Strategi Upaya Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis - El Jabar

Strategi Upaya Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis

ADIKARYA PARLEMEN

BANDUNG, elJabar.com — Menjamurnya gelandangan dan pengemis (gepeng) merupakan persoalan yang tidak bisa dianggap enteng. Sehingga penanggulangan gepeng menjadi tanggungjawab berbagai pihak dan berbagai kalangan, khususnya pemerintah.

Maraknya gepeng ini, memperlihatkan penanggulangan gelandangan dan pengemis selama ini  belum dilaksanakan dengan maksimal.

Pemerintah maupun swasta merupakan kelompok yang berkewajiban dalam menyelesaikan permasalahan penanggulangan gepeng, sehingga penanganan dari berbagai kalangan dapat disatukan dalam visi besar, yakni pemberantasan gelandangan dan pengemis demi terciptanya kesejahteraan mereka dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

Dalam penanganan gelandangan dan pengemis menurut Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jawa Barat, Dadang Kurniawan, dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan. Mulai dari pendekatan panti, lingkungan pondok sosial, transit home, pemukiman, dan transmirgasi.

Pendekatan panti bertujuan untuk terciptanya komunikasi yang baik antara satu pihak dengan pihak yang lain, terutama masalah motivasi untuk segera bangkit dari kehidupan menggelandang, sehingga diharapkan ada kemauan dari gepeng untuk berubah bersama-sama.

Kebersamaan dalam panti dan diimbangi dengan keterampilan yang diberikan menjadikan gepeng menguasai keahlian tertentu yang nantinya akan bermanfaat dan dapat dikembangkan sebagai modal keterampilan dalam membuka usaha dan peluang kerja.

“Dalam pendekatan panti, penanganan gelandangan dan pengemis disediakan tempat tinggal dengan sarana dan prasarana lengkap, yang dihuni oleh beberapa keluarga,” ujar Dadang Kurniawan, kepada eljabar.com.

Kemudian pendekatan sistem Lingkungan Pondok Sosial (liponsos). Liponsos merupakan bentuk penanganan gelandangan dan pengemis yang lebih mengedepankan sistem hidup bersama di dalam lingkungan sosial, sebagaimana layaknya kehidupan masyarakat pada umumnya.

Kehidupan yang dibangun dalam sistem liponsos mirip dengan model pendekatan panti, hanya saja cakupan liponsos lebih luas. Lingkungan liponsos sudah seperti layaknya lingkungan pergaulan di masyarakat.

“Sehingga penanganan ini diharapkan gelandangan dan pengemis bisa mencoba hidup sesuai dengan aturan-aturan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tertentu,” jelasnya.

Berikutnya adalah penanganan model Transit home, dimana pendekatan ini merupakan tempat penanganan gelandangan dan pengemis yang bersifat sementara, sebelum mendapatkan pemukinan tetap pada tempat yang disediakan.

Transit home hanya merupakan peralihan kehidupan dari jalanan atau menggelandang, menuju kehidupan dengan tempat tinggal tetap, baik berupa liponsos maupun lingkungan masyarakat secara umum.

“Disini gelandangan dan pengemis memulai mengenali diri sendiri, dengan pembekalan sederhana sebagai bentuk kesiapan untuk segera berbaur dengan keidupan di masyarakat,” terangnya.

Lalu berikutnya lagi adalah model pemukiman masyarakat. Pendekatan ini merupakan bentuk penanganan gelandangan dan pengemis dengan menyediakan tempat tinggal permanen di lokasi tertentu.

Penempatan gepeng dalam sebuah tata hubungan masyarakat dilakukan ketika mereka benar-benar siap untuk hidup berdampingan dengan masyarakat. Tentunya dengan bekal dan keterampilan yang telah didapatkan semasa pemberdayaan sebelumnya. Baik dalam bentuk penyuluhan di rumah panti, ataupun bentuk peningkatan kualitas kepercayaan diri pada liponsos.

Kemudian cara terakhir untuk menanggulangi gelandangan dan pengemis adalah dengan penanganan model program transmigrasi.

Gelandangan dan pengemis dalam penanggulangannya dapat diberlakukan sistem transmigrasi, yaitu dengan cara mengirimkan para gepeng ke luar daerah bahkan ke luar pulau, sehingga kepadatan penduduk dan persaingan tenaga kerja yang tinggi, tidak lagi merupakan sebuah problem bagi semua orang.

Gepeng yang telah dipindahkan ke daerah-daerah pedesaan atau bahkan dipulangkan ke desa asalnya, diberikan penyuluhuan dan pemahaman mengenai kontribusi dan motivasi usaha yang dapat dilakukan di desa.

“Sehingga pemikiran untuk tinggal dan bermukim di kota sebagai gelandangan, tidak lagi menjadi jalan satu-satunya dalam menenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” harapnya.

Sejumlah pendekatan model diatas, dapat dilakukan dalam upaya penanggulangan gelandangan dan pengemis, atau bahkan dengan menggabungkan beberapa metode tersebut. (muis)

Categories: Adikarya Parlemen,Politik