Mewaspadai Modernisasi Santri - El Jabar

Mewaspadai Modernisasi Santri

Yuyun Suminah, A.Md.

WAKIL Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menyatakan ingin mendeklarasikan gerakan Santri Pancasila lantaran banyaknya kelompok yang mengatasnamakan santri namun tindakannya tidak sejalan dengan Pancasila. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendukung rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendeklarasikan gerakan Santri Pancasila (antaranews 27/11/2020).

Program tersebut bukan tanpa alasan pemerintah menggagasnya karena banyak santri yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Kritis disini adalah menyinggung setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, padahal kebijakan tersebut tidak pro rakyat seharusnya wajar kalau dikritisi. Ini sama saja ‘mematikan’ sikap kepedulian para santri terhadap bangsanya, bukankah dalam demokrasi memberikan kebebasan kepada setiap warganya untuk berpendapat?

Ketika kebijakan pemerintah dikritisi oleh rakyatnya atau bahkan para santri, seharusnya pemerintah bercermin kembali atas kebijakan yang telah ditetapkannya. Tujuan dari dibentuknya deklarasi ini adalah membentuk santri yang berjiwa pancasila. Berjiwa pancasila yang seperti apakah yang dimaksud oleh pemerintah?

Kalau kita melihat kembali sila ke satu Ketuhanan yang Maha Esa, para santri adalah seorang penuntut ilmu agama yang dekat dengan Penciptanya, menjalankan konsekuensi keimananya dengan taat kepada apa-apa yang tertulis di dalam Alquran dan assunnah. Bukankah sudah sesuai dengan pancasila?

Dengan adanya gerakan santri pancasila pemerintah menganggap para santri selama ini tidak pancasilais. kalau kita melihat sejarah justru para santrilah pelopor kemerdekaan garda terdepan dalam membela bangsa ini dari kafir penjajahan.

Upaya Modernisasi Santri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Arus globalisasi merajalela dapat merubah semua sistem kehidupan termasuk di dalamnya sistem pendidikan dan tentunya berimbas terhadap gaya hidup santri. Yang sebelumnya pemerintah dengan kebijakannya mengotak-atik Perda pesantren kini giliran para santrinya. Pesantren dan santrinya berhadapan dengan modernisasi pendidikan, yang nanti dengan mudahnya sikap intoleran terhadap budaya asing.

Bila kita cermati modernisasi santri perlu kita waspadai karena ada 4 poin yang membahayakan pemikiran para santri.

  1. Menggerus Iman.

Ketika budaya asing masuk ke dunia pesantren maka gaya hidup santri pun akan terpengaruh, santri yang kritis, loyal terhadap agamanya, berkepribadian Islam kini nilai itu mulai bergeser tergerus oleh modernisasi. Ketika modernisasi hanya sebatas teknologi dan santri diharuskan melek media, jika ini tidak diimbangi oleh ilmu agama akan berdampak buruk, maka iman adalah bentengnya.

  1. Menciptakan Islamofobia.

Memaknai modernisasi dengan sepenuhnya tanpa memilah-milah ini sudah dipastikan akan menghancurkan generasi Islam dengan istilah-istilah yang fobia terhadap ajarannya sendiri. Para santri akan merasa takut dengan ajarannya sendiri padahal ajarannya jelas tertulis di dalam Alquran dan assunnah.

  1. Menyerang Syariat.

Modernisasi santri seperti memberi pesan ketika para santri menjalankan syariatNya menutup aurat dengan sempurna dilengkapi dengan pemakaian cadar mereka akan dicap radikal, dikait-kaitkan dengan istilah lebih cinta budaya Arab dibandingkan budaya Indonesia. Padahal menutup aurat kewajiban bagi semua muslimah tidak tersekat oleh negara.

  1. Menghambat Laju Kebangkitan Islam.

Jika wajah Islam digambarkan dengan narasi buruk oleh Barat dan diterima tanpa perlawanan yang berarti di tengah kaum muslimin sendiri, sesungguhnya yang demikian itu terjadi dari sebuah kerja panjang dan sistematis yang dilakukan oleh Barat berkolaborasi dengan rezim di negeri kaum kaum muslimin.

Barat paham betul, Islam adalah sebuah agama yang mempunyai ideologi, pemikiran, dan paham. Inilah kekuatan kaum muslimin. Oleh karenanya, agar tetap lemah dan tetap dalam hegemoni Barat, mereka jauhkan Islam ideologis-Islam politis dari kaum muslimin.

Islam hanya diletakkan di ruang privat, seputar ibadah dan akhlak. Walhasil kaum muslimin tak mengenal politik Islam, ekonomi Islam, tata sosial dalam Islam. Justru mereka familiar bahkan berkubang dalam sistem politik demokrasi dan ekonomi kapitalis yang ribawi.

Maka dari itu, dibutuhkan hadirnya kembali kesadaran umat terhadap Islam politik, demi kembalinya kemuliaan di tangan mereka dengan bersatunya kaum muslimin dalam naungan syariatNya. Institusi politik yang akan membungkam narasi-narasi buruk tentang Islam, menenggelamkan makar kaum kuffar.

Wallahu a’lamu.

 

Penulis adalah Yuyun Suminah, A.Md, Seorang Guru di Karawang.

Categories: Kronik,Pendidikan