Menu Basuk hingga Dugaan Tampar Karyawan, SPPG Yayasan Alif Batuputih Disorot, Fawaid Pilih Bungkam

SUMENEP, Eljabar.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Alif, Desa Batuputih Laok, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, terus menuai sorotan. Dalam beberapa waktu terakhir, sederet persoalan mencuat ke publik, mulai dari dugaan menu tak sesuai standar gizi nasional, pembagian makanan rangkap hari, hingga laporan dugaan kekerasan terhadap karyawan.
1. Menu Diduga Tak Penuhi Standar Gizi Nasional
Keluhan pertama datang dari sejumlah wali siswa yang menilai kualitas menu MBG di dapur tersebut tidak sesuai standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Wawan (31), wali siswa asal Desa Batuputih Kenek, menyebut makanan yang diterima anak-anak hanya berupa nasi putih, telur goreng, tahu goreng, irisan mentimun dan tomat, sambal, serta satu buah salak. Bahkan, ia menduga ada nasi yang sudah basi dan buah dalam kondisi tidak segar.
“Kalau sampai terjadi keracunan, siapa yang bertanggung jawab? Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” ujarnya.
Ia meminta evaluasi menyeluruh terhadap kualitas bahan pokok dan pengawasan ahli gizi di dapur tersebut.
2. Dugaan Pembagian Menu Dua Hari Sekaligus
Kasus lain yang mencuat adalah dugaan pembagian jatah MBG untuk dua hari sekaligus. Seorang guru SMK berinisial K mengungkapkan, menu Kamis dan Jumat pernah dibagikan bersamaan karena sekolah di bawah Kemenag libur pada Jumat.
Akibatnya, roti yang dikonsumsi siswa keesokan harinya terasa asam dan diduga sudah tidak layak makan.
Dalam pedoman umum MBG, distribusi makanan dilakukan secara harian (day-to-day distribution). Menu basah tidak diperbolehkan untuk konsumsi keesokan hari kecuali dalam kondisi darurat, karena berisiko menimbulkan gangguan keamanan pangan (food safety hazard).
Pemilik yayasan, H. Mawardi, membenarkan pembagian rangkap hari tersebut dengan alasan teknis libur sekolah. Ia mengklaim pihaknya telah melakukan pengawasan internal dan menyimpan sampel makanan di freezer.
3. Dugaan Kekerasan terhadap Karyawan
Di tengah polemik kualitas makanan, dapur SPPG Yayasan Alif juga diterpa laporan dugaan penganiayaan terhadap karyawan berinisial M.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis (5/2/2026) sekitar pukul 10.00 WIB di dapur MBG Dusun Berombak. Korban yang sedang memilah sisa makanan didatangi seorang perempuan berinisial ZN dan dituduh menyembunyikan telur. Insiden tersebut berujung dugaan tindakan fisik.
Plt. Kasi Humas Polres Sumenep, Kompol Widiarti S, membenarkan adanya laporan tersebut.
“Korban mengalami lebam pada tangan kanan dan melapor ke Polsek Batuputih. Saat ini masih proses pemeriksaan saksi dan menunggu gelar perkara,” jelasnya.
ZN diketahui merupakan istri dari salah satu pengurus yayasan yang menaungi dapur MBG tersebut.
Kepala SPPG Pilih Bungkam
Di tengah rangkaian persoalan itu, Kepala SPPG Yayasan Alif Batuputih, Moh. Fawaid, belum memberikan penjelasan terbuka kepada publik. Saat dikonfirmasi terkait dugaan menu tak sesuai standar, pembagian rangkap hari, hingga kasus dugaan kekerasan, ia hanya menyampaikan bahwa harus meminta izin pimpinan karena ada SOP internal yang harus diikuti.
Hingga berita ini disusun, tidak ada keterangan lanjutan yang diberikan.
Sederet kasus yang terjadi di SPPG Yayasan Alif Batuputih ini memunculkan pertanyaan serius tentang pengawasan, standar keamanan pangan, serta tata kelola internal pelaksanaan program MBG di tingkat dapur. Program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi siswa kini justru berada di bawah bayang-bayang polemik dan menunggu evaluasi menyeluruh dari pihak berwenang.(Ury)







