Regional

Setiap Tahun Alami Peningkatan, Sumedang Miliki 342 Kasus HIV AIDS

SUMEDANG, eljabar.com — Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Sumedang dari tahun ketahun cenderung mengalami peningkatan, namun upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dalam menekan jumlah kasus HIV AIDS terus di optimalkan dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait seperti Dinas Kesehatan (Dinkes), Badan Narkotika Nasional (BNN) dan pihak terkait lain.

Hal itu disampaikan Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumedang, Retno Ernawati didampingi Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumedang, dr. Renny K Anton, Kasie Kesehatan Keluarga dan Gizi, Ai Andriany dan Kasie Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) dr. Rahmatullah Sidik kepada wartawan di Saphire City Park Sumedang, Selasa (21/1/2020).

“Ada beberapa langkah yang akan kami laksanakan bersama stakeholder terkait dan akan terus berupaya menurunkan kasus baru terkait dengan HIV AIDS juga bagaimana dalam menurunkan angka kematian terlebih, adanya stigma diskriminasi kepada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA),” ujar Retno.

Retno mengatakan, pada tahun 2019 lalu, di Sumedang terdapat 114 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 6 orang akibat HIV AIDS. Selain itu, jumlah kumulatif orang yang pernah masuk perawatan sebanyak 342 terdiri dari, laki laki sebanyak 211 dan perempuan sebanyak 131 orang.

“Penularan HIV AIDS di Sumedang pada umumnya terjadi akibat cairan tubuh yang mengandung HIV melalui kontak seksual baik heteroseksual, homoseksual, maupun biseksual, kontak darah seperti transfusi, penggunaan jarum suntik berulang, akupuntur, tindik, tatoo dan dari ibu ke anak melalui proses persalinan serta saat pemberian ASI,” katanya.

Dikatakan, terdapat kelompok resiko tinggi terhadap penularan HIV AIDS yakni, pada pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya, serta narapidana.

“Infeksi HIV AIDS saat ini juga telah mengenai semua golongan masyarakat, baik kelompok resiko tinggi maupun masyarakat umum. Hal ini terbukti dari bayi yang tertular HIV melalui ibunya menunjukkan tahap lebih lanjut dari tahap heteroseksual,” ujarnya.

Lebih dari itu, sambung Retno, kasus HIV AIDS cenderung terus bertambah di usia produktif, sehingga perlu ada upaya untuk mencegah secara optimal dan efektif.

“Patut diwaspadai, perubahan gaya hidup sangat berpotensi menimbulkan kasus baru, kurangnya pemahaman yang benar dan lengkap mengenai HIV AIDS serta efek domino yang ditimbulkan dari kasus HIV AIDS positif,” terangnya.

Berkaca dari itu, sambung Retno, pihaknya akan bekerjasama dengan instansi terkait lain dalam menekan angka HIV AIDS di Sumedang melalui sejumlah program seperti, quartely meeting, secara mobile ke populasi kunci, set up layanan Voluntary Counselling and Testing (VCT), Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Antiretroviral (ARV).

“Kami pun laksanakan layanan komprehensip berkesinambungan, supervisi, peningkatan kapasitas kader peduli TB HIV AIDS, penjangkauan terhadap populasi kunci dan pendampingan bagi ODHA,” tandasnya. (Abas)

Show More
Back to top button