Peluang Emas Pedagang Sawo Sukatali di Even Paralayang Dunia

SUMEDANG, eljabar.com — Kejuaraan Dunia Paralayang yang akan digelar di tiga lokasi di Kabupaten Sumedang yaitu Kampung Toga, Batudua dan Jatigede sudah mulai terasa gaungnya.

Mulai tanggal 22 sampai dengan 28 Oktober 2019 masyarakat Kabupaten Sumedang akan dimanjakan dengan atraksi lebih dari 160 pilot paralayang dari 21 negara di dunia yang akan menghiasi langit di sekitar Sumedang.

Kejuaraan paralayang kelas dunia ini akan menampilkan tiga kelas berbeda yaitu cross country, accuracy, dan festifly.

Tak ketinggalan dengan para pelaku usaha yang dari jauh-jauh hari sudah menantikan event berkelas dunia ini, diantaranya adalah para pedagang buah sawo yang ada di Desa Sukatali Kecamatan Situraja.

Diharapkan dengan diadakannya paralayang kelas dunia ini, akan berdampak ekonomis terhadap penjualan sawo di Sukatali karena Sukatali sendiri berada di jalur perlintasan yang nantinya akan banyak dilalui rombongan atlet dan ofisial yang akan berlomba di Batudua dan Jatigede, termasuk dilalui oleh para penonton yang akan menyaksikan jalannya lomba.

Sukatali merupakan sentra buah sawo terbesar di Kabupaten Sumedang. Di sepanjang jalan kita akan mendapati kios-kios di pinggir jalan yang menjajakan buah ini.

Varietas sawo yang dikembangkan di Sumedang khususnya di Desa Sukatali adalah Varietas Sukatali ST-1 (Sumedang Tandang 1) yang telah dirilis oleh Menteri Pertanian tahun 2002 sebagai varietas unggul.

Sawo ini tergolong sawo apel yang dicirikan dengan buahnya yang berbentuk bulat seperti buah apel, walaupun ada juga yang berbentuk lonjong. Ukurannya bervariasi mulai dari yang terkecil sebesar telur ayam sampai terbesar sebesar bola kasti.

Selain rasanya manis dan segar, ternyata sawo juga dikenal memiliki banyak kandungan nutrisi dan vitamin yang sangat baik untuk tubuh manusia, bahkan dipercaya memiliki khasiat untuk kecantikan seperti menghaluskan kulit.

Beberapa protein yang penting untuk kebutuhan tubuh manusia terkandung dalam buah sawo seperti protein nabati, lemak sehat, kalsium, karbohidrat, dan fosfor. Adapun kandungan vitaminnya meliputi vitamin A, vitamin B1, vitamin C, dan vitamin E. Tak hanya itu, kandungan seratnya banyak terdapat di setiap buah yang matang sehingga bagus untuk pencernaan.

Ai (44) salah seorang pelaku usaha Sawo Sukatali mengatakan, Sawo Sukatali mempunyai ciri khas yang berbeda dengan sawo yang lain, antara lain bisa bertahan disimpan sampai seminggu sejak matang untuk dimakan.

“Selain memiliki rasa manis yang tidak dimiliki oleh jenis sawo lain, Sawo Sukatali juga mempunyai daya simpan yang lebih lama sehingga sangat cocok untuk dijadikan buah tangan,” kata istri Kepala Desa Sukatali tersebut.

Keunggulan lainnya, lanjut Ai, teknologi budidaya Sawo Sukatali tidak mengenal penggunaan pestisida alias bebas residu pestisida dan bahan kimia lain yang berbahaya bagi kesehatan.

“Sudah saatnya kita mengurangi buah impor dengan nilai gizi dan residu pestisida yang tidak diketahui, harga yang lebih mahal dan rasa yang kurang sesuai dengan lidah kita,” ujar Ai.

Ai yang juga memiliki kebun sawo lebih dari 5 hektar ini berharap dengan akan digelarnya even paralayang kelas dunia ini, penjualan sawonya akan meningkat dibanding hari-hari biasanya.

“Biasanya saya bisa menjual kurang lebih 50 kilo dalam sehari, kecuali jika akhir pekan penjualannya bisa lebih. Saya harap nanti sepanjang even paralayang penjualan akan jauh lebih meningkat dengan banyaknya wisatawan yang akan melintasi Sukatali,” ujarnya penuh harap. (Abas)

Advertisement

Categories: Kronik