Uncategorized

DKP Jabar Dorong UMKM Perikanan dan Cari Solusi Tekan Biaya Pakan Pembudidaya

BANDUNG, eljabar.com – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat terus mendorong pelaku UMKM perikanan mendapatkan ruang pemasaran sekaligus mencari solusi atas tingginya biaya produksi yang dihadapi pembudidaya ikan.

Kepala DKP Provinsi Jawa Barat, Rinny Cempaka mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar bazar UMKM secara rutin dengan melibatkan pelaku usaha perikanan dan sejumlah perangkat daerah lainnya.

Hal itu disampaikan Rinny saat ditemui awak media di sela kegiatan bazar UMKM di halaman Kantor DKP Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat, 4 September 2026.

Menurutnya, ruang pemasaran masih menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku UMKM. Terlebih, tidak setiap saat tersedia kegiatan atau event yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk.

“Kami dari Dinas Kelautan dan Perikanan terus berupaya supaya secara rutin melakukan pemasaran dengan mengajak teman-teman UMKM, terutama untuk produk perikanan,” ujar Rinny.

Lebih dari 30 pelaku UMKM dengan berbagai jenis produk mengikuti kegiatan tersebut. DKP Jabar juga menggandeng sejumlah perangkat daerah, di antaranya Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dekranasda.

Keterlibatan lintas sektor membuat produk yang dipasarkan tidak hanya berasal dari sektor perikanan, tetapi juga produk pangan lain dan kerajinan.

Rinny mengatakan, aspek keamanan dan kelayakan produk juga menjadi perhatian. Para pelaku usaha didorong memenuhi berbagai persyaratan dan sertifikasi agar produk yang dipasarkan aman dikonsumsi masyarakat.

Selain bazar, kegiatan tersebut juga dilengkapi edukasi melalui podcast yang melibatkan pelajar dari tingkat TK, SD hingga SMA, serta pelaku usaha.

Materi edukasi antara lain mengenai peningkatan konsumsi ikan di masyarakat serta pentingnya menghasilkan produk perikanan yang bermutu dan berkualitas.

Di sisi lain, DKP Jabar juga tengah menghadapi tantangan pada sektor budidaya. Rinny mengungkapkan, produksi budidaya tahun ini mengalami penurunan yang salah satunya dipengaruhi kondisi musim.

Untuk menjaga produksi, DKP Jabar tetap menjalankan sejumlah program, mulai dari bantuan calon induk hingga fasilitas kolam bioflok bagi pembudidaya.

Pada komoditas ikan air tawar, Nila Nirwana masih menjadi salah satu yang terus dikembangkan. Penyediaan benih berkualitas juga didorong agar pembudidaya memperoleh hasil yang lebih optimal.

Namun, tingginya biaya pakan masih menjadi salah satu persoalan utama dalam usaha budidaya ikan.

“Urusan pakan ini juga jadi PR. Apalagi sekarang dolar juga naik, otomatis pakan ini naik terus harganya mengikuti karena kan impor,” kata Rinny.

DKP Jabar kini mulai menjajaki penggunaan maggot sebagai salah satu alternatif bahan pakan. Maggot dapat diolah menjadi tepung kemudian dicampurkan dalam pakan ikan untuk membantu menekan biaya produksi.

Selain itu, pemerintah provinsi juga tengah mengkaji kemungkinan bentuk bantuan yang dapat diberikan kepada pembudidaya.

Rinny mengatakan, skema tersebut harus disusun secara hati-hati agar tidak bertentangan dengan aturan, tidak menimbulkan penyalahgunaan, serta tidak menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat.

“Ini sedang kita coba kaji. Kira-kira yang paling pas bentuknya seperti apa, kemudian mekanismenya bagaimana, yang tentunya aman dan bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Kajian tersebut juga mendapat dorongan dari DPRD. DKP Jabar berharap dapat menemukan formulasi yang tepat sehingga langkah membantu pembudidaya menghadapi tingginya biaya pakan dapat mulai diuji coba pada 2027.

Rinny berharap berbagai upaya tersebut, mulai dari peningkatan kualitas produksi, pencarian alternatif pakan hingga pembukaan akses pemasaran, dapat membantu pelaku usaha perikanan di Jawa Barat terus berkembang.**

Reporter : Firman Perkasa Yudha

Show More
Back to top button