Transmigrasi Dalam Perspektif Kebutuhan Pembangunan Bangsa - El Jabar

Transmigrasi Dalam Perspektif Kebutuhan Pembangunan Bangsa

ADIKARYA PARLEMEN

 

BANDUNG, elJabar.com – Pemerintah berkomitmen menjalankan reforma agraria dan perhutanan sosial untuk memajukan Indonesia dari desa dan wilayah pinggiran.

Sektor transmigrasi menjadi salah satu sektor yang masuk ke dalam sasaran dari pelaksanaan reforma agraria dan perhutanan sosial. Transmigrasi memiliki nilai startegis dalam dua konteks. Pertama, tersediaanya tenaga kerja manusia yang produktif, dan kedua, tersedianya tanah atau lahan untuk dikembangkan oleh transmigran.

Kedua hal ini perlu terus dikaji dan dikembangkan dari sisi konsep, kebijakan dan prakteknya.  Perlu didorong tranformasi dalam paradigma dan strategi pelaksanaan transmigrasi secara mendasar.

Untuk ke depannya menurut Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jawa Barat, Ricky Kurniawan, transmigrasi bukan berarti memindahkan kemiskinan atau mengasingkan rakyat miskin dari pembangunan. Transmigrasi harus menjadi cara membangun produktivitas bersama rakyat dan pemerataan kesempatan berkembangnya ekonomi.

“Dengan demikian, dalam perspektif pembangunan bangsa, transmigrasi menjadi kegiatan penting bagi pembangunan manusia Indonesia secara keseluruhan,” ujar Ricky Kurniawan, kepada elJabar.com.

Secara teknis, kawasan transmigrasi harus diutamakan menjadi kawasan produktif dengan komoditas tanaman pangan unggulan. Hal ini penting untuk menjadi perhatian kementerian dan lembaga terkait, termasuk pemerintah daerah agar masuk dalam perencanaan pembangunan secara utuh.

Penanaman dan pengembangan tanaman utama ini, idealnya dilakukan secara bersama melalui koperasi petani atau badan usaha milik desa supaya lebih efektif.

Hasilnya pun dikumpulkan dan diolah, lalu dipasarkan oleh koperasi transmigran, sebagai petani atau produsen bahan pangan.

“Sehingga dengan demikian, hasil dari proses distribusinya pun dapat dinikmati dan digunakan untuk proses produksi berikutnya oleh petani, yang notabene anggota koperasi tersebut,” jealsnya.

Harus diingat, perencanaan dan realisasi persebaran penduduk yang mempunyai kualitas baik untuk pemerataan inovator pembangunan, perlu disiapkan secara matang juga oleh pemerintah daerah asal transmigran.

Sehingga paradigma transmigrasi baru tidak hanya memindahkan penduduk dari satu pulau ke luar pulau. Namun harus dengan tematik sesuai dengan kawasan yang akan dituju.

“Ini juga yang harus di pikirkan dan di persiapkan oleh Pemerintah Jawa Barat, saat mengirim para transmigran ke luar wilayah Jawa Barat,” tegasnya.

Transmigrasi tematik akan membawa pengetahuan dan ide-ide pembangunan sesuai dengan potensi alam daerah tujuan, memberikan gambaran potensi alam dari kawasan transmigrasi yang dapat dikembangkan.

Paradigma transmigrasi yang transformatif harus memberikan ruang dan peluang bagi transmigran, untuk memiliki pengetahuan dan kesadaran agar lebih produktif dan sejahtera secara bersama.

“Transmigrasi harus menjadi alternatif untuk pengembangan diri dan komunitas masyarakat yang ingin maju dan berkembang secara bersama,” jelas Ricky Kurniawan, yang juga merupakan Anggota Komisi 5 DPRD Jawa Barat.

Persiapan yang matang akan menentukan hasil dari kegiatan transmigrasi secara keseluruhan. Pendidikan dan pelatihan yang dilakukan harus menyertakan materi yang dapat melahirkan kesadaran sosia-budaya peserta, untuk dapat bersosialisasi dan beradaptasi dengan kondisi sosial-budaya di wilayah yang dituju.

“Sehingga proses peleburan budaya dapat berjalan dengan mulus, dengan mengutamakan toleransi dan kesadaran untuk hidup berbhineka tungal ika,” jelasnya.

Kesiapan masyarakat yang akan mengikuti trasmigrasi ini memang disiapkan secara khusus oleh kementerian dan lembaga terkait. Dimana persiapan ini dilakukan melalui dari proses rekruitmen, pendidikan dan pelatihan untuk membekali kecukupan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk pengembangan wilayah transmigrasi yang ditargetkan di suatu kawasan.

Namun dengan paradigma untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, Pemerintah Daerah selaku pengirim transmigran, juga harus punya tanggungjawab dalam membekali kemampuan, skill dan mental transmigran yang akan pergi keluar dari daerahnya.

“Dengan harapan, tentunya para transmigran ini bisa dengan cepat meraih kesuksesan, mendapatkan kesejahteraannya di daerah baru,” harapnya.

Pedekatan lain yang harusdiingat dalam tahap persiapan ini, menurut Ricky Kurniawan, selain persiapan teknis sosial-ekonomi adalah persiapan sosial-budaya bagi calon transmigran dan juga bagi komunitas masayarakat yang akan berdekatan dengan kawasan transmigrasi ini.

Persiapan social budaya ini terutama menyangkut pemahaman sosial-budaya dari para transmigran dan masyarakat sekitar di lokasi transmigrasi, agar tidak terjadi keterkejutan budaya antara “pendatang” dengan masyarakat setempat.

“Maka harus dikembangkan pendekatan sosiologis-antropologis dalam program transmigrasi, agar proses akulturasi budaya dapat berjalan dengan mengalir, lancar tanpa potensi ketegangan. Apalagi konflik sosial yang lebih tajam,” pungkasnya. (muis)

Categories: Adikarya Parlemen,Politik