Pelet Bhetteng, Salah Satu Tradisi yang Hingga Saat Ini Tetap Dilestarikan Masyarakat Madura – El Jabar

Pelet Bhetteng, Salah Satu Tradisi yang Hingga Saat Ini Tetap Dilestarikan Masyarakat Madura

PAMEKASAN, eljabar.com – Pulau Madura dikenal mempunyai budaya dan tradisi yang beragam. Hingga kini, budaya dan tradisi tersebut tetap terjaga, salah satunya adalah tradisi ‘pelet kandhung’ atau ‘pelet bhetteng’.

Tradisi ini merupakan serangkaian ritual untuk memperingati kehamilan yang telah memasuki usia tujuh bulan atau 49 minggu.

Biasanya, tradisi pelet kandung atau pelet bhetteng dilaksanakan dengan meriah, terutama pada hamil pertama. Meski pun pada masa hamil kedua dan seterusnya juga tetap dilakukan, namun perayaannya tidak semeriah pada kehamilan pertama.

Terdapat 5 tahapan dalam upacara adat masyarakat Madura untuk bisa melaksanakan ‘pelet kandung’ atau ‘pelet bhetteng’. Tahap pertama, seorang wanita yang hamil pertama kali tersebut akan dipijat pada bagian perutnya.

Kemudian dilanjutkan dengan penyebaran ayam jenis tertentu dan langka. Setelah itu wanita yang hamil pertama kali tersebut akan menginjak telur ayam dan kelapa muda. Kelapa yang digunakan juga jenis tertentu. Di Madura kelapa itu dikenal dengan nama ‘nyior geddhing’, jenis kelapa yang kulitnya berwarna kuning.

Selanjutnya, ibu yang hamil tersebut akan dimandikan dengan air yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Terakhir, ritual pelet kandung akan ditutup dengan selamatan kandungan atau ‘orasol’.

Seluruh rangkaian ritual ‘pelet kandung’ atau ‘pelet bhetteng’ tersebut dilakukan pada saat bulan purnama setelah sholat dhuhur. Malam bulan purnama dianggap sebagai malam pertimbangan yang dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.

Upacara ini sering dilakukan oleh masyarakat madura yang tinggal di daerah Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan hingga Sumenep.

Sutrisno ayah dari seorang ibu yang tengah hamil pertama menuturkan bahwa prosesi ritual ‘pelet bhetteng’ adalah salah satu budaya lokal asli warga madura yang patut dijaga krestariannya.

Ritual pelet kandung di Madura dipimpin oleh seorang dukun bayi atau dukun beranak dan dibantu oleh seorang nenek dari perempuan yang sedang hamil.

Dua keluarga besar turut terlibat dalam upacara siraman pelet kandhung. Mereka adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil maupun orang tua dan kerabat dari pihak suaminya.

“Pada sesi siraman dua keluarga ikut menyiramkan air yang telah dicampur dengan kembang tujuh rupa,” kata Sutrisno.

Upacara adat  ‘pelet kandung’ atau ‘pelet bhetteng’ dilakukan oleh masyarakat Madura dengan diwarnai budaya Islami.

Diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci al-quran yaitu Surat Maryam dan surat Yusuf oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyai atau tokoh setempat. (idrus)

Categories: Kronik