Iptek dan Peningkatan Kehidupan Bangsa - El Jabar

Iptek dan Peningkatan Kehidupan Bangsa

ADIKARYA PARLEMEN

BANDUNG, elJabar.com — Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa.

Sejalan dengan paradigma baru di era globalisasi yaitu Tekno-Ekonomi teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Implikasi paradigma ini adalah terjadinya proses transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya  menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan.

Pada ekonomi berbasis  pengetahuan, menurut Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jabar, H. Cecep Gogom,   kekuatan bangsa diukur dari kemampuan iptek sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing.

Pembangunan iptek merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia (SDM), yang pada gilirannya dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi.

Selain itu iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumberdaya menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai.

“Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan standar kehidupan bangsa dan negara, serta kemandirian dan daya saing bangsa Indonesia di mata dunia,” ujar H. Cecep Gogom, kepada elJabar.com.

Lemahnya daya saing bangsa dan kemampuan iptek ditunjukkan oleh sejumlah indicator. Diantaranya, rendahnya kemampuan iptek nasional dalam menghadapi perkembangan global menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam indeks daya saing pertumbuhan, teknologi merupakan salah satu parameter selain parameter ekonomi makro dan institusi publik.

Kemudian lemahnya daya saing, dapat dilihat juga dari rendahnya kemampuan iptek nasional juga dapat dilihat dari jumlah paten penemuan baru dalam negeri yang terdaftar di Indonesia, jauh lebih rendah dibanding paten dari luar negeri yang didaftarkan di Indonesia.

“Indikator lemahnya daya saing lain, yakni, rendahnya kontribusi iptek nasional di sektor produksi. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh kurangnya efisiensi dan rendahnya produktivitas, serta minimnya kandungan teknologi dalam kegiatan ekspor,” jelasnya

Lemahnya sinergi kebijakan iptek, menyebabkan kegiatan iptek belum sanggup memberikan hasil yang signifikan. Kebijakan bidang pendidikan, industri, dan iptek belum terintegrasi sehingga mengakibatkan kapasitas yang tidak termanfaatkan pada sisi penyedia, tidak berjalannya sistem transaksi, dan belum tumbuhnya permintaan dari sisi pengguna yaitu industri.

Masih terbatasnya sumber daya iptek, yang tercermin dari rendahnya kualitas SDM dan kesenjangan pendidikan di bidang iptek. Kecilnya anggaran iptek berakibat pada terbatasnya fasilitas riset, kurangnya biaya untuk operasi dan pemeliharaan, serta rendahnya insentif untuk peneliti.

“Lemahnya sumber daya iptek diperparah oleh tidak adanya lembaga keuangan modal ventura dan start-up capital, yang diperlukan untuk sumber pembiayaan inovasi-inovasi baru,” sesalnya.

Budaya bangsa secara umum masih belum mencerminkan nilai-nilai iptek yang mempunyai penalaran obyektif, rasional, maju, unggul dan mandiri. Pola pikir masyarakat belum berkembang ke arah yang lebih suka mencipta daripada sekedar memakai, lebih suka membuat daripada sekedar membeli, serta lebih suka belajar dan berkreasi daripada sekedar menggunakan teknologi yang ada.

Kemajuan iptek berakibat pula pada munculnya permasalahan lingkungan. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh belum berkembangnya sistem manajemen dan teknologi pelestarian fungsi lingkungan hidup.

“Sistem tersebut akan mendorong pengembangan dan pemanfaatan iptek yang bernilai ekonomis, ramah lingkungan dan mempertimbangkan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat,” jelasnya.

Terakhir indicator lemahnya daya saing bangsa dan kemampuan iptek menurut H. Cecep Gogom, yakni masih lemahnya peran iptek dalam mengantisipasi dan menanggulangi bencana alam.

Wilayah Indonesia dalam konteks ilmu kebumian global merupakan wilayah yang rawan bencana. Banyaknya korban akibat bencana alam merupakan indikator bahwa pembangunan Indonesia belum berwawasan bencana.

“Kemampuan iptek nasional belum optimal dalam memberikan antisipasi dan solusi strategis terhadap berbagai permasalahan bencana alam. Mulai dari pemanasan global, anomali iklim, kebakaran hutan, banjir, longsor, gempa bumi dan tsunami,” pungkasnya. (muis)

Categories: Adikarya Parlemen,Politik