Reform Corner Seri 2 Pemkab Sumedang: Manajemen Perubahan di Era Pandemi - El Jabar

Reform Corner Seri 2 Pemkab Sumedang: Manajemen Perubahan di Era Pandemi

SUMEDANG, eljabar.com — Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, Pemda Kabupaten Sumedang melaksanakan kegiatan Reform Corner Seri 2 bertajuk Manajemen Perubahan di Era Pandemi yang dilaksanakan melalui Video Conference di ruang kerja masing-masing peserta, Kamis (11/6/2020).

Bupati Sumedang Dr. H. Dony Ahmad Munir, Sekretaris Daerah Herman Suryatman beserta para Kepala Perangkat Daerah mengikuti kegiatan tersebut dengan menghadirkan narasumber Frans Sugiarta selaku Director of United in Diversity Forum dan Kang Yoto sebagai Chancellor Creative Campus United in Diversity.

Dalam pengantarnya Bupati mengatakan, kegiatan Reform Corner dipandang sangat aktual dengan kondisi saat ini dimana semua dihadapkan dengan Pandemi Covid-19.

“Karena dalam kondisi seperti ini, tentunya manajemen perubahan sangat dibutuhkan dan manajemen penyelenggaraan Pemkab Sumedang pun harus berubah. Jadi manajemen kita dalam situasi under preasure seperti ini atau sedang dihadapkan pada wabah yang belum pernah ada sebelumnya dan belum mengetahui teknik dan obatnya. Tentunya kita butuh kreatifitas atau inovasi dalam menjalaninya. Biasanya ketika ada wabah atau musibah seperti ini akan ada lompatan-lompatan berfikir pada diri kita,” ujarnya.

Dikatakan Bupati, dibutuhkan kreatifitas dan inovasi pada ASN yang ada di Kabupaten Sumedang yang keduanya bisa didapatkan ketika mau belajar.

“ASN harus hadir menjadi bagian yang menangani Covid-19. Selain itu, seluruh ASN harus hadir membuat kebijakan, menetapkan program dan kegiatan dalam rangka mengatasi masalah yang ada pada pemerintahan kita. Intinya kita harus paham akan masalah. Selain itu, harus tahu. Kemudian harus hadir untuk mengatasi masalah,” paparnya.

Dikatakan Bupati lebih lanjut, manajemen pemerintahan akan mengalami banyak perubahan. Salah satu kata kunci menghadapi situasi tersebut, masyarakat harus bisa beradaptasi. Pilihan utamanya adalah harus terbiasa melakukan hal-hal yang sifatnya online.

“Terima kasih kepada para ASN. Di tengah situasi Pandemi Covid ini kita bisa membuat berbagai aplikasi. Mulai dari aplikasi Markonah, Maijah, Amari, Mauneh dan aplikasi-aplikasi lainnya. Selain itu, e-office di pemerintahan juga sudah berjalan,” ungkapnya.

Menurut Bupati, hal-hal tersebut merupakan lompatan berfikir yang dapat mempercepat Sumedang sebagai Digital Region terutama dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“Harapan saya di era pandemi ini manajemen kita harus ada perubahan. Pemerintah harus terus menerus melakukan perbaikan sehingga menghasilkan pemerintahan yang berdaya guna dan berhasil guna, baik dalam menjalankan Tupoksinya untuk mewujudkan target kinerja, maupun dalam menghadapi Pandemi seperti ini. Outputnya rakyat akan mendapatakan pelayanan yang lebih baik dan masyarakat akan sejahtera,” pungkasnya.

Semetara itu, narasumber Frans Sugiarta memaparkan, kapasitas pimpian Indonesia abad 21 meliputi Big Data & technology Literacy, artinya memiliki literasi dalam mengelola big data dan teknologi terkini.

“Selain itu, ada transformational relationship builder yang berarti membangun kemitraan dan hotong royong,” ucapnya.

Ditambahkan Frans adapula strategic & ecosystem centric approach in decisions making yang berarti kemampuan berfikir dan mengambil keputusan strategis dalam perspektif ekosistem.

“Kapasitas pemimpin juga harus dilengkapi dengan kemampuan dalam berkomunikasi, terutama dalam menjalankan dialog lintas batasan,” tukasnya.

Kang Yoto selaku narasumber ke dua memaparkannya pengalamannya sebagai Bupati Bojonegoro yang mampu mengangkat Kabupaten Bojonegoro, dari Kabupaten miskin menjadi Kabupaten yang mampu membangkitkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

“Dalam mengelola perubahan pelajaran yang saya peroleh adalah kita harus berani berproses. Terdapat 4 hal yang saya alami saat itu, pertama adalah bagaimana melihat kasus dalam persfektif yang lebih luas. Lalu mengintegrasikan hati, pikiran, dan tangan. Dan terakhir adalah jika ingin bertransformasi kita harus menciptakan ruang belajar bersama-sama seperti saat ini,” jelasnya.

“Ini yang saya lakukan, dan akhirnya saya meyakini bahwa gol daripada pemerintahan itu ujung-ujungnya adalah bagaimana kita dapat kepercayaan publik dan partisipasi public,” pungkasnya. (Abas)

Categories: Pemerintahan