreditasi yang harus dijalankan sehingga kita harus membuka badan kepengurusan wilayah atau cabang, sehingga deklarasi pertama ada di Bandung ini dengan 11 orang pengurus.

“Kita flashback sedikit dengan berdirinya BEA dimaksudkan agar semua aspirasi engineers dapat terakomodir serta tersalurkan melalui lembaga ini. Nama BEA dipilih untuk mencakup semua ahli tehnik atau engineer yang berkecimpung dalam bidang teknis perawatan bangunan gedung dan tidak spesifik untuk nama atau bangunan tertentu,” kata Mardi lagi.

Target BEA melangkah untuk akreditasi dengan membentuk kepengurusan daerah agar mendapat pengakuan resmi dari pemerintah yang harus dilakukan adalah pemenuhan adalah salah satunya jumlah wilayah coverage nya harus memiliki cabang pada tahun 2020 ini targetnya 10 provinsi, sedangkan pada tahun 2021 dengan 15 provinsi yang ter-cover, pada tahun 2022 dengan 22 provinsi kota dan kabupaten, tahun 2023 dengan capaian 25 provinsi yang akan kita kejar, tahun 2024 dengan 30 provinsi dan tahun 2025 harus 34 provinsi harus BEA cover yang insya Allah dengan dibantu oleh rekan-rekan di Jawa Barat dan mitra yang mensupport target ini bisa kita realisasikan.

Kehadiran BEA, sambung Mardi, harus mampu menjawab tantangan kebutuhan operasional dan mantenance dilapangan dengan menyesuaikan peraturan daerah terkait dengan penyelenggaraan bangunan dan gedung agar tidak tumpang tindih dalam menjalankan profesinya.

Ditempat yang sama, Ketua BEA Jawa Barat terpilih, Asep Suherman usai dikukuhkan oleh pengurus pusat mengatakan, bahwa dengan keberadaan BEA Badan Pengurus Wilayah (BPW) Jawa Barat, kami memiliki pekerjaan rumah untuk menciptakan leader yang tidak hanya datang dari senior, seorang chief engineering (CE) akan mengetahui kesenioritasnya, kebanyakan yang dibawah hanya menjadi follower untuk menjadi CE, tidak pernah memiliki satu tujuan untuk menjadi leader yang dicita-citakan untuk dirinya sendiri.

“Bagaimana BEA Jawa Barat dapat mencetak CE menjadi leader-leader baru ditempat yang lain, hal tersebut merupakan target pertama kami. Sedangkan target kedua adalah menciptakan formula untuk mencapai target pertama tersebut. Makanya di BEA akan selalu memberikan training, training, training, share knowledge, share knowledge, share knowledge karena sebagai mandatory yang diberikan kepada kita kesetiap anggota BEA,” jelas Asep Suherman.

Menurut Asep, siapapun anggota BEA memiliki hak yang sama, anggota BEA juga tidak dibatasi oleh seorang chief engineer saja, jadi bisa datangnya dari non profesi chief engineer. Bila anggota asosiasi chief engineer lain beranggotakan ya chief engineering, jadi vendor tidak bisa masuk, accounting tidak bisa masuk, dokter tidak bisa masuk. Sedangkan BEA adalah asosiasi profesi, bahkan dokter bisa masuk, bila dokter akan influen dunia kedokteran tentang kenapa kita harus donor darah boleh saja share. Sehingga anggota BEA berhak mendapatkan pengetahuan dan ilmu lebih.

“BEA menciptakan generasi baru untuk leader yang akan datang. Menjawab dunia yang sudah globalisasi, BEA telah menciptakan leader-leader yang sudah kita preapare dari sekarang. Dalam ADRT disebutkan bahwa boleh profesional sebagai engineering atau non engineer, sehingga BEA boleh menerima anggota diluar engineer,” jelas Asep.

Beberapa waktu lalu BEA lounching training tentang accounting yakni perpajakan, sementara anggota BEA kebanyakan berprofesi sebagai chief engineering sehingga apa korelasinya antara accounting dengan engineering, ternyata ada. Engineering harus tahu tentang perpajakan, sehingga BEA tidak kaku dan harus fleksibel, knowledge harus kita sebar ke anggota tidak hanya tentang engineering saja tapi pengetahuan lain boleh masuk.

“Ketika non profesi akan masuk, benar-benar akan kita saring agar apa yang maksud dan tujuan calon anggota dapat terakomodir, sehingga bila sudah masuk tidak ada lagi ketidak puasan anggota setelah bergabung, hal tersebut tidaklah mudah. Sehingga anggota yang sudah bergabung dengan BEA Jawa Barat merupakan anggota yang open mainded tentang engineering,” papar Asep.

Anggota BEA harus membuka pola pikir, sehingga akan tahu yang ada disekeliling ada apa, setelah itu harus bagaimana dan harus melakukan sesuatu. Prinsip Open your maid, see everything around, thing about and do some thing, hal tersebut sangat penting untuk selalu disampaikan kepada teman-teman, meskipun sulit tapi kita bisa melakukan insya Allah.

Bersama organisasi lain, lanjut Asep, apapun kita bisa berkolaborasi dalam hal sertifikasi, dalam hal social responsibility, dalam hal litbang, dan dalam hal pengetahuan lain. Sehingga bila ada perbedaan dalam strategi suatu organisasi merupakan suatu hal yang wajar. BEA lebih menjadi lembaga sertifikasi, tapi dalam perjalanannya ada suatu program yang harus dijalankan. Jadi bisa saja anggota BEA menjadi anggota organisasi lain, hal tersebut merupakan hak anggota tersebut untuk mendapatkan pengetahuan lain melalui organisasi lain, jadi tidak ada kompetisi dalam BEA dengan organisasi lain walaupun sejenis. ***

Categories: Kronik